Advertisement
Jakarta (Pikiran Lampung) – Tahun 2026 ini Nahdlatul Ulama (NU) genap berusia satu abad tahun masehi, 1926-2026.
Ketua Umum Pengurus
Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menegaskan peringatan 100
tahun Masehi Nahdlatul Ulama menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen
NU dalam mengawal Indonesia menuju peradaban yang lebih mulia.
“Hari ini kita peringati sebagai NU yang satu. Sebagaimana
disepakati PBNU dalam rapat gabungan pada Agustus 2025, peringatan Harlah NU
kali ini mengusung tema ‘Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia’,”
ujar Yahya Cholil Staquf dalam peringatan Harlah ke-100 tahun NU di Istora
Senayan, Jakarta, Sabtu.
Gus Yahya menjelaskan tema tersebut dipilih karena visi
dan idealisme NU sejak awal berdirinya sejalan dan sebangun dengan visi
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Menurut dia, prinsip dasar kemerdekaan sebagaimana
tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa
dan penjajahan harus dihapuskan karena bertentangan dengan peri kemanusiaan dan
peri keadilan, juga merupakan nilai yang dihidupi NU sejak awal.
Selain itu, NU juga memegang teguh komitmen bangsa
Indonesia untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
"Semua itu merupakan rumusan visi dan idealisme NU
yang telah ditetapkan sejak NU didirikan dan kemudian dimanifestasikan dalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujarnya.
Gus Yahya menegaskan NU tidak dapat dipisahkan dari
Indonesia. Ia mengibaratkan NU sebagai pelita yang ingin menerangi sekitarnya,
sementara Indonesia adalah tempat pelita itu berpijak.
"Apabila NU adalah misbah yang ingin menyinari
sekitar, maka misykatnya adalah Indonesia. Tidak mungkin kita berpikir tentang
NU tanpa sekaligus berpikir dan bertindak untuk Indonesia," katanya.
Ia menambahkan peringatan satu abad NU memiliki makna
ganda. Dua tahun lalu, NU telah memperingati satu abad berdasarkan kalender
Hijriah, sementara tahun ini peringatan 100 tahun dilakukan berdasarkan
kalender Masehi.
Selama satu abad perjalanan sejarahnya, Gus Yahya
menegaskan NU tidak pernah bergeser dari semangat dan idealismenya, yakni
menjadikan NKRI sebagai kubu perjuangan dan markas besar untuk membangun
peradaban yang mulia bagi seluruh umat manusia.
"Semoga visi dan idealisme ini senantiasa menghidupi
batin kita semua, menyalakan api semangat di dada seluruh kader dan anak bangsa
Indonesia," kata dia. (ant/p1)