lisensi

Rabu, 11 Maret 2026, Maret 11, 2026 WIB
Last Updated 2026-03-11T11:13:02Z
Nasional

Dua Kapal Tanker Pertamaina Masih Tertahan di Teluk Arab, Informasi Sudah Lewati Selat Hormuz Hoaks

Advertisement



Jakarta (Pikiran Lampung) – PT Pertamina International Shipping (PIS) memastikan dua kapal tanker miliknya, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga kini masih berada di wilayah Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz. Informasi yang beredar di media sosial yang menyebutkan kedua kapal tersebut sudah berhasil melewati selat tersebut dipastikan tidak benar.


Penegasan itu disampaikan Pelaksana Tugas (Pjs) Corporate Secretary PIS Vega Pita yang menyebutkan kondisi kapal dan seluruh awak tetap aman meski masih menunggu situasi yang memungkinkan untuk melintas.


“Dua kapal Pertamina International Shipping yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro saat ini masih berada di Teluk Arab, kondisi kapal dan kru dalam keadaan aman dan selamat,” kata Vega dalam keterangan tertulis, Selasa (10/3/2026).


Vega menjelaskan, kapal Gamsunoro tengah melayani pengangkutan kargo milik konsumen pihak ketiga atau third party. Sementara itu, tanker Pertamina Pride membawa misi penting mengangkut pasokan minyak mentah jenis light crude oil yang diperuntukkan bagi kebutuhan energi dalam negeri.


Ia menambahkan, perusahaan terus melakukan pemantauan intensif secara real-time terhadap seluruh armada dan awak kapal. Selain itu, koordinasi juga terus dilakukan dengan otoritas maritim serta pihak berwenang setempat guna memastikan keamanan kru maupun muatan.


“Berkoordinasi dengan pemerintah, Pertamina Group menerapkan metode Regular, Alternative and Emergency dalam menentukan metode rantai pasok yang paling efektif dan aman untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat dan memastikan distribusi berjalan lancar,” ungkap Vega.


Meski dua kapal tersebut masih menunggu kesempatan melintas, Vega menegaskan kondisi rantai pasok energi Pertamina tetap terjaga baik di wilayah perairan internasional maupun dalam negeri. Saat ini, setidaknya terdapat 345 armada kapal yang berada di bawah pengelolaan Pertamina Group untuk mendukung distribusi energi.


Sebelumnya sempat beredar sebuah video yang menarasikan dua kapal tanker milik Pertamina telah berhasil melewati Selat Hormuz. Namun setelah ditelusuri, video tersebut merupakan hasil rekayasa menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).


Secara terpisah, Sekretaris Perusahaan Pertamina Arya Dwi Paramita menyampaikan pihaknya terus memantau dinamika keamanan di jalur perdagangan energi dunia tersebut. Pertamina juga berkoordinasi intensif dengan berbagai kementerian dan lembaga terkait.


“Iya, jadi kami terus monitor perkembangan dari Selat Hormuz dan juga tentunya kami mengedepankan koordinasi dengan teman-teman dari kementerian dan lembaga terkait,” kata Arya kepada awak media di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Senin (9/3/2026) malam.


Ia berharap kedua kapal tanker tersebut dapat segera melintasi Selat Hormuz sehingga pengiriman komoditas migas menuju Indonesia dapat berjalan lancar.

“Tentunya kami juga mohon doanya dari semua masyarakat dan juga teman-teman agar tim kita yang berada di sana bisa segera kembali dan tentunya ini harapan keselamatan dari aset dan juga pekerja kita di sana terus kami monitor dan kami upayakan yang terbaik untuk mereka,” ujarnya.


Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia dan menjadi salah satu rute terpenting perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melewati jalur sempit tersebut.


Berdasarkan data pelacakan Kpler, saat ini terdapat sedikitnya 40 kapal tanker minyak berkapasitas sangat besar atau very large crude carrier (VLCC) yang menunggu di kawasan Teluk Persia. Masing-masing kapal diperkirakan mengangkut sekitar dua juta barel minyak.


Situasi keamanan di kawasan tersebut meningkat sejak pecahnya konflik di wilayah Timur Tengah. Sejumlah kapal tanker memilih menunda pelayaran melewati Selat Hormuz karena meningkatnya risiko serangan, yang berpotensi mengganggu logistik energi regional serta memperlambat ekspor minyak.(*)