lisensi

Rabu, 06 Agustus 2025, Agustus 06, 2025 WIB
Last Updated 2025-08-06T16:45:52Z
Budayatari Ngege; terkesan Dilecehkan

Walikota Balam Diduga Ciderai Norma dan Etika Suku Lampung Lewat Gelaran Tari Ngigel

Advertisement



Bandarlampung (Pikiran Lampung)- Pasca digelarnya festival kebudayaan oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung berupa parade tari Ngigel baru-baru ini menyisakan kritik dan kekecewaan sejumlah tokoh adat Lampung. 

Pasalnya tarian yang mengandung filosofi yang mendalam tidak dapat dimodifikasi dalam bentuk apapun, apa lagi terkesan disamakan dengan 'goyang orgen tunggal'. Karena dapat merusak makna kearifan lokal yang selama ini dijaga para pemangku adat.


Hal ini dikatakan Ichwan, seorang aktifis yang juga pemerhati Buadaya Lampung, kepada Pikiran Lampung, Rabu (6/8/2025). 



"Sebagai penulis yang notabenenya bukan suku Lampung, saya menyimak beberapa sumber pustaka yang menyebutkan tari Ngigel adalah seni menari yang berasal dari daerah Lampung pepadun. Tari tersebut dimainkan seluruhnya oleh kaum pria, biasanya 2 orang bahkan lebih.,"jelasnya. 


Makna dari tari Ngigel, lanjut Icwan,  sebagai ungkapan kegembiraan yang kerap dianggap sebagai ekspresi kejantanan laki-laki suku Lampung yang muncul pada acara perkumpulan adat.


Tampil dengan gerakan yang tidak teratur namun memiliki ciri khas gerakan mengangkat tangan setinggi-tingginya seolah memuncak. 


Ada pula tari Ngigel dibawakan perempuan suku lampung, namun dilakukan bersama sesama perempuan, bahkan ada larangan wanita Ngigel berbaur dengan laki-laki. Lebih sakralnya lagi bagi wanita bersuami tidak diperkenankan untuk melakukan tarian.


"Pada titik ini saya terkagum, ternyata meski dalam situasi euforia sekali pun, suku Lampung senantiasa menjunjung tinggi kehormatan wanita.


Berbanding terbalik pada puncak peringatan HUT ke-343 Kota Bandar Lampung berupa Karnaval  Pawai Budaya Tari Ngigel di Bundaran Tugu Adipura, pada Minggu 3 Agustus 2025 lalu alih-alih memperkenalkan dan melestarikan tarian klasik Lampung, namun justru menciderai norma, etika dan nilai budaya,"jelasnya dengan raut wajah kecewa. 


Pasalnya sejumlah peserta tari Ngigel baik pria dan wanita lajang maupun bersuami dengan pakaian adat Lampung menari bercampur bersama.

Menurut Ichwan, hal seperti ini jangan sampai terjadi lagi di masa yang akan datang. " Dan untuk mengobati kekecewaan warga Lampung, sudah selayaknya, walikota dan seluruh yang terlibat di acara tersebut meminta maaf kepada warga asli Suku Lampung,"pungkasnya. (Dinal Jabung)