lisensi

Kamis, 05 Maret 2026, Maret 05, 2026 WIB
Last Updated 2026-03-05T14:46:28Z
DaerahHukum

Dua Santri Hilang, Ponpes Al-Amin Candipuro Bantah Isu Kekerasan dan Tempuh Jalur Hukum

Advertisement



Lamsel (Pikiran Lampung) – Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin di Desa Cinta Mulya, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lampung Selatan, menyampaikan klarifikasi resmi terkait pemberitaan yang menyebut adanya dugaan penganiayaan terhadap dua santri hingga keduanya meninggalkan lingkungan pesantren.


Melalui kuasa hukumnya, Dr. Januri, pihak pondok membantah tegas tudingan tersebut dan menilai informasi yang beredar tidak sepenuhnya berimbang serta berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.


“Kami menegaskan bahwa tidak pernah terjadi tindakan penganiayaan sebagaimana yang dituduhkan. Informasi yang berkembang perlu diluruskan agar tidak menimbulkan opini yang keliru,” ujar Dr. Januri.


Ia menjelaskan, peristiwa bermula pada Selasa malam, 27 Januari 2026, ketika lima santri diketahui keluar dari lingkungan pesantren tanpa izin. Setelah diketahui, kelimanya dibawa kembali ke pondok untuk menjalani pembinaan sesuai tata tertib yang berlaku.


Dalam proses pembinaan internal tersebut, tiga dari lima santri diduga melakukan pelanggaran berat yang bertentangan dengan aturan pesantren. Pihak pondok berencana memanggil orang tua masing-masing santri guna membahas langkah pembinaan lanjutan secara bersama-sama.


Namun, pada Rabu pagi, 28 Januari 2026, setelah pelaksanaan salat Subuh, pengurus menerima laporan bahwa dua dari santri tersebut sudah tidak berada di lingkungan pesantren. 


Awalnya diduga keduanya pulang ke rumah orang tua, tetapi setelah dilakukan pengecekan, mereka tidak sampai ke rumah dan kemudian dinyatakan hilang.


“Rencana kami adalah memanggil orang tua untuk membahas pembinaan lanjutan. Namun keesokan paginya kami mendapat informasi bahwa dua santri sudah tidak berada di pondok,” jelasnya.


Lima hari setelah dinyatakan hilang, salah satu santri bernama Fahmi sempat menghubungi seorang temannya dan menyampaikan bahwa dirinya berada di Jakarta dengan niat mencari pekerjaan. Setelah komunikasi tersebut, nomor telepon yang digunakan tidak lagi aktif dan hingga kini belum dapat dihubungi kembali.


Sebagai bentuk tanggung jawab, pihak pesantren mengaku telah melaporkan kejadian tersebut kepada aparat kepolisian dan terus berkoordinasi dalam proses pencarian. Berbagai upaya lain juga ditempuh untuk memperoleh informasi mengenai keberadaan kedua santri itu.


Pengasuh Pondok Al-Amin, Muhammad Ma’arif, menambahkan bahwa pihaknya berencana memanfaatkan jejaring pertemanan para santri saat memasuki musim libur sekolah mendatang.


Menurutnya, seluruh santri akan diajak membuka kembali akses media sosial masing-masing guna memperluas jaringan komunikasi.

“Dengan begitu kami berharap Fahmi dan Bayu bisa berkomunikasi dengan salah satu dari mereka,” ujarnya.


Ia menjelaskan, untuk saat ini para santri memang tidak diperkenankan memegang telepon genggam, sehingga langkah tersebut belum dapat dilaksanakan dalam waktu dekat.


Pihak pondok menegaskan komitmennya untuk bersikap terbuka dan kooperatif dalam proses pencarian, serta berharap kedua santri dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat dan kembali berkumpul bersama keluarga mereka.( Mario)