Advertisement
Pikiran Lampung - Dari perspektif kehidupan sehari-hari dan dinamika sosial masyarakat pribumi Batavia pada pertengahan abad ke-20, apa yang disebut "Inlands Nieuwjaar" oleh kaum kolonial Belanda pada dasarnya adalah perayaan Lebaran yang menjadi tonggak penting dalam ritme tahunan masyarakat muslim di sana.
Bulan Ramadan menjadi masa persiapan yang mendalam bagi seluruh lapisan masyarakat. Selama empat puluh hari, aktivitas sehari-hari berubah pola: siang hari diisi dengan ibadah puasa, dan kegelapan malam menjadi waktu untuk berkumpul. Saat suara bedoek berkumandang menjelang Maghrib, sinyal itu bukan hanya untuk berbuka puasa, melainkan juga momen dimana anak-anak berhenti bermain dan kembali ke rumah, pedagang mulai berjualan dengan suara seru, dan kampung menjadi pusat kegembiraan bersama, seperti yang dilansir nationalgeographic.grid.id.
Di tengah suasana ramai itu, warga saling berinteraksi dengan hangat: pria-pria berbincang santai sambil bersendawa setelah makan, wanita-wanita sibuk memberi makan anak-anak, dan pemuda menghibur diri dengan petasan serta irama bedoek yang bergema. Meskipun beberapa kalangan Eropa mengeluhkan kebisingannya, bagi masyarakat pribumi, suara itu adalah bagian tak terpisahkan dari kehangatan perayaan.
Sebelum hari raya tiba, berbagai upaya dilakukan untuk memastikan perayaan berjalan dengan baik. Ribuan orang berdatangan ke pegadaian untuk menebus perhiasan atau bahkan menggadaikan barang miliknya demi mendapatkan biaya perayaan. Para pekerja dan pelayan juga menerima "persekot" atau yang kini dikenal sebagai THR dari majikannya, dan bahkan keluarga Belanda memberikan cuti agar mereka dapat merayakan dengan khusyuk. Orang-orang Arab juga berperan dalam membantu kebutuhan finansial masyarakat yang membutuhkan.
Pada hari Lebaran, seluruh masyarakat tampil dengan penampilan terbaiknya—berpakaian baru dengan warna-warna cerah dan mengenakan perhiasan. Setelah melaksanakan Salat Id, mereka melakukan kunjungan silaturahmi dari rumah ke rumah, saling mengucapkan "Slamatan baroe" yang memiliki makna kedatangan masa baru yang penuh fitrah. Banyak yang memilih untuk tidak mengenakan alas kaki saat berkunjung, sementara anak-anak terkadang tampak tidak nyaman dengan sepatu yang dikenakannya.
Sebagai bagian dari tradisi, banyak yang melakukan ziarah ke makam Habib Said Hoesin bin Ali bin Abu Bakar Al-Aydrus di Loear Batang. Tokoh pendakwah yang datang dari Yaman ini sangat disegani bukan hanya oleh masyarakat pribumi, melainkan juga oleh pihak kolonial Belanda yang pernah melepaskannya dari penjara setelah melihat pengaruhnya yang besar di antara tahanan.
Bagi masyarakat pribumi Batavia, momen ini bukan sekadar "tahun baru" seperti yang dipahami oleh kaum kolonial, melainkan perayaan kemenangan setelah menjalani puasa, kesempatan untuk mempererat tali silaturahmi, dan momen untuk kembali kepada fitrah yang baik. Setelah perayaan berakhir, pakaian baru dan perhiasan kembali disimpan atau digadaikan, namun kesan kebersamaan dan kedamaian tetap tinggal dalam hati masyarakat. Perayaan Masehi yang dirayakan oleh kaum Eropa di pusat kota memang berbeda, namun Lebaran menjadi jendela bagi kehidupan sosial yang lebih dalam dan erat kaitannya dengan identitas masyarakat pribumi Batavia.
Apakah Anda tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang tradisi Lebaran di daerah lain di Indonesia pada masa kolonial, atau bagaimana pandangan masyarakat pribumi sendiri terhadap sebutan "Inlands Nieuwjaar"?
