Foto Ilustrasi, Ist 
Lampura (Pikiran Lampung) Harga isi ulang gas LPG (Liquified Petroleum Gas) 3 Kg (kilogram) di beberapa wilayah di Kabupaten Lampung Utara (Lampura), Provinsi Lampung melambung tinggi dan berpariasi dari harga eceran tertinggi (HET) yang ditentukan.

Sontak, hal inipun dikeluhkan para emak emak dan pedagang kecil yang sehari harinya mengandalkan Gas LPG 3 kg untuk kebutuhan memasak.

"Pemerintah tolong dong, lakukan pengecekan di lapangan. Kenapa harga Gas 3 kg, makin mahal hingga capai Rp 30.000,- di wilayahnya," keluh Nur (45) salah seorang warga Desa Gendot, Kecamatan Tanjungraja, kabupaten setempat kepada tim Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), Sabtu (25/01/2020), pada saat dikonfirmasi.

Masih kata dia, kenaikan harga itu sudah tidak wajar dan pemerintah perlu mengambil tindakan tegas bagi para pengecer yang seenaknya menjual gas elpiji bersubsidi.
"Padahal, pemerintah telah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) elpiji 3 kg 18.000 di Lampung," katanya.
Keluhan senada juga disampaikan Ani (34), seorang warga Gendot dimana dirinya seorang Ibu rumah tangga itu juga mendesak pemerintah untuk melakukan sidak dan menindak tegas pengecer nakal yang menaikan harga elpiji tersebut hingga meroket 30.000,-.

"Mereka mengambil keuntungan cukup besar dan ini sangat merugikan masyarakat dan juga pemerintah," kata dia.
Menurutnya, harga tabung gas isi 3 Kg yang dijual para pengecer sejauh ini dinilai memberatkan masyarakat, khususnya warga yang kurang mampu seperti dirinya.

"Bagaimana rakyat miskin mau maju, kalau harga LPGpun meroket. Yang ada malah susah mas," terang Ani dengan wajah yang begitu kecewa soal harga yang meroket. (smsi/ardi/suhaimi)

Post A Comment: