lisensi

Rabu, 24 Desember 2025, Desember 24, 2025 WIB
Last Updated 2025-12-24T09:08:09Z
Kunjungan Ke Kawasan Wisata Malioboro

Malioboro Diserbu Ribuan Wisatawan Nataru, UMKM Lokal Kebanjiran Order

Advertisement


Yogyakarta (Pikiran Lampung) – Kawasan Malioboro, jantung pariwisata Kota Yogyakarta, dipadati wisatawan pada Rabu (24/12/2025). Pantauan langsung Media Pikiran Lampung menunjukkan arus pengunjung sangat besar sejak pagi hingga malam hari. Wisatawan berasal dari berbagai daerah di Indonesia bahkan banyak wisatawan mancanegara turut terlihat menikmati suasana libur Natal & Tahun Baru (Nataru) di daerah itu.


Berdasarkan prediksi Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, sekitar 7 juta orang diperkirakan akan masuk ke Kota Yogyakarta selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, sebagai bagian dari total pergerakan orang menuju Daerah Istimewa Yogyakarta yang diperkirakan mencapai lebih dari 9 juta orang selama periode liburan ini.


Sebelumnya, data resmi dari Teras Malioboro mencatat capaian kunjungan wisata ke kawasan tersebut pada tahun 2024 mencapai lebih dari 5 juta orang, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Selain itu, data dari Dinas Pariwisata DIY menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan ke Yogyakarta dalam satu tahun bisa mencapai jutaan orang, termasuk sebagian besar memilih destinasi iconic seperti Malioboro dan pusat budaya lainnya.


Kawasan pedestrian Malioboro tampak dipenuhi pengunjung yang berjalan, berfoto, dan berbelanja suvenir, batik, hingga kerajinan khas Yogyakarta. Banyak wisatawan melaporkan suasana Malioboro tetap menarik meskipun sangat ramai. M. Zulkarnain, Seorang wisatawan asal Jakarta mengatakan bahwa pengalaman jalan-jalan di Malioboro setiap liburan akhir tahun sudah menjadi tradisi keluarga. Pemandangan ini juga memperlihatkan banyaknya rombongan keluarga bahkan tur internasional ikut menikmati suasana budaya dan kuliner lokal.


Aparat kepolisian serta petugas gabungan dari TNI/Polri, Satpol PP, serta Dinas Perhubungan terlihat disiagakan di sejumlah titik sepanjang jalur Malioboro. Mereka memberikan imbauan kepada pengunjung untuk tetap menjaga keamanan, mematuhi aturan, serta memilih waktu kunjungan saat jam yang tidak begitu padat, seperti pagi atau malam larut, agar terhindar dari kepadatan ekstrem. Petugas juga meminta wisatawan agar waspada terhadap barang bawaan pribadi.


“Agar pengalaman wisata tetap nyaman, kami anjurkan bagi para wisatawan untuk mengatur waktu kunjungan dan mengikuti arahan petugas demi keamanan dan keselamatan bersama,” ujar salah seorang petugas yang berjaga di Titik Nol Kilometer Malioboro.


Beberapa pengunjung menyatakan bahwa Malioboro selalu menjadi daya tarik utama Yogyakarta karena nuansa budaya, kerajinan lokal, serta kuliner yang khas. Wisatawan mancanegara menyebut suasana Malioboro sangat “hidup”, penuh warna, dan mudah dinikmati sebagai bagian dari pengalaman wisata budaya Indonesia.


Para pedagang lokal dan pelaku UMKM mengaku berkah dari melonjaknya kunjungan tersebut. Penjual batik, kaos, aksesori, serta oleh-oleh khas Yogyakarta melaporkan peningkatan penjualan signifikan dibanding hari biasa. “Sejak awal musim libur Nataru, pembeli meningkat tiap harinya. Ini menjadi momentum penting bagi kami,” ujar Yati, salah seorang pedagang batik di sekitar Malioboro.


Dengan perkiraan 7 juta wisatawan masuk ke Kota Yogyakarta selama libur Nataru dan kemungkinan lebih jika menghitung kunjungan dari luar kota serta tingkat kunjungan ke destinasi utama seperti Malioboro, puncak keramaian diperkirakan terjadi pada tanggal 24–26 Desember dan di akhir tahun menjelang malam Tahun Baru. (Madi)