lisensi

Sabtu, 04 Oktober 2025, Oktober 04, 2025 WIB
Last Updated 2025-10-04T11:15:59Z
NasionalPondok Pesantren Al KhozinySidoarjo

Kesaksian Santri Ikut Pengecoran Ponpes Al Khoziny – 'Seandainya Masih di Atas Bangunan, Tentu Ikut Jatuh'

Advertisement



Jawa Timur (Pikiran Lampung) - Beberapa santri yang tidak memiliki pengetahuan tentang konstruksi bangunan mengaku dilibatkan dalam proses pengecoran salah satu bangunan di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, yang runtuh pada Senin (29/09/25) sore.


Ahmad Zabidi mengatakan anaknya yang belajar di pesantren Al Khoziny selamat karena tengah beristirahat di kamarnya setelah ikut kerja bakti pengecoran bangunan musala. "Seandainya dia masih ada di atas bangunan ya tentunya ikut jatuh bersama dengan material yang ambruk itu," tutur Zabidi ketika ditemui di seputaran lokasi pesantren, Jumat (03/10).


Pakar teknis sipil struktur menyebut bahwa pembangunan musala di Ponpes Al Khoziny tak terencana dan tidak sesuai kaidah teknis.Pemerintah pun berjanji untuk membuat aturan khusus tentang pembangunan pesantren. Namun rencana itu, menurut pengamat pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia, Itje Chodidjah seperti "tambal sulam".


"Kenapa pemerintah baru akan berjanji membuat regulasi? Regulasi-regulasi pembangunan kan sudah ada di dalam aturan. Nah, ini kan kita jadi seperti tambal sulam kalau ada kecelakaan baru kita repot," kata Itje.


Data pada Jumat (03/10) malam pukul 23.05 WIB, jumlah korban terdampak mencapai 167 orang. Sebanyak 118 orang telah ditemukan, dan 14 orang dinyatakan meninggal dunia.


Kesaksian santri ikut pengecoran ponpes

Dua anak dari Ahmad Zabidi belajar di Ponpes Al Khoziny. Anak pertamanya telah menjadi santri di pondok itu sekitar lima tahun, sedangkan anak keduanya dari tahun lalu. Kedua anak Zabidi selamat dari peristiwa maut runtuhnya bangunan musala ponpes itu.Warga Surabaya ini bilang pembangunan lantai empat musala telah berlangsung sekitar sembilan bulan.


Dalam proses itu, menurutnya, sejumlah santri kerap dilibatkan dalam pembangunan, salah satunya adalah anaknya. "Semua santri itu cuma bantu-bantu, santri itu katakanlah bukan jadi tukangnya," kata pria usia 49 tahun itu ketika ditemui di seputaran lokasi pesantren, Jumat (03/10).


Saat musala runtuh, dia bilang anaknya sedang beristirahat melepas lelah di kamar asramanya seusai ikut kerja bakti mengecor lantai empat. "Seandainya dia masih ada di atas bangunan ya tentunya ikut jatuh bersama dengan material yang ambruk itu," tutur Zabidi.


Zabidi mengaku anaknya sering membantu kegiatan pengecoran dan telah menjadi kebiasaan bagi santri untuk diperbantukan melaksanakan tugas ponpes, termasuk pembangunan. "Karena semua santri insya Allah kepingin dilibatkan, karena membantu proses pembangunan di pondok itu adalah sebuah kebanggaan. Bangga setidaknya ada sedikit memberikan sumbangsih untuk pembangunan pondok," katanya.


Zabidi pun bilang santri bekerja bersama tukang bangunan yang profesional. "Yang kasih rekomendasi ya tukang-tukangnya itu. Santri tahu apa? Santri cuma kulinya, cuma ikut usung-usung [angkat-angkat] material cor," kilahnya.


Saat peristiwa itu, anak kedua Zabidi sedang ikut salat Asar bersama ratusan santri lain di bangunan musala. Zabidi bilang anaknya berada di musala lama, yang letaknya berdekatan dengan musala baru yang ambruk. Dia bilang anaknya sempat merasakan getaran kuat saat salat, sebelum bangunan runtuh.


