Advertisement
Lampung Timur (Pikiran Lampung) – Ketegangan akibat konflik manusia dan gajah liar di sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK) memuncak. Ribuan warga desa penyangga turun ke jalan dan menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di Kantor Balai TNWK, Jalan Lintas Pantai Timur Sumatra, Desa Labuhan Ratu Lama (Tridatu), Selasa (13/1/2026). Aksi ini menjadi bentuk desakan keras kepada negara agar segera menghentikan konflik berkepanjangan yang telah merenggut korban jiwa.
Sedikitnya 3.000 warga dari puluhan desa sekitar TNWK memadati lokasi aksi sejak pagi hari. Mereka menyuarakan kekecewaan mendalam terhadap pemerintah, khususnya Kementerian Kehutanan RI dan pihak pengelola TNWK, yang dinilai belum mampu menghadirkan solusi konkret atas konflik gajah liar yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Puncak kemarahan warga dipicu oleh peristiwa tragis meninggalnya Kepala Desa Braja Asri pada akhir Desember 2025 lalu. Korban tewas saat berupaya menghalau kawanan gajah yang masuk ke permukiman dan merusak tanaman padi milik warga. Insiden tersebut dinilai sebagai bukti nyata kegagalan negara melindungi keselamatan masyarakat desa penyangga.
Tragedi itu semakin mempertebal rasa takut warga. Masyarakat mengaku hingga kini masih hidup dalam ancaman, karena gajah liar kerap keluar dari kawasan hutan dan berkeliaran di sekitar rumah serta lahan pertanian. Kondisi tersebut membuat risiko jatuhnya korban jiwa kembali menghantui setiap waktu.
Dalam orasinya, massa menilai belum ada langkah tegas dan terukur dari pengelola TNWK maupun pemerintah pusat untuk menghentikan konflik mematikan tersebut. Sebaliknya, warga justru terus menjadi pihak yang paling dirugikan, baik secara materiil maupun psikologis.
Sejak pukul 08.00 WIB, massa menyampaikan sejumlah tuntutan. Mereka mendesak pemerintah segera menghentikan masuknya gajah liar ke desa-desa penyangga, khususnya di 23 desa yang tersebar di beberapa kecamatan sekitar kawasan TNWK.
Selain itu, warga juga menuntut pertanggungjawaban Kementerian Kehutanan RI dan pengelola TNWK atas jatuhnya korban jiwa serta kerusakan lahan pertanian dan permukiman akibat konflik yang tak kunjung usai.
Massa aksi dengan tegas menolak wacana pengalihan fungsi lahan dari zona inti menjadi zona pemanfaatan. Mereka meminta dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi hutan TNWK serta kebijakan perizinan pemanfaatan lahan yang dinilai telah merusak habitat satwa liar.
Menurut warga, kebijakan yang tidak berpihak pada kelestarian hutan itulah yang menjadi pemicu utama keluarnya gajah dari kawasan hutan hingga masuk ke wilayah permukiman.
Hingga berita ini diturunkan, aksi unjuk rasa masih berlangsung dengan pengawalan ketat aparat keamanan. Warga menegaskan tidak akan menghentikan aksi dan suara perlawanan mereka sampai pemerintah benar-benar hadir dan memberikan solusi nyata demi keselamatan masyarakat desa penyangga TNWK.(Fauzi)