lisensi

Sabtu, 21 Februari 2026, Februari 21, 2026 WIB
Last Updated 2026-02-22T02:56:30Z
Serba-Serbi Ramadan 1447 H

Tips Aman Berpuasa bagi Penderita Penyakit Jantung dan Hipertensi di Bulan Ramadan

Advertisement



Bandar Lampung (Pikiran Lampung) – Ibadah puasa Ramadan tidak hanya membawa nilai spiritual, tetapi juga berdampak pada kondisi fisiologis tubuh, termasuk tekanan darah dan denyut jantung. Secara umum, puasa bersifat netral bahkan dapat sedikit menurunkan tekanan darah apabila asupan garam serta porsi makan tetap terkontrol. Denyut jantung saat istirahat pun cenderung stabil atau sedikit menurun.


Namun, kondisi tersebut dapat berubah apabila seseorang kurang tidur, mengalami dehidrasi, mengonsumsi kafein berlebihan, atau makan secara berlebihan saat berbuka puasa.


Dokter Spesialis Jantung di Rumah Sakit Universitas Airlangga, Dian Paramita, menjelaskan bahwa penderita hipertensi, penyakit jantung koroner, maupun gagal jantung tetap dapat menjalankan puasa dengan catatan kondisi tubuh dalam keadaan stabil dan mengikuti anjuran medis.


“Yang dimaksud kondisi stabil apabila seseorang tidak merasakan nyeri dada yang progresif, tidak sesak saat istirahat, serta tidak dalam keadaan baru keluar dari rawat inap karena dekompensasi,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026).


Sebaliknya, pasien disarankan tidak berpuasa atau melakukan konsultasi ketat dengan dokter apabila mengalami nyeri dada tidak stabil, sesak saat istirahat, pingsan, tekanan darah tidak terkontrol, aritmia berat, atau memiliki penyakit ginjal berat yang rentan menyebabkan dehidrasi.


Tetap Konsumsi Obat Sesuai Anjuran

Dian menegaskan, penderita hipertensi, jantung koroner, maupun gagal jantung tetap harus mengonsumsi obat selama Ramadan. Penyesuaian biasanya dilakukan pada jadwal minum obat, yakni saat sahur dan berbuka, sesuai arahan dokter.


Untuk obat diuretik seperti furosemid, umumnya lebih aman diminum setelah berbuka guna mencegah dehidrasi dan frekuensi buang air kecil berlebih pada siang hari.


Apabila muncul keluhan seperti nyeri dada, sesak berat, pingsan, jantung berdebar disertai lemas, atau tanda dehidrasi berat seperti pusing hebat dan tidak buang air kecil, pasien dianjurkan segera membatalkan puasa dan mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.


Atur Pola Makan dan Aktivitas

Saat berbuka, dianjurkan memulai dengan porsi kecil seperti air putih dan buah atau kurma secukupnya, kemudian memberi jeda 10–15 menit sebelum menyantap makanan utama.


Prinsip gizi seimbang perlu diterapkan, yakni setengah piring sayur, seperempat piring protein hewani, dan seperempat piring karbohidrat kompleks seperti nasi merah, ubi, atau oat. Minuman tinggi gula sebaiknya dibatasi guna mencegah lonjakan gula darah.


Bagi penderita hipertensi dan gagal jantung, makanan tinggi natrium seperti mi instan, makanan olahan, serta kuah atau saus asin perlu dibatasi. Makan berlebihan saat berbuka juga dapat meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung, serta memperberat kerja jantung.


“Pada penderita gagal jantung, kondisi ini bahkan dapat memicu sesak akibat retensi garam dan cairan,” jelasnya.


Untuk menjaga kebugaran, aktivitas fisik ringan hingga sedang seperti jalan cepat tetap dianjurkan. Waktu yang relatif aman untuk berolahraga adalah satu hingga dua jam setelah berbuka, atau 30–60 menit sebelum berbuka untuk aktivitas ringan yang dilanjutkan dengan rehidrasi.


Ia mengingatkan agar menghindari olahraga berat pada siang hari karena berisiko menyebabkan dehidrasi, serta tidak berolahraga intens segera setelah makan besar.

“Kunci utamanya adalah konsistensi, bukan intensitas tinggi,” pungkas Dian.(*)