Advertisement
Lampung (Pikiran Lampung) - Tari Abung Siwo Migo, salah satu warisan budaya khas Suku Lampung Abung, berhasil mendapatkan kehormatan untuk tampil pada rangkaian acara puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang digelar di Provinsi Banten pada malam Sabtu (7/2). Meskipun pencapaian ini membawa kebanggaan yang luar biasa bagi masyarakat Lampung, namun pertunjukan tersebut juga menyisakan rasa mendalam kekecewaan terkait kesalahan dalam kostum yang digunakan penari.
M. Arsan Noor, Ketua Aliansi Tunas Lampung sekaligus orang Lampung Abung asli yang juga turut menyaksikan pertunjukan secara daring, mengungkapkan campuran emosi yang dirasakannya. Menurutnya, kesempatan untuk memamerkan tarian adat Lampung di ajang nasional seperti HPN merupakan momen berharga untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada seluruh Indonesia.
"Kita sebagai orang Lampung sungguh merasa bangga luar biasa. Tari Abung Siwo Migo bukan sekadar tarian, melainkan cerminan filosofi hidup dan nilai-nilai luhur Suku Lampung Abung yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Bisa tampil di acara sebesar HPN adalah prestasi yang patut dibanggakan," ujarnya dengan nada bangga sebelum menyampaikan kekhawatirannya.
Namun, rasa bangga itu sirna sebagian ketika melihat kostum yang dikenakan oleh penari. Arsan menjelaskan bahwa secara tradisional, penari Tari Abung Siwo Migo harus menggunakan kemeja putih lengan panjang yang erat hingga pergelangan tangan, dipadukan dengan kain sarung yang memiliki motif khas daerah. Namun pada pertunjukan tersebut, penari tampil dengan pakaian yang membuat bagian ketiak terbuka, yang dianggap tidak sesuai dengan etika dan kaidah adat yang berlaku.
"Kita mengerti bahwa terkadang ada upaya untuk mengadaptasi kostum agar lebih menarik secara visual. Namun adaptasi tidak boleh sampai mengorbankan nilai-nilai budaya dan kesopanan yang menjadi dasar dari tarian tersebut. Kemeja lengan panjang bukan hanya soal penampilan, melainkan memiliki makna filosofis tentang kesopanan, kebersihan hati, dan rasa hormat terhadap tradisi," jelasnya.
Arsan menegaskan bahwa pihak pengelola sanggar tari seharusnya lebih memahami dan menghormati unsur budaya yang terkandung dalam setiap gerakan dan kostum tarian adat. Selain menyuguhkan keindahan gerakan dan musik yang khas, pertunjukan budaya juga memiliki peran penting dalam menjaga kelangsungan nilai-nilai tradisional dan identitas budaya daerah.
"Saya berharap ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan dan penyajian tarian adat Lampung. Jangan hanya fokus pada aspek komersial atau mencari untung belaka. Kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga, melestarikan, dan menyajikan budaya kita dengan benar kepada khalayak luas," tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah daerah, dan lembaga kebudayaan untuk lebih aktif dalam mengawasi dan memberikan pembinaan kepada sanggar tari agar setiap pertunjukan budaya Lampung dapat tetap menjaga keaslian dan nilai-nilainya, terutama ketika ditampilkan di tingkat nasional maupun internasional.
"Ke depannya, semoga tidak ada lagi kesalahan seperti ini. Mari kita bersama-sama menjaga kebanggaan budaya Lampung agar tetap bersinar dan mendapatkan penghormatan yang layak," pungkas Arsan. (Susi)