Tanggamus (Pikiran Lampung) - Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanggamus menahan dan menetapkan dua Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) menjadi tersangka atas dugaan pemotongan dana operasional Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) pada Pemilu Tahun 2019 lalu, Rabu (12/08/20) Sore.


Kasi Intel Kejari M. Riska Saputra, dalam keterangannya mewakili Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Tanggamus David P. Duarsa mengatakan kedua tersangka bernama Belly Afriansyah yang meupakan Ketua PPK Kecamatan Gunung Alip dan Rustam Ketua PPK Kecamatan Limau. "Untuk kedua tersangka dilakukan penahanan sejak hari ini, Rabu 12 Agustus hingga 31 Agustus 2020,” ujar Putra panggilan akrab Kasi Intel.


Lanjutnya, adapun dasar penahanan terhadap tersangka yaitu cukup dua alat bukti dan keterangan saksi-saksi yang dapat diajukan persidangan dan secepat mungkin akan kita limpahkan kepengadilan untuk dilakukan proses persidangan.


Untuk jumlah pemotongan oleh tersangka Belly di KPPS Kecamatan Gunung Alip melakukan pemotongan sebesar Rp.764.000/KPPS, sehingga uang yang diterima oleh Ketua Panitia Pemungutan Suara (PPS)di Kecamatan Gunung Alip hanya sebesar Rp.2.065.000,/KPPS dari yang seharusnya Rp.2.829.000,/KPPS.


"KPPS yang ada di Kecamatan Gunung Alip berjumlah 63 dikalikan Rp.764.000, jd jumlah dana dalam penguasaan Belly Rp.48.132.000. Kemudian dikurangi  pembelian triplek dan pembuatan SPJ Rp.12.247.200, sehingga total Dana Operasional KPPS yang dalam penguasaan Belly sebesar Rp.35.884.800. Selanjutnya dalam bulan Mei 2019, Belly meminta dana kepada par Ketua PPK masing-masing Kecamatan Rp.5.000.000, sehingga terkumpul dana Rp.95.000.000, (Kecuali PPK Wonosobo) dimana dana tersebut akan digunakan untuk menyelesaikan kasus KPU yang sedang mencuat di Media, namun dn tersebut dipergunakan oleh Belly untuk kepentingan pribadi," ungkap Putra.


Jumlah pemotongan yang dilakukan oleh Rustam, yaitu Rp.1.129.000/KPPS di 23 KPPS, sehingga uang yang diterima masing-masing KPPS Rp.1.700.000, dan uang dalam penguasaan Rustam dari 23 KPPS Rp.25.967.000, dan pemotongan di 49 KPPS Rp.1.329.000,/KPPS, sehingga uang uang yang didapat Rustam dari 49 KPPS Rp.65.121.000, dan jumah uang yang dikuasai Rustam dari 72 KPPS Rp.91.088.000, dikurangi untuk pembelian triplek dan biaya SPJ Rp.11.156.200, jadi total uang Dana Operasional KPPS dalam penguasaan Rustam Rp.79.931.800,


“Kerugian yang dilakukan oleh kedua tersangka tersebut berdasarkan perhitungan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Lampung," jelas Putra.


Terhadap kedua tersangka dipersangkakan Pasal 2 dan 3 UU Tipikor Nomor 31 Tahun 1999 dengan ancaman maksimal 20 tahun penjara. Dan sebelum ditahan kedua tersangka telah di Rapid Test oleh Dinas Kesehatan dan RSUD Tanggamus dengan hasil Non Reaktif.


"Untuk saat ini hasil penghitungan kerugian negara yang baru keluar dari BPKP yakni PPK Kecamatan Gunung Alip dan Limau, jadi untuk sementara Kejari Tanggamus baru menetapkan dua tersangka. Selanjutnya kita akan tetap terus mendalami keterlibatan yang lain menunggu hasil penghitungan dari BPKP," pungkas Putra. (Ady)



Bandarlampung (Pikiran Lampung). Warga Lampung kembali dikejutkan dengan adanya paramedis yang terpapar virus Corona.

Mereka bahkan pasangan suami istri, yang merupakan spesialis dokter kandungan. Dan bertugas di salah satu rumah sakit di Kabupaten Lampung Selatan. Pasangan dokter ini positif terpapar Coronavirus Desease 2019 atau Covid-19

Sebelumnya, beredar di beberapa status WhatsApp bahwa Dokter spesialis kandungan dr. MS, Sp.OG, dan istrinya dr. FO, Sp.OG terpapar Covid-19

Juru bicara gugus tugas penanganan Covid-19 Provinsi Lampung, Reihana membenarkan, bahwa spesialis kandungan itu terpapar Covid-19, diketahui sepasang suami istri ini terkonfirmasi positif covid 19 sudah beberapa hari yang lalu

"Memang betul ternyata ada dokter kandungan yang positif Covid-19. Dengan riwayat perjalanan dari Palembang," kata Reihana di posko satgas terpadu Covid-19 Provinsi Lampung, Rabu (12/08/2020)

Reihana mengatakan, bahwa semua orang yang berhubungan dengan Dr F dan Dr S sudah dilakukan tracking.

 "Semua yang berhubungan dengan dokter sudah di tracking. Namun ada satu lagi yang positif covid-19, yakni baby sister di rumahnya sendiri," jelasnya

Tidak ada yang terpapar dari hasil tracing tersebut, kecuali baby sisternya saja, Sedangkan bayi dari keduanya sehat dan tidak terkonfirmasi positif covid 19

"Saat ini ketiganya sedang melakukan isolasi mandiri di rumah, karena tidak ada gejala  atau keluhan jadi mereka isolasi diri sendiri," kata Reihana

"Kenapa ia tidak di isolasi di RS rujukan Covid-19. Reihana menerangkan, bahwa di rumah yang bersangkutan ada paviliun sendiri

"Ada paviliun di rumah,jadi isolasi sendri saja di rumahnya," tukasnya (Sandi)