lisensi

Minggu, 14 September 2025, September 14, 2025 WIB
Last Updated 2025-09-14T11:32:10Z
Alat Pengering Hybrd Emping MelinjoPendidikanUniversitas Malahayati

Alat Pengering Hibrid Dosen Unmal Siap Dukung Kemajuan UMKM Emping Melinjo di Desa Bernung Pesawaran

Advertisement

Bandar Lampung (Pikiran Lampung) - UMKM atau usaha mikro, kecil, dan menengah berperan untuk membantu meningkatkan kegiatan ekonomi di Indonesia dan daerah. UMKM dapat menyerap banyak tenaga kerja sehingga terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, UMKM perlu didorong untuk berkembang dan maju, dengan cara membantu UMKM di dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Membantu UMKM di dalam menjalankan usahanya sehingga berkembang dan maju, sama juga artinya membantu tugas negara di dalam memajukan kesejahteraan umum.


Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Malahayati (Unmal) yang diketuai oleh Kemas Muhammad Abdul Fattah, S.T, M.T., melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiksaintek) Republik Indonesia, mengambil peran untuk mendukung kemajuan UMKM, khususnya UMKM emping melinjo milik ibu Yuni Purwanti yang menjadi mitra PKM, berlokasi desa Bernung Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung.


Di dalam memproduksi emping melinjo, ibu Yuni Purwanti mempekerjakan 23 orang, 5 orang diantaranya bekerja di rumah mitra dan sisanya bekerja di rumah masing-masing. Pekerja yang membantu UMKM tidak hanya berasal dari lingkungan sekitar, bahkan ada yang di luar desa. Upah pekerja dihitung dari berat biji melinjo yang dikerjakan bukan dari emping melinjo yang dihasilkan, yaitu sebesar Rp. 6.000 per kg. Setiap pekerja mampu mengolah 3 - 5 kg biji melinjo sehari, sehingga upah yang diterima Rp. 18.000 s/d Rp. 30.000 sehari.


Menurut penuturan ibu Yuni, UMKM miliknya terkendala pada sisi suplai, peningkatan permintaan emping melinjo tidak dapat diimbangi dengan kapasitas produksi. Kapasitas produksi sangat tergantung pada proses pengeringan, dimana pengeringan emping melinjo dilakukan dengan cara dijemur langsung. Selain dengan cara ini akan sangat tergantung pada musim, juga emping melinjo mudah sekali terkontaminasi mikroba, sehingga tidak higienis. Kondisi emping melinjo yang tidak higienis dapat menjadi salah satu faktor penyebab omzet penjualan tidak dapat ditingkatkan. Sehingga proses pengeringan harus diperbaiki untuk mendapatkan proses pengeringan yang lebih cepat dan emping melinjo yang higienis. 


Tim PKM Unmal hadir dengan mengimplementasikan teknologi berupa alat pengering hibrid, di mana menggunakan energi panas matahari sebagai sumber utama energi dan dilengkapi dengan burner (kompor bertekanan) berbahan bakar gas LPG sebagai sumber energi cadangan, sehingga alat masih bisa digunakan ketika cuaca mendung, hujan, atau pada malam hari.


Teknologi berupa alat pengering hibrid ini merupakan pengembangan dari alat pengering yang telah diimplementasi juga pada UMKM emping melinjo pada tahun 2022 yang lalu. Selain itu, alat pengering tersebut diikutkan pada Lomba Inovasi Provinsi Lampung tahun 2023, dan mendapatkan penghargaan sebagai juara Harapan I. Secara umum alat pengering ini serupa dengan alat pengering yang pernah dibuat sebelumnya, namun dilakukan modifikasi untuk meningkatkan kinerja alat pengering ini.


Alat pengering ini konstruksinya knock down dengan material transparan kaca bening 5 mm, pintu dibuat model vertikal (vertical lift door) untuk meminimalkan heat loss, dinding alat pengering diisolasi dengan glasswool dan dilengkapi dengan turbin ventilator untuk sirkulasi udara yang lebih baik, dilengkapi dengan burner (kompor bertekanan) berbahan bakar gas LPG sebagai sumber energi cadangan sehingga alat masih bisa digunakan ketika cuaca mendung, hujan, atau pada malam hari.


Alat pengering hibrid sudah 100 % berfungsi dan telah dilakukan uji coba dengan hasil sangat memuaskan. Menurut penuturan bu Yuni selaku pemilik UMKM, dengan adanya alat pengering hibrid ini, proses pengeringan sangat cepat, bahkan pengeringan bisa dilakukan sebanyak 3 kali, di mana setiap kali pengeringan bisa dengan kapasitas 15 kg. Tidak hanya itu, menurut ibu Yuni, warna emping menjadi lebih cerah dan warna ini sangat disukai konsumen.


Setelah beroperasinya alat pengering ini, tentu kepasitas suplai UMKM emping melinjo akan meningkat signifikan. Dengan adanya peningkatan kapasitas ini, UMKM perlu menambah modal, khususnya modal untuk membeli bahan baku dan menambah alat bantu produksi. Ibu Yuni selaku pemilik mengharapkan dengan adanya pendampingan dari dosen dan mahasiswa, mampu mengakses pinjaman dari lembaga perbankan, khususnya perbankan syari’ah. 


Harapan ibu Yuni ini akan direspon pada tahapan berikutnya pada kegiatan PKM ini, setelah tahapan sebelumnya berupa implementasi alat pengering hibrid beroperasi, tahapan berikutnya adalah pendampingan UMKM sehingga mampu mengakses pinjaman untuk modal kerja seperti harapan ibu Yuni, khususnya pinjaman dari perbankan syariah.(Red)