Advertisement
Bandarlampung (Pikiran Lampung)-Terlepas dari harga singkong yang belum menguntungkan petani, kini Provinsi Lampung dipimpin Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan didukung kuat oleh Sekdaprov Marindo Kurniawan terus bangkit.
Kini dengan segala raihan pretasi yang berhasil ditorehkan Gubernur Mirza yang didukung oleh Sekdaprov Marindo Kurnawan, Provinsi Lampung telah menjadi 'pusat gravitasi' kemajuan ekonomi dan pembangunan di Pulau Sumatera serta Indonesia secara umum.
Dari data yang ada, hal ini bisa dilihat dari anggaran serta keuangan Pemprov Lampung yang terealiasasi sangat baik.
Dimana, Pada bulan Mei 2025, Provinsi Lampung menunjukkan prestasi di bidang keuangan.
Dengan mencapai realisasi pendapatan APBD tertinggi dalam lima tahun terakhir, yaitu Rp2,25 triliun atau 30,23% hingga 10 Mei 2025, serta mempertahankan WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) untuk pengelolaan keuangannya.
Selain itu, APBN juga menunjukkan kinerja yang baik, dengan defisit anggaran yang menyempit pada akhir April 2025 hingga awal bulan September 2025 ini.
Dimana, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (Kpw BI) Lampung
menyebutkan secara bulanan deflasi di daerah ini pada Agustus 2025 sebesar 1,47
persen (month to month/mtm) terjadi akibat penurunan harga komoditas dan biaya
sekolah.
"Dilihat dari sumbernya, deflasi pada Agustus 2025
utamanya disebabkan oleh penurunan harga komoditas, kelompok pendidikan, serta
makanan, minuman dan tembakau," kata Kepala Kpw BI Lampung, Bimo Epyanto,
dalam keterangannya, baru -baru ini.
Ia menyebutkan andil deflasi masing-masing komoditas antara
lain uang sekolah SMA 0,84 persen; uang sekolah SMP 0,39 persen; tomat 0,14
persen; cabai rawit 0,07 persen dan bawang putih 0,06 persen (mtm).
Ia menyebutkan, penurunan biaya sekolah menengah dipicu oleh
implementasi kebijakan penghapusan pungutan komite sekolah pada SMA, SMK, dan
SLB negeri yang digantikan oleh dukungan pendanaan operasional melalui APBD
mulai tahun ajaran 2025/2026.
Sementara itu, lanjutnya, turunnya harga tomat dan cabai
rawit sejalan dengan meningkatnya pasokan pada periode panen, sedangkan
penurunan harga bawang putih ditopang oleh kelancaran pasokan pasca realisasi
impor yang menjaga stabilitas distribusi di pasar domestik.
Lebih lanjut, Bimo mengatakan deflasi yang lebih dalam pada
Agustus 2025 tertahan oleh sejumlah komoditas yang mengalami inflasi, utamanya
bawang merah dan beras dengan andil masing-masing sebesar 0,14 persen dan 0,05
persen (mtm).
Peningkatan harga kedua komoditas tersebut terutama
dipengaruhi oleh menurunnya pasokan seiring berakhirnya periode panen.
Secara tahunan, Indeks Harga Konsumen (IHK) di Provinsi
Lampung pada Agustus 2025 mengalami inflasi sebesar 1,05 persen (yoy), lebih
rendah dibandingkan inflasi pada bulan sebelumnya yang sebesar 2,63 persen
(yoy) dan inflasi nasional yang sebesar 2,31 persen (yoy).
Demikian juga di bidang infrastuktur, seperti jalan dan jembatan serta fasilitas lainnya.
Dimana, Pemerintah Provinsi Lampung terus berupaya meningkatkan infrastruktur jalan dengan fokus pada rekonstruksi, rehabilitasi, dan pemeliharaan rutin di berbagai kabupaten sebagai bagian dari program percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Program ini melibatkan berbagai titik prioritas, termasuk ruas jalan di Tanggamus, Pesawaran dan Lampung Tengah, Lampung Timur, serta strategi kolaborasi dengan sektor swasta dan anggaran dari APBN untuk mendukung pembangunan jalan yang lebih baik dan terintegrasi.
Salah satunya adalah jalan provinsi yang menghubungkan Umbar–Putih Doh di Kabupaten Tanggamus, Lampung, kini mulus setelah bertahun-tahun dikeluhkan warga.
Proyek perbaikan yang ditangani Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi
(BMBK) Provinsi Lampung itu resmi selesai di tahun anggaran 2025 ini. Kepastian
tersebut ditandai dengan serah terima pertama atau Provisional Hand Over (PHO),
Rabu (21/8/2025).
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dinas BMBK Lampung, Saswito
Wibowo, mengatakan ruas sepanjang empat kilometer itu dikerjakan dalam dua
segmen.
“Sekitar 3,75 kilometer diaspal, sedangkan 250 meter sisanya
menggunakan konstruksi rigit beton,” ujar Saswito, yang akrab disapa Mas Bowo.
Menurut Bowo, jalan ini bukan sekadar akses transportasi
biasa. Jalur Umbar–Putih Doh kerap dilalui petani untuk mengangkut hasil kebun,
sekaligus menjadi jalur wisata karena menawarkan pemandangan alam khas
Tanggamus.
“Selain memperlancar pertanian, panorama pemandangan di
jalur ini sangat indah. Karena itu kami berharap masyarakat ikut menjaga jalan
yang sudah dibangun,” katanya.
Sebelum diperbaiki, kondisi ruas tersebut sempat
memprihatinkan. Lubang besar dan badan jalan yang bergelombang membuat
kendaraan sulit melintas, terutama saat musim hujan. Keluhan warga pun mengalir
hampir setiap tahun.
Terbaru, kini Provinsi Lampung semakin jadi pusat perhatian nasional dengan hadirnya ikon baru, yakni Masjid Raya Al Bakrie di pusat Kota Bandarlampung. Dimana, masjid ini akan dijadikan pusat kegiatan keagamaan dan dakwah Islam di Lampung. Yang juga untuk pertumbuhan sektor pariwisata serta UMKM.
Data baru juga menyebutkan jika harga pangan di Lampung pada bulan September 2025 ini menjadi yang paling stabil di Indonesia.
Provinsi Lampung dan Papua Pegunungan menjadi yang paling stabil harga pangannya se Indonesia. Hal ini terungkap saat Sekdaprov Lampung Marindo Kurniawan mengikuti rapat ekonomi dengan pemerintah pusat melalui zoom beberapa hari lalu.
Lampung kini jadi pusat gravitasi kemajuan ekonomi di Sumatera dan Indonesia di era Gubernur Mirza dan Sekdaprov Marindo, semakin diperkuat dengan ekspor bubuk kopi ke negara Hongkong kemarin. Dimana, Lampung kini bukan lagi sebagai pengekspor biji kopi tapi bubuk kopi 7 ton berhasil belajar ke Hongkong.
Banyaknya kemajuan dan prestas yang ditorehkan Gubernur Mirza untuk provinsi Lampung semakin memperkuat posisi Lampung sebagai barometer pembangunan dan kemajuan ekonomi di kawasan reguional Sumatera serta Indonesia bagian barat secara umum. (Wawan Nunyai)