Advertisement
Bandarlampung (Pikirn Lampung) - Debur ombak itu terdengar biasa bagi warga pesisir. Namun bagi Ahmad Omar Almiawi, suara itu seperti membuka pintu dunia yang selama ini tertutup rapat.
Di tepi pantai Pulau Pahawang, Kabupaten Pesawaran, pertengahan Februari 2026, pemuda asal Palestina itu berdiri memandangi laut dengan tatapan takzim—seolah sedang berhadapan dengan sesuatu yang sakral.
“Seumur hidup, ini pertama kalinya saya berenang di laut,” ujarnya pelan.
Kalimat itu sederhana, tetapi menggugah. Di tanah kelahirannya, akses menuju pesisir bukan perkara mudah.
Laut kerap menjadi batas yang tak bisa disentuh bebas. Maka ketika kakinya akhirnya menyentuh air asin di Lampung, Ahmad tidak sekadar berenang.
Ia seperti merayakan ruang gerak yang selama ini hanya hadir dalam bayangan.
Ahmad datang ke Lampung bersama rekannya, Mahmoud Qubaja. Keduanya merupakan kadet di Universitas Pertahanan Indonesia.
Sejak Desember 2024, mereka meninggalkan keluarga demi menempuh pendidikan di Indonesia sebagai penerima beasiswa penuh dari pemerintah.
Mereka adalah bagian dari 66 mahasiswa Palestina yang belajar di berbagai bidang strategis—kedokteran, teknik, hingga farmasi—sebagai bekal membangun kembali negeri mereka kelak.
Kunjungan ke Lampung bermula dari undangan Pangdam Mayjen TNI Kristomei Sianturi pada Selasa, 17 Februari 2026.
Dari pertemuan itu, perjalanan kecil mereka dimulai: meninggalkan ruang kelas dan protokoler kampus, lalu menapaki sisi lain Indonesia yang lebih cair dan personal.
Di Pahawang, Ahmad dan Mahmoud menginap tepat di tepi laut. Malam turun dengan angin yang berembus lembut.
“Kami sangat senang bisa menginap dan terbangun tepat di samping laut,” kata Mahmoud, tersenyum lebar.
Bagi mereka, pengalaman itu bukan sekadar wisata akhir pekan. Ada rasa lapang yang sulit dijelaskan—sejenis kebebasan yang terasa nyata.
Lampung tak hanya menyuguhkan lanskap bahari. Keduanya juga diajak mengunjungi Vihara Amurwa Bhumi Graha saat suasana Tahun Baru Imlek masih terasa hangat.
Di halaman vihara, doa-doa dipanjatkan dalam hening, lampion-lampion merah bergantung rapi, dan masyarakat saling memberi ucapan selamat tanpa mempersoalkan perbedaan iman.
Bagi Ahmad dan Mahmoud, pengalaman itu menghadirkan kesan mendalam. Di Lampung, rumah ibadah berdiri berdampingan.
Perayaan agama tidak menjadi sekat, melainkan ruang perjumpaan. Harmoni bukan slogan, melainkan kebiasaan sehari-hari.
Mereka juga diperkenalkan pada falsafah hidup masyarakat Lampung: nemui nyimah—tradisi menyambut dan memuliakan tamu dengan ketulusan.
Sambutan hangat itu membuat keduanya merasa jauh dari kata asing. Ada keluarga baru yang menyapa, ada tangan-tangan yang menjabat erat, ada obrolan ringan yang menghapus jarak geografis ribuan kilometer.
Kekaguman mereka bertambah saat menyaksikan kain tapis dengan sulaman benang emas yang sarat simbol dan doa.
Motif-motifnya bercerita tentang harapan, kemakmuran, dan martabat. Di sela itu, alunan musik tradisional terdengar ritmis, mengalun tenang seperti ingin menegaskan identitas sebuah masyarakat yang teguh menjaga warisan budayanya.
Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Ahmad dan Mahmoud juga bertemu Gubernur Lampung, Rachmat Mirzani Djausal.
Pertemuan itu menjadi simbol dukungan pemerintah daerah terhadap mahasiswa asing yang menempuh pendidikan di Indonesia, sekaligus penanda bahwa Lampung membuka ruang bagi siapa pun yang datang dengan niat belajar dan bersahabat.
Bagi Ahmad, laut Pahawang akan selalu dikenang sebagai “laut pertama”. Bagi Mahmoud, Lampung adalah tempat ia merasakan hangatnya persahabatan di tanah jauh dari rumah.
Dari pesisir hingga rumah ibadah yang damai, dari tapis hingga senyum masyarakat, mereka menemukan secuil kedamaian.
Sepotong kecil pengalaman itu mungkin tak serta-merta mengubah realitas di tanah kelahiran mereka.
Namun di bawah langit Lampung yang terang, keduanya membawa pulang satu hal yang lebih berharga dari sekadar foto kenangan: harapan bahwa kedamaian bukan mustahil, melainkan sesuatu yang bisa diupayakan dan dirawat—seperti ombak yang setia kembali ke pantai.(bila)