Advertisement
Jakarta (Pikiran Lampung) - Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur resmi mendapatkan gelar pahlawan nasional dari Presiden Prabowo Subianto pada Senin (10/11/2025) hari ini. Prosesi digelar bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional pada hari ini.
Pemberian gelar ini dilakukan Prabowo kepada ahli waris Gus Dur, yaitu Sinta Nuriyah (istri Gus Dur), di Istana Negara, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat. Sekretaris Militer Presiden menyatakan penetapan pahlawan nasional ini berdasarkan Keppres No 116/TK Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.
Gus Dur menjabat sebagai Presiden ke-4 RI usai terpilih melalui mekanisme pemilihan di MPR pada 1999 sampai dimakzulkan pada Juli 2001 silam. Selain menjabat sebagai presiden, Gus Dur merupakan kyai pentolan Nahdlatul Ulama. Gus Dur merupakan cucu pendiri NU KH Hasyim Asyari dan anak dari Wahid Hasyim. Gus Dur juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum PBNU.
Sejak kecil, Gus Dur tumbuh di lingkungan yang sarat dengan tradisi pesantren dan nilai-nilai Islam moderat. Pergaulannya yang luas dengan para tokoh politik dan ulama sejak ayahnya menjabat sebagai menteri membuatnya terbiasa dengan diskusi sosial dan keagamaan sejak usia muda.
Perjalanan hidup Gus Dur tidak selalu mudah. Kecelakaan tragis yang menewaskan ayahnya pada 1953 menjadi titik awal kedewasaannya dalam memaknai tanggung jawab dan kehidupan publik.
Pendidikan Gus Dur mencerminkan perpaduan antara dunia pesantren dan modernitas. Setelah menempuh pendidikan dasar, ia melanjutkan ke SMEP Yogyakarta, sekolah Katolik yang justru membuka wawasannya terhadap pluralisme dan toleransi.
Di sela sekolah, Gus Dur aktif mengaji di Pesantren Krapyak dan berdiskusi dengan para tokoh Muhammadiyah. Dari situ pula kecintaannya pada ilmu, filsafat, dan humor tumbuh. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Pesantren Tegalrejo dan Tambak Beras, tempat ia mulai dikenal sebagai santri yang cerdas, kritis, dan nyentrik.
Pada usia 22 tahun, Gus Dur menunaikan ibadah haji dan kemudian menempuh studi di Universitas Al-Azhar, Kairo. Namun sistem pendidikan yang tak sesuai ekspektasi membuatnya melanjutkan perjalanan akademik ke Baghdad dan sempat singgah di Belanda serta Kanada.
Di sana, Gus Dur menyerap beragam pemikiran dunia, mulai dari teologi hingga sosialisme. Ia bekerja serabutan untuk bertahan hidup, namun tetap aktif berdiskusi dan membaca karya-karya pemikir dunia seperti Karl Marx, Plato, hingga Imam Al-Ghazali
Gus Dur dijuluki sebagai bapak pluralisme Indonesia. Salah satunya karena kebijakannya bagi etnis Tionghoa.Saat menjabat sebagai presiden, Gus Dur mencabut Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967 pada era Presiden Soeharto yang melarang perayaan Imlek.
Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur disambut suka cita dan rasa bangga oleh keluarga besar di Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Tak hanya Tebuireng, sejumlah pondok pesantren lain di Jombang juga serentak menggelar sujud syukur dan doa bersama atas penghargaan tertinggi dari negara tersebut.(*)