lisensi

Minggu, 29 Maret 2026, Maret 29, 2026 WIB
Last Updated 2026-03-29T11:22:39Z
Kapal Pertamina Masi Tertahan di IranNasional

Kapal Malaysia Diberi Laluan Oleh Iran, Dua Kapal Pertamina Masih Tertahan

Advertisement



Malaysia (Pikiran Lampung)- Di tengah ketegangan akan krisis enegi akibat perang di Timur Tengah, sebuah kabar baik datang dari negara dan serumpun Malaysia.

 

Dimana, kapal pengangkut minyak negeri semenanjung tersebut diberi laluan atau diberikan izin melintas oleh negara Iran.

 

Sementara itu, hingga 26 Maret 2026, dua kapal tanker Pertamina milik Indonesia masih tertahan di Teluk Arab dan belum dapat melewati Selat Hormuz. Keduanya adalah PIS VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro

 


Untuk diketahui, sebuah kapal tanker Malaysia telah diberi izin oleh pemerintah Iran untuk melintasi Selat Hormuz, demikian diucapkan Perdana Menteri Anwar Ibrahim.

"Kini kami sedang dalam proses melepaskan kapal tanker minyak Malaysia beserta para pekerjanya agar mereka dapat meneruskan perjalanan pulang," ujar Anwar dalam pidato khusus yang disiarkan secara langsung di stasiun televisi nasional, kemarin, sebagaimana dilansir kantor berita Bernama.

 

Dalam pidato itu, Anwar menyampaikan ucapan terima kasih kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, atas izin yang diberikan kepada kapal tanker minyak Malaysia untuk melintasi Selat Hormuz.

 

 

Anwar menambahkan, blokade di Selat Hormuz serta gangguan terhadap pasokan minyak dan gas global berpotensi memengaruhi Malaysia.

 

Namun, menurutnya, Malaysia berada dalam posisi yang relatif lebih baik berkat kemampuan perusahaan energi nasional Petronas dalam mengelola pasokan dan memastikan stabilitas energi.

 

 


Selain kapal tanker Malaysia, kapal tanker minyak Thailand berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman.

 

Hal itu tercapai setelah pemerintah Thailand dan Iran melakukan koordinasi diplomatik, menurut Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow.

 

Sihasak mengatakan kapal tanker milik Bangchak Corporation itu melintasi Selat Hormuz pada Senin (23/03) menyusul pembicaraan antara dirinya dengan Duta Besar Iran untuk Thailand, Nasereddin Heydari.

 

"Saya meminta apakah kapal-kapal Thailand yang perlu melewati selat dapat dibantu untuk memastikan pelayaran yang aman," kata Sihasak.

 

"Mereka menjawab bahwa mereka akan mengurusnya dan meminta kami menyampaikan daftar kapal yang akan melintas," sambungnya sebagaimana dikutip Bangkok Post.

 

 

 

Kapal Mayuree Naree yang berbendera Thailand dihantam proyektil pada 11 Maret. (EPA)

 

Pelayaran aman kapal tanker Thailand ini terjadi dua minggu setelah kapal pengangkut berbendera Thailand, Mayuree Naree, diserang proyektil di selat tersebut.

 

Negara mana saja yang kapalnya diperbolehkan melintasi Selat Hormuz?

Berbicara kepada stasiun televisi pemerintah Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup.

 

"Banyak pemilik kapal, atau negara pemilik kapal-kapal tersebut, telah menghubungi kami dan meminta agar kami memastikan keselamatan pelayaran mereka melalui selat," ujar Araghchi, seperti dikutip kantor berita Reuters.

 

"Untuk sejumlah negara yang kami anggap bersahabat, atau dalam kasus tertentu yang kami nilai perlu, angkatan bersenjata kami telah memberikan pengawalan secara aman," tambahnya.

 

"Seperti yang Anda lihat dalam pemberitaan: China, Rusia, Pakistan, Irak, dan India. Dua kapal India melintas beberapa malam lalu, begitu pula dari negara lain, bahkan Bangladesh, saya kira. Negara-negara ini berbicara dan berkoordinasi dengan kami, dan hal ini akan terus berlanjut di masa depan, bahkan setelah perang berakhir," lanjutnya.

 

Data pelayaran Kpler menunjukkan hanya 99 kapal yang melewati selat sempit tersebut sepanjang bulan ini, atau rata-rata lima hingga enam kapal per hari.

 

Padahal sebelum perang, sekitar 138 kapal melintasi selat itu setiap hari, berdasarkan data Joint Maritime Information Centre. Kapal-kapal itu diandalkan untuk membawa seperlima pasokan minyak global.

 

Analisis BBC menunjukkan sekitar sepertiga dari pelayaran terbaru di Selat Hormuz dilakukan oleh kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Iran. Di antaranya terdapat 14 kapal yang berlayar dengan bendera Iran serta sejumlah kapal lain yang dikenai sanksi karena diduga terhubung dengan perdagangan minyak Teheran.

 

Sembilan kapal lainnya dimiliki perusahaan yang beralamat di China. Adapun enam kapal tercatat menjadikan India sebagai tujuan akhir.

 

 

Dalam unggahan di X, Teheran menyatakan bahwa "kapal-kapal yang tidak bermusuhan" akan diizinkan melintasi Selat Hormuz, asalkan mereka berkoordinasi dengan "otoritas Iran yang berwenang."

 

Kapal-kapal yang berhasil melintasi Selat Hormuz sejak awal bulan ini mencakup kapal dari China, India, dan Pakistan.

 

Alih-alih menggunakan dua koridor transit sempit yang lebih dekat ke Oman, kapal-kapal kini mengalihkan rute lebih ke utara, melewati perairan teritorial Iran di utara Pulau Larak, sehingga aparat Iran bisa memantau dan mengendalikan lalu lintas maritim..

 

Sebagaimana tertera pada situs MarineTraffic, kapal Pertamina Pride terdeteksi berada di sebelah utara Kota Dammam, Arab Saudi.

 

Adapun kapal Gamsunoro berada di dekat pesisir Kuwait dan Irak.

 

Berdasarkan pernyataan Pertamina International Shipping, kapal Pertamina Pride mengangkut kargo untuk kebutuhan energi nasional. Sedangkan Gamsunoro melayani pengangkutan untuk mitra pihak ketiