lisensi

Rabu, 14 Januari 2026, Januari 14, 2026 WIB
Last Updated 2026-01-14T18:26:13Z
Disnakkeswan Provinsi Lampung

Disnakkeswan Lampung Dorong Populasi Kambing Saburai

Advertisement



Bandar Lampung (Pikiran Lampung) – Pemerintah Provinsi Lampung semakin gencar melakukan pelestarian plasma nutfah ternak lokal, salah satunya melalui pengembangan dan edukasi kambing Saburai. Komoditas unggulan ini dinilai mulai tergerus oleh dominasi kambing impor, sehingga perlu perhatian khusus dari pemerintah dan masyarakat.


Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Lampung menegaskan bahwa Lampung memiliki dua plasma nutfah asli daerah yang diakui secara genetik, yakni sapi Krui dan kambing Saburai. Kedua ternak ini dinilai penting untuk dijaga keberlanjutannya agar tetap menjadi sumber daya genetik unggulan.


“Di Provinsi Lampung kita memiliki dua plasma nutfah, yaitu sapi Krui dan kambing Saburai. Ini adalah sumber daya genetik asli daerah yang harus dilestarikan,” ujar Kepala Disnakkeswan Provinsi Lampung, Lili Mawarti, Rabu (14/01/2026).


Sebagai bentuk komitmen pelestarian, Disnakkeswan telah membentuk Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kambing Saburai. Awalnya, pengembangan ternak ini terpusat di Kabupaten Tanggamus, Pringsewu, dan Pesawaran. Namun, untuk memperluas edukasi dan pelestarian, kini pembinaan dilakukan di seluruh kabupaten/kota di Lampung.


Lili menjelaskan, saat ini banyak peternak beralih memelihara kambing Boer. Padahal, kambing Saburai merupakan hasil persilangan kambing Boer dan kambing Etawa, dengan sifat khas yang muncul pada grade tertentu. Ia menekankan pentingnya pemahaman yang benar agar keberlangsungan kambing Saburai tidak terancam.


Berdasarkan data Disnakkeswan, populasi kambing Saburai masih terbatas. Di Kabupaten Tanggamus tercatat sekitar 611 ekor, sedangkan di UPTD Kambing Saburai ada 131 ekor. “Karena populasinya belum besar, kami terus melakukan pembinaan dan pendampingan kepada peternak agar kambing Saburai tidak punah dan tetap menjadi ternak unggulan Lampung,” ujarnya.


Selain edukasi, pelestarian kambing Saburai juga didukung dengan kebijakan pengawasan penjualan agar tidak terlalu banyak keluar daerah, serta inseminasi buatan melalui Balai Inseminasi Buatan Daerah (BIBD) yang sudah memproduksi semen beku kambing Saburai.


Disnakkeswan juga tengah menyiapkan kontes kambing Saburai sebagai sarana promosi sekaligus edukasi kepada masyarakat. “Dengan kontes dan sosialisasi berkelanjutan, kami berharap kambing Saburai semakin dikenal, populasinya terjaga, dan tetap menjadi kebanggaan Lampung sebagai ternak unggulan lokal,” pungkas Lili.(salsa)