Advertisement
Surabaya (Pikiran Lampung) – Berbicara mengenai destinasi wisata di Kota Surabaya seolah tak pernah ada habisnya. Selain dikenal sebagai kota perjuangan, Surabaya juga menyimpan beragam destinasi wisata religi dan sejarah yang sarat nilai toleransi. Salah satunya adalah Masjid Cheng Ho Surabaya yang berlokasi di Jalan Gading No. 2, Surabaya.
Media Pikiran Lampung melakukan kunjungan langsung ke Masjid Cheng Ho pada Senin, 22 Desember 2025. Dari pantauan di lokasi, masjid ini tampak ramai dikunjungi warga, baik untuk beribadah maupun sekadar belajar sejarah. Masjid Cheng Ho menjadi destinasi unik karena tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam, tetapi juga sebagai ruang edukasi sejarah dan budaya.
Masjid ini memiliki arsitektur khas yang memadukan unsur Arab, Tionghoa, dan Indonesia, dengan bentuk bangunan menyerupai kelenteng. Gaya tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada Laksamana Cheng Ho, seorang pelaut Muslim asal Tiongkok yang dikenal berperan besar dalam penyebaran agama Islam di Nusantara melalui jalur pelayaran.
Perjalanan panjang Laksamana Cheng Ho yang menembus berbagai samudra hingga singgah di perairan Jawa menjadi dasar filosofi pendirian masjid ini. Hal tersebut tercermin pada setiap sudut bangunan yang sarat makna. Salah satunya terlihat pada bagian atap bangunan yang bertingkat tiga, berbentuk segi delapan dan menyerupai pagoda. Dalam kepercayaan Tiongkok, bentuk segi delapan melambangkan keberuntungan.
Ukuran bangunan masjid yang berukuran 11 x 9 meter juga memiliki filosofi mendalam. Angka 11 merujuk pada ukuran awal Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS, sementara angka sembilan melambangkan Wali Songo yang memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Nusantara.
Salah satu Takmir Masjid Cheng Ho Surabaya, Hariono Ong, saat ditemui di lokasi menuturkan bahwa masjid ini memang dirancang sebagai simbol akulturasi budaya.
“Masjid Cheng Ho merupakan perpaduan gaya Indonesia, Arab, dan Tiongkok. Karena itu, warna yang mendominasi masjid ini adalah merah, kuning, biru, dan hijau yang memiliki makna tersendiri dalam kepercayaan Tionghoa,” ujarnya.
Ia menjelaskan, empat warna tersebut melambangkan kebahagiaan, kemasyhuran, harapan, dan kemakmuran. Selain itu, masih banyak filosofi lain yang terkandung dalam ornamen dan desain masjid.
Hariono Ong juga menambahkan, sejak awal berdirinya masjid sekitar 23 tahun lalu, pengurus Masjid Cheng Ho didominasi oleh para mualaf keturunan Tionghoa. Hal itu merupakan kesepakatan bersama sebagai simbol keterbukaan dan toleransi antarbudaya.
Dari pantauan Media Pikiran Lampung, di pelataran masjid sisi selatan terdapat dinding marmer hitam bertuliskan tinta emas yang berisi informasi lengkap mengenai perjalanan hidup Laksamana Cheng Ho, sejarah masuknya Islam ke Nusantara, hingga sejarah berdirinya Masjid Cheng Ho Surabaya beserta fasilitas yang tersedia.
Sementara di sisi utara pelataran, para jamaah dan pengunjung dapat melihat relief wajah Laksamana Muhammad Cheng Ho lengkap dengan replika kapal yang dahulu digunakan untuk menyeberangi Samudera Hindia. Relief ini menjadi daya tarik tersendiri sekaligus pengingat akan perjalanan dakwah Islam yang penuh perjuangan.
Masjid Cheng Ho Surabaya hingga kini terus menjadi simbol kerukunan, toleransi, serta bukti bahwa perbedaan budaya dapat berpadu indah dalam bingkai sejarah dan keimanan.(madi)



