lisensi

Minggu, 21 Desember 2025, Desember 21, 2025 WIB
Last Updated 2025-12-21T15:37:25Z
EkobisKuliner Taman Bungkul Surabaya

Menyusuri Sejarah Surabaya Lewat Taman Bungkul dan Lontong Balap Legendaris

Advertisement


Surabaya (Pikiran Lampung) – Kunjungan langsung ke Kota Surabaya membawa kru Media Pikiran Lampung menyusuri jejak sejarah yang berpadu erat dengan denyut kehidupan masyarakatnya. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah Taman Bungkul, taman kota ikonik yang bukan hanya berfungsi sebagai ruang terbuka hijau, tetapi juga menyimpan nilai historis dan budaya yang kuat.


Taman Bungkul dikenal luas sebagai tempat rekreasi favorit warga Surabaya dan wisatawan. Dari pantauan langsung di lokasi, taman ini selalu ramai dikunjungi sejak pagi hingga malam hari. Nama Taman Bungkul sendiri diambil dari sosok ulama besar Sunan Bungkul, tokoh penyebar agama Islam di Surabaya, yang makamnya berada tidak jauh dari area taman. Keberadaan makam tersebut menjadikan Taman Bungkul bukan sekadar ruang publik, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan spiritual bagi masyarakat setempat.


Selain sarat sejarah, Taman Bungkul juga dikenal sebagai salah satu pusat kuliner legendaris Surabaya. Di sepanjang kawasan taman, pengunjung dapat dengan mudah menemukan beragam makanan khas yang menggugah selera. Mulai dari Rawon, Lontong Balap, Rujak Cingur, Sate Kelopo, Tahu Tek, Soto Ayam, Bakso hingga Mi Ayam, semuanya tersedia dan ramai diserbu pembeli, terutama pada malam hari.


Salah satu ikon kuliner yang paling dikenal di kawasan ini adalah Lontong Balap milik Pak Sunaryo. Kru Media Pikiran Lampung berkesempatan mencicipi langsung kuliner khas Surabaya tersebut pada Minggu (21/12/2025). Sajian lontong balap yang disuguhkan tetap mempertahankan cita rasa khas, dengan isian lontong, tauge, tahu goreng, lentho, kuah gurih, serta sambal petis yang menjadi pelengkap utama.


Pak Sunaryo menuturkan, lontong balap bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga memiliki sejarah panjang yang melekat pada kehidupan masyarakat Surabaya. Menurutnya, nama “lontong balap” berasal dari cara para penjual zaman dahulu menjajakan dagangannya.


“Dulu penjual lontong balap tidak menggunakan gerobak seperti sekarang. Mereka membawa dagangan menggunakan gentong besar yang dipikul. Karena berat dan agar tidak kalah cepat dengan penjual lain, mereka berjalan setengah berlari, terlihat seperti sedang balapan,” ungkap Pak Sunaryo.


Dari kebiasaan itulah, sebutan lontong balap akhirnya melekat dan dikenal hingga kini. Salah satu ciri khas utama dari lontong balap adalah lentho, yakni gorengan berbahan dasar kacang yang direndam bumbu semalaman, kemudian ditumbuk, dikepal, dan digoreng hingga matang. Lentho inilah yang memberikan cita rasa khas dan menjadi pembeda lontong balap dengan makanan lain.


Kini, lontong balap tidak hanya menjadi makanan favorit warga lokal, tetapi juga daya tarik wisata kuliner bagi pengunjung dari luar daerah. Kehadirannya di Taman Bungkul memperkuat posisi taman ini sebagai ruang publik yang menyatukan sejarah, budaya, dan kuliner khas Surabaya.(Madi)