lisensi

Rabu, 04 Februari 2026, Februari 04, 2026 WIB
Last Updated 2026-02-04T13:06:15Z
Duka Pendidikan Hari Ini

Buku dan Pena yang Tak Terbeli, Tragedi Sunyi Dunia Pendidikan Anak Negeri di Ngada

Advertisement


NTT (Pikiran Lampung) - Dunia pendidikan kembali berduka. Seorang siswa kelas IV sekolah dasar berinisial YBS (10) ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026) siang di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. YBS ditemukan di pohon cengkeh tak jauh dari pondok sederhana tempat ia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun.


Di lokasi kejadian, ditemukan secarik surat tulisan tangan yang ditujukan kepada sang ibu. Pada bagian akhir surat itu, YBS menggambar wajah dengan emoji menangis—sebuah simbol kepedihan yang kini mengguncang nurani banyak pihak.


Informasi yang dihimpun menyebutkan, YBS mengalami keputusasaan akibat kondisi ekonomi keluarga. Sehari sebelum kejadian, ia meminta uang kurang dari Rp10.000 untuk membeli buku dan pena. Namun sang ibu, MGT (47), menjelaskan bahwa keluarga mereka tidak memiliki uang. Ia juga menyampaikan kepada anaknya bahwa kondisi ekonomi keluarga sangat terbatas dan penghasilan tidak mudah diperoleh.


MGT menuturkan, pada malam sebelumnya YBS sempat menginap di rumahnya. Keesokan pagi, anak tersebut diantar menggunakan ojek menuju pondok neneknya. Beberapa jam kemudian, kabar duka itu datang.


Seorang saksi mata, Gregorius Kodo, mengungkapkan bahwa korban memilih tinggal bersama neneknya karena kondisi keluarga yang penuh tantangan. Saat peristiwa terjadi, sang nenek sedang berada di rumah tetangga.


Gregorius juga menyebutkan bahwa YBS diduga kurang mendapatkan kasih sayang orang tua. Ayah korban telah meninggal dunia bahkan sebelum YBS dilahirkan. Ayah tersebut merupakan suami ketiga dari sang ibu. Saat ini, MGT menanggung hidup lima anak seorang diri dalam keterbatasan ekonomi yang berat.


Peristiwa ini menambah daftar panjang persoalan sosial yang bersinggungan langsung dengan dunia pendidikan, kemiskinan, dan perlindungan anak di daerah tertinggal.


Ketika Buku dan Pena Lebih Mahal dari Harapan


Kepergian YBS bukan sekadar tragedi keluarga. Ini adalah alarm keras bagi dunia pendidikan dan kebijakan negara.

Di satu sisi, negara tengah menggulirkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan anggaran yang mencapai ratusan triliun rupiah—sebuah ikhtiar besar untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun di sisi lain, masih ada anak Indonesia yang tidak mampu membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp10.000.


Pertanyaannya sederhana tapi menyakitkan:

Bagaimana mungkin negara berbicara tentang gizi masa depan, sementara alat belajar paling dasar saja belum menjangkau semua anak?

MBG adalah program mulia dan penting. Tidak ada yang menyangkal itu. Namun tragedi YBS menunjukkan bahwa persoalan pendidikan dasar bukan hanya soal asupan makanan, melainkan juga:

Akses alat tulis dan buku pelajaran

Pendampingan psikososial anak

Perlindungan anak dari tekanan ekonomi keluarga

Kehadiran negara di wilayah miskin dan terpinggirkan

YBS tidak meminta gawai, tidak meminta sepatu mahal. Ia hanya ingin belajar.


Di sinilah letak ironi besar dunia pendidikan kita:

anggaran besar sering kali tak berbanding lurus dengan ketepatan sasaran.

Jika sebagian kecil saja dari anggaran raksasa dialokasikan secara lebih tajam untuk:

Bantuan alat tulis langsung ke siswa miskin

Program konseling dan pendampingan anak rentan

Deteksi dini tekanan psikologis di sekolah dasar

mungkin kisah YBS tidak harus berakhir seperti ini.


Kematian YBS adalah cermin kegagalan kolektif—bukan untuk saling menyalahkan, tetapi untuk bercermin dan berbenah. Negara tidak boleh hadir hanya lewat angka anggaran, tetapi harus terasa di tangan kecil anak-anak yang ingin belajar.

Semoga YBS menjadi pengingat terakhir, bukan sekadar statistik berikutnya.

Selamat jalan, YBS. Dunia pendidikan berutang jawaban atas kepergianmu. (*)