Advertisement
Bandar Lampung (Pikiran Lampung) - Ramadhan kembali hadir menyapa umat Islam, namun suasana batin setiap orang tidak selalu serupa dari tahun ke tahun. Ada yang menjalani puasa di tengah rapat panjang, kemacetan, serta tekanan pekerjaan dan target yang belum tercapai. Ada ibu rumah tangga yang tetap mengurus keluarga dengan tubuh lelah. Ada pula anak muda yang menahan lapar sembari menyelesaikan tugas dan menatap layar gawai berjam-jam. Dalam situasi seperti inilah makna sabar dan syukur benar-benar diuji.
Ulama besar, Al-Ghazali, menjelaskan bahwa sabar bukan sekadar teori, melainkan kerja hati yang terus berlangsung. Ia menulis, “Ash-shabru ‘ibaratun ‘an tsabati ba’itsid-din fi muqawamati ba’itsil-hawa” yang berarti sabar adalah keteguhan dorongan agama dalam melawan dorongan hawa nafsu. Definisi ini terasa sangat nyata saat tenggorokan kering dan waktu berbuka masih lama, atau ketika emosi mudah tersulut karena kondisi fisik melemah.
Di situlah sabar bekerja. Ia bukan tanda kelemahan, melainkan keputusan sadar untuk memberi ruang bagi iman agar lebih kuat daripada dorongan sesaat. Puasa membuat seseorang melihat dirinya lebih dalam. Bukan hanya lapar dan dahaga yang ditahan, tetapi juga kata-kata, nada suara, hingga cara memandang orang lain. Di era media sosial, satu komentar dapat memicu perdebatan panjang. Dalam kondisi tidak berpuasa saja emosi mudah terpancing, apalagi ketika energi menurun. Ramadhan menjadi ujian sunyi, tempat seseorang berlatih mengendalikan percakapan batinnya.
Al-Ghazali juga mengutip hadis qudsi tentang hamba yang diuji lalu bersabar dengan indah. Allah berfirman bahwa ketika seorang hamba ditimpa musibah pada tubuh, harta, atau anaknya, lalu ia menerimanya dengan sabar yang indah, maka pada hari kiamat Allah malu untuk menegakkan timbangan amalnya atau membuka catatan dosanya. Sabar yang indah bukan berarti meniadakan rasa sedih, melainkan menjaga hati agar tidak berburuk sangka kepada Allah, meski ujian datang silih berganti.
Di sisi lain, Ramadhan adalah bulan syukur. Seteguk air putih terasa begitu berharga setelah seharian menahan haus. Sebutir kurma menjadi nikmat luar biasa ketika perut kosong sejak fajar. Al-Qur’an mengingatkan, “Wa in ta’udduu ni’matallahi laa tuhshuuhaa” — jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Selama ini mungkin nikmat diukur dengan angka dan pencapaian, padahal rasa aman, kesehatan, dan kesempatan berbuka bersama keluarga adalah karunia besar yang sering luput disadari.
Rasulullah SAW bersabda, siapa yang pagi hari merasa aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia telah dikumpulkan untuknya. Puasa menjadikan pesan ini terasa dekat. Ramadhan bukan hanya tentang menahan, melainkan membentuk karakter. Sabar menjadikan seseorang tidak mudah pecah oleh tekanan, sementara syukur membuatnya tidak kosong oleh kelimpahan. Ketika keduanya tumbuh bersama, nilai puasa tidak berhenti di waktu magrib, tetapi berlanjut dalam cara berbicara, bekerja, memimpin, dan memperlakukan sesama setelah Ramadhan berlalu.(Puji Raharjo-Ketua PWNU Provinsi Lampung)