lisensi

Rabu, 25 Februari 2026, Februari 25, 2026 WIB
Last Updated 2026-02-25T21:42:23Z
Menu MGB Ramadan Dikeluhkan Orang Tua

MBG di SMPN 4 Bandar Lampung 'Apa Adanya', Guru dan Orang Tua Keluhkan Kualitas Menu

Advertisement



Bandar Lampung (Pikiran Lampung) Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 4 Bandar Lampung menuai keluhan dari sejumlah guru dan orang tua siswa. Menu yang disalurkan melalui SPPG Enggal 07 dinilai tidak mencerminkan esensi program MBG yang bertujuan memenuhi kebutuhan gizi peserta didik.


Keluhan mencuat setelah menu yang dibagikan pada Rabu (25/02/2026) hanya terdiri dari telur rebus, jeruk, kue bolu, dan keripik. Sejumlah pihak menilai komposisi tersebut tidak sebanding dengan harga satuan paket MBG yang telah ditetapkan pemerintah.


“Kalau melihat isi menunya, rasanya jauh dari nilai anggaran yang disebut-sebut untuk satu paket MBG. Kami berharap ada evaluasi,” ujar salah seorang guru yang enggan disebutkan namanya.



Orang tua siswa juga menyampaikan kekecewaan serupa. Mereka mempertanyakan kualitas serta keseimbangan gizi makanan yang diberikan kepada anak-anak.


“Programnya bagus, tapi pelaksanaannya harus benar-benar diawasi. Jangan sampai anak-anak hanya dapat makanan seadanya,” kata salah satu wali murid.


Program MBG di bulan Ramadan juga memunculkan pro dan kontra. Selain waktu pembagian yang dilakukan pada siang hari, pemilihan menu dinilai kurang sesuai dan tidak mencerminkan standar harga yang telah ditetapkan.



Di wilayah Rajabasa, misalnya, menu yang diterima siswa pada hari yang sama disebut terdiri dari satu lemper, satu nugget ayam ukuran kecil, satu pisang muli, serta lima butir kurma. Sementara di wilayah Langkapura, siswa dilaporkan hanya menerima tiga buah salak dan satu susu kotak kecil.


Keluhan serupa juga datang dari Kota Metro. “Hari ini dapat dua tahu goreng dan lima butir telur puyuh. Parah,” ungkap salah satu orang tua siswa di wilayah tersebut.


Selain soal jumlah dan variasi menu, muncul pula kekhawatiran terkait kualitas makanan. Beberapa pihak mengaku masih menemukan makanan yang dinilai tidak layak konsumsi atau mendekati masa kedaluwarsa.


Para guru dan orang tua berharap pemerintah daerah bersama pihak penyedia dapat segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG, terutama dalam hal kualitas, kuantitas, dan pengawasan distribusi makanan, agar tujuan pemenuhan gizi siswa benar-benar tercapai.(red)