Advertisement
Yogyakarta (Pikiran Lampung) – Mengisi libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), tim media Pikiran Lampung mengunjungi Museum Wahanarata atau Museum Kereta Keraton Yogyakarta pada Rabu (24/12/2025). Museum yang berada di kawasan Keraton Yogyakarta ini menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Sejak pagi hari, arus pengunjung tampak silih berganti memasuki area museum. Para wisatawan terlihat antusias mengamati deretan kereta kencana bersejarah milik Kesultanan Yogyakarta yang tersimpan rapi dan terawat. Momen libur Nataru dimanfaatkan pengunjung tidak hanya untuk berwisata, tetapi juga menambah wawasan sejarah dan budaya.
Untuk memasuki Museum Wahanarata, pengunjung dikenakan tiket masuk berkisar Rp15.000 hingga Rp20.000 untuk wisatawan domestik. Sementara wisatawan mancanegara umumnya dikenakan tarif yang sedikit lebih tinggi. Harga tiket tersebut dinilai terjangkau dan sebanding dengan nilai edukasi yang diperoleh.
Kepala Museum Wahanarata, RM Pradiptya Abikusno, menjelaskan bahwa museum ini menyimpan sekitar 23 koleksi kereta kencana peninggalan Keraton Yogyakarta. Kereta-kereta tersebut berasal dari berbagai masa pemerintahan Sultan, mulai dari abad ke-18 hingga abad ke-20, dengan fungsi yang berbeda-beda.
“Setiap kereta memiliki nama, fungsi, dan makna simbolis. Ada yang digunakan untuk penobatan sultan, kirab Grebeg, hingga penyambutan tamu kehormatan kerajaan,” ujar RM Pradiptya Abikusno kepada tim Pikiran Lampung.
Ia juga mengungkapkan bahwa selama masa libur Nataru, jumlah kunjungan ke Museum Wahanarata mengalami peningkatan signifikan. “Rata-rata kunjungan mencapai 300 hingga 500 orang per hari, dan pada puncak libur bisa lebih dari itu, terutama wisatawan keluarga dan rombongan pelajar,” jelasnya.
Menurutnya, Museum Wahanarata didirikan sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya Keraton Yogyakarta agar nilai sejarahnya tetap terjaga dan dapat dipelajari oleh generasi muda. Pihak pengelola terus berupaya meningkatkan pelayanan dan kenyamanan pengunjung tanpa mengurangi nilai sakral koleksi yang ada.
Salah seorang pengunjung asal Jawa Tengah mengaku sengaja datang ke Museum Kereta Keraton saat libur Nataru karena ingin memberikan pengalaman edukatif kepada anak-anaknya. “Anak-anak jadi tahu bahwa kereta-kereta ini punya peran penting dalam sejarah Keraton, bukan sekadar pajangan,” ujarnya.
Meningkatnya jumlah kunjungan ke Museum Wahanarata selama libur Nataru ini menjadi indikasi bahwa wisata sejarah dan budaya masih menjadi pilihan favorit masyarakat. Selain berfungsi sebagai destinasi wisata, museum ini juga berperan penting sebagai pusat edukasi dan pelestarian warisan budaya bangsa.(Madi)



