lisensi

Senin, 02 Februari 2026, Februari 02, 2026 WIB
Last Updated 2026-02-02T10:15:51Z
02/02/2026Lampung TimurPerjuangan Anak Anak Kali Pasir ke Sekolah

Kisah Perjuangan Anak Anak Kali Pasir Lamtim, Seberangi Sungai Dengan Perahu Rapuh Demi Sekolah

Advertisement


Lampung Timur (Pikiran Lampung)
- Rekaman yang viral di media sosial menunjukkan kondisi menyayat hati anak-anak sekolah di Desa Kali Pasir, Kabupaten Lampung Timur. Sejak tahun 1960 desa ini berdiri, namun hingga kini akses jalan dan jembatan yang layak masih menjadi mimpi buruk bagi warga, terutama bagi ribuan pelajar yang harus menyebrangi sungai lebar 700 meter menggunakan perahu kayu rapuh tanpa pelampung maupun fasilitas pengaman apapun.

 

Dalam video yang dibagikan akun sukabumiupdatecom dan berasal dari Facebook Andre Angler Liar, terlihat puluhan anak sekolah berbarengan dengan sepeda motor mereka dipadatkan dalam satu perahu kayu. Tanpa sistem keamanan apapun, mereka hanya mengandalkan keberanian dan doa saat melintasi sungai yang terkadang arusnya cukup deras, terutama pada musim hujan.

 

"Kami sudah sering dengar janji pembangunan jembatan, tapi hingga kini tak ada tindakan nyata. Setiap pagi dan sore, kami harus melihat anak-anak kita berisiko nyawa hanya untuk bisa belajar," ucap Sukiman (45), salah satu orang tua warga Desa Kali Pasir, dengan suara penuh kesedihan.

 

Para pelajar sendiri mengaku sudah terbiasa dengan kondisi ini, meskipun tak sedikit di antara mereka yang merasa takut setiap kali menyebrang. "Kita tak punya pilihan lain. Kalau tidak sekolah, bagaimana masa depan kita? Hanya berharap cepat ada jembatan agar kita bisa pergi sekolah dengan aman," kata Siti Nurhaliza (14), siswi kelas 8 SMP Negeri 3 Lampung Timur.

 

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Lampung Timur saat dihubungi mengakui bahwa permasalahan akses di Desa Kali Pasir telah tercatat dalam daftar prioritas pembangunan. "Kami sedang dalam proses penyusunan anggaran dan kajian teknis untuk pembangunan jembatan. Targetnya bisa mulai dibangun pada tahun anggaran 2027, namun kami akan berusaha mempercepat prosesnya mengingat urgensi yang sangat tinggi," jelasnya.

 

Masyarakat lokal juga telah membentuk kelompok advokasi untuk mendorong pemerintah segera mengambil tindakan. Mereka berharap dengan viralnya kondisi ini di media sosial, akan ada perhatian lebih besar dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang telah berlangsung puluhan tahun ini. (*)