Ketika bangunan musala baru itu mulai runtuh, ada yang spontan menghentikan salat, ada yang tetap melanjutkan ibadah.Anak Zabidi sempat menolong lima temannya yang tertimpa runtuhan bangunan. "'Maaf ya teman-teman, aku sudah tidak bisa menolong yang lain. Aku takut ada yang roboh lagi'," papar Zabidi menirukan ucapan anak keduanya itu.


Selain anak Zabidi, santri lain juga mengaku turun membantu proses pengecoran, yang didampingi oleh tukang. Santri itu bilang membantu pengecoran bangunan adalah salah satu hukuman bagi mereka yang tidak mengikuti kegiatan ponpes. Selama enam tahun belajar di sana, dia bilang hukuman membantu pengecoran telah menjadi tradisi.


Muhammad Sukron, 46 tahun, orang tua santri Al Khoziny asal Kabupaten Sampang mengatakan bahwa sebelum kejadian sudah mendengar dari anaknya bahwa ada pengecoran lantai musala di Ponpes Al Khoziny.


Dia bilang para santri terutama yang senior dilibatkan dalam pengecoran tersebut. Ia juga sempat mengingatkan anaknya untuk hati-hati apabila kebagian untuk membantu pengecoran musala. "Tapi pada waktu, [anak saya] itu menjawab, karena saya masih Diniyah, masih santri baru tidak punya tugas untuk membantu ngecor, yang senior-senior [yang dapat tugas]," kata Sukron.


Sejak masuk pondok pada Juni lalu, anaknya memang sering menginformasikan bahwa sebagian santri di ponpes itu tengah sibuk membantu pembangunan musala.


Sementara itu, keluarga dari Muhfi Aldian, santri yang tewas akibat peristiwa maut itu, mempertanyakan mengapa masih ada aktivitas di bawah musala yang tengah dibangun itu. "Ketika ada aktivitas renovasi atau pembangunan, pertanyaan kami sebagai keluarga, kenapa ada aktivitas santri yang di bawah? Sementara yang di atas masih dilakukan pembangunan," kata bibi korban, Hamida Soetadji.


"Jangankan proses, dalam proses pengecoran itu kan harus ada pengeringan. Pengeringan pun itu kan tidak boleh di bawahnya [ada aktivitas], itu yang kami sesali, jadi keluarga menyesali itu," ujarnya.


Hamidi juga menyebut keterlibatan santri dalam proses pembangunan itu memang biasa terjadi. "Tapi konstruksinya memang harus benar, jadi santri itu kan hanya membantu saja, mungkin mengangkat bahan cor, tapi untuk konstruksinya memang harus dihitung detil-detil, sangat detil, tapi ini saya enggak tahu ya, yang terjadi itu seperti apa," tambahnya.


Sebelumnya, pengasuh Ponpes Al Khoziny Buduran Abdus Salam Mujib sempat diwawancara oleh media. Abdus menyebut bangunan itu sedang dalam tahap pengecoran terakhir. "Ini pengecoran yang terakhir saja, itu jebol. Ya, hanya itu. [Proses pembangunan] sudah lama, sudah sembilan bulan. Kurang lebih sembilan sampai 10 bulan," ujarnya.


Abdus menerangkan bahwa bangunan tersebut memiliki tiga lantai, dengan tambahan satu dek di bagian paling atas. Proses pengecoran dilakukan tepat di area dek yang berada di puncak bangunan itu. "Mungkin sudah selesai atau bagaimana, enggak tahu. Soalnya ngecor mulai dari pagi. Saya kira ngecornya mungkin hanya empat jam, lima jam selesai. Mungkin jam 12 sudah selesai," kata Abdus.


Dugaan tak adanya izin mendirikan bangunan (IMB) dari musala itu pun mencuat. Hal itu diungkap oleh Bupati Sidoarjo, Subandi saat meninjau lokasi. "Ini saya tanyakan izin-izinnya mana, tetapi ternyata enggak ada, ngecor lantai tiga, karena konstruksi tidak standar, jadi akhirnya roboh," ujar Subandi, Rabu (01/10).


Dia bilang pembangunan tanpa IMB seharusnya tidak boleh dilaksanakan karena pengerjaan konstruksinya akan tak sesuai standar dan beresiko. "Nanti akan kita sosialisasikan kembali, kalau ada pembangunan yang tidak dilengkapi izin, akan kita berhentikan dahulu, kita tidak ingin musibah ini terulang kembali," katanya.(*)