Advertisement
Bandar Lampung (Pikiran Lanpung) - Aliansi Tunas Lampung mengeluarkan kecaman tegas soal kondisi bahasa Lampung yang kini harus "numpang" bahkan di lingkungan masyarakat sendiri. Ketua Aliansi Tunas Lampung, Arsan Nur, menegaskan bahwa kurangnya perhatian terhadap bahasa daerah ini terlihat jelas dari minimnya rumah makan maupun hotel yang menyajikan atau memutar lagu berbahasa Lampung.
"Tempat usaha yang seharusnya menjadi wadah mempromosikan budaya lokal justru tidak menunjukkan dukungan apapun. Padahal mereka memiliki peran penting untuk memperkenalkan bahasa dan seni Lampung kepada masyarakat luas, termasuk wisatawan," ujar Arsan Nur.
Selain itu, Aliansi Tunas Lampung juga menyoroti kondisi generasi muda Lampung yang banyak tidak mampu berbahasa Lampung dan bahkan menunjukkan sikap tidak perduli terhadap kelestarian bahasa daerah. "Ini adalah ancaman serius bagi identitas kita. Jika generasi penerus tidak mengenal bahasa sendiri, maka budaya dan nilai-nilai luhur Lampung akan hilang perlahan," tambahnya.
Dalam menyikapi masalah ini, Aliansi Tunas Lampung memiliki harapan besar pada pemerintah setempat. Mereka mengajak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkrit, seperti membuat kebijakan yang memaksa atau mendorong tempat usaha untuk mempromosikan lagu dan bahasa Lampung, serta menyelenggarakan program pendidikan bahasa daerah yang terintegrasi di sekolah dan masyarakat. Selain itu, Aliansi Tunas ni Lampung berharap pemerintah dapat mendukung berbagai kegiatan budaya yang fokus pada penguatan bahasa Lampung, dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat mulai dari akademisi, seniman, hingga tokoh muda. (susi)