Advertisement
Yogyakarta (Pikiran Lampung) – Suasana libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) membawa lonjakan kunjungan wisatawan ke berbagai destinasi unggulan di Indonesia. Salah satu yang paling ramai dikunjungi adalah Komplek Candi Prambanan, yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Tim media Pikiran Lampung yang melakukan kunjungan langsung ke Komplek Candi Prambanan pada Selasa, 23 Desember 2025, mendapati kawasan cagar budaya tersebut dipenuhi wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan mancanegara. Sejak pagi hari, antrean pengunjung terlihat di pintu masuk utama, dengan latar megah candi yang menjulang anggun di bawah langit cerah.
Para wisatawan tampak antusias menikmati keindahan arsitektur candi Hindu terbesar di Indonesia tersebut. Banyak pengunjung mengabadikan momen dengan berfoto di halaman candi, sembari mendengarkan penjelasan pemandu wisata mengenai sejarah dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Sejumlah pengunjung tampak antusias berkeliling kawasan candi, mengabadikan momen dengan latar bangunan candi yang megah. Salah satu wisatawan asal Jakarta, Rina (34), mengaku sengaja memilih Prambanan sebagai tujuan liburan keluarga karena nilai sejarah dan keindahan arsitekturnya.
“Setiap ke Yogyakarta rasanya belum lengkap kalau belum ke Prambanan. Anak-anak juga bisa belajar sejarah langsung, tidak hanya dari buku,” ujarnya kepada Pikiran Lampung.
Hal senada disampaikan oleh wisatawan asal Malaysia, Ahmad Fauzi, yang mengaku kagum dengan kemegahan Candi Prambanan. Menurutnya, Prambanan memiliki daya tarik yang unik dibandingkan candi-candi lain di Asia Tenggara.
“Arsitekturnya sangat detail dan terawat. Cerita Ramayana yang terpahat di reliefnya juga menarik untuk dipelajari,” katanya.
Candi Prambanan merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang dibangun pada abad ke-9 Masehi, tepatnya pada masa pemerintahan Raja Rakai Pikatan. Candi ini didedikasikan untuk Trimurti, yakni Dewa Brahma sebagai pencipta, Dewa Wisnu sebagai pemelihara, dan Dewa Siwa sebagai pelebur. Kompleks ini terdiri dari ratusan candi, dengan Candi Siwa sebagai bangunan utama yang memiliki ketinggian sekitar 47 meter.
Keagungan Prambanan tak hanya tercermin dari ukurannya, tetapi juga dari relief-relief indah yang mengisahkan epos Ramayana. Relief tersebut terpahat rapi di dinding candi dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin mempelajari kisah-kisah klasik India yang telah berakulturasi dengan budaya Nusantara.
Selain nilai sejarah, Candi Prambanan juga lekat dengan mitos dan legenda rakyat yang hingga kini masih hidup di tengah masyarakat. Salah satu yang paling terkenal adalah legenda Roro Jonggrang. Konon, candi ini berkaitan dengan kisah cinta tragis antara Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang, yang menolak lamaran sang pangeran dengan mengajukan syarat pembangunan seribu candi dalam satu malam. Mitos ini menjadi cerita turun-temurun yang menambah aura mistis sekaligus daya tarik wisata budaya Prambanan.
Ramainya kunjungan wisatawan saat libur Nataru juga memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar. Di area luar kompleks candi, tim Pikiran Lampung menjumpai deretan pusat oleh-oleh khas Prambanan yang dipadati pembeli. Beragam produk dijajakan, mulai dari kaos bertema Candi Prambanan, baju, topi, tas, hingga kerajinan tangan seperti miniatur candi, patung, ukiran kayu, dan pernak-pernik bernuansa budaya Jawa.
Para pedagang mengaku momentum libur Nataru menjadi waktu yang paling dinanti, karena jumlah wisatawan meningkat signifikan dibandingkan hari biasa. Wisatawan pun terlihat antusias memilih oleh-oleh sebagai kenang-kenangan atau buah tangan bagi keluarga di kampung halaman.
Salah seorang penjual oleh-oleh, Sutarno (45), mengaku omzet penjualan meningkat signifikan selama libur Nataru. “Kalau hari biasa paling ramai akhir pekan, tapi saat libur Natal dan Tahun Baru seperti ini bisa naik dua sampai tiga kali lipat. Banyak wisatawan beli kaos dan miniatur candi,” ungkapnya.
Penjual lainnya, Sri Wahyuni, yang menjajakan kerajinan tangan khas Prambanan, juga merasakan dampak positif dari lonjakan wisatawan. “Alhamdulillah, sejak awal libur Nataru dagangan lebih cepat habis. Pembeli tidak hanya dari dalam negeri, tapi juga wisatawan asing,” katanya.
Selain itu, fasilitas pendukung seperti area parkir, pusat informasi, musala, dan restoran juga tampak dimanfaatkan maksimal oleh pengunjung. Pengelola kawasan wisata terus berupaya menjaga kenyamanan dan keamanan wisatawan, termasuk dengan pengaturan arus kunjungan dan kebersihan lingkungan.
Dengan perpaduan keindahan arsitektur, nilai sejarah yang tinggi, kisah mitos yang melegenda, serta geliat ekonomi kreatif masyarakat lokal, Candi Prambanan tetap menjadi destinasi unggulan yang tak pernah kehilangan pesonanya. Libur Nataru menjadi momentum istimewa bagi wisatawan untuk menikmati kekayaan budaya Nusantara sekaligus mengisi waktu liburan bersama keluarga di salah satu situs warisan dunia UNESCO tersebut.(Madi)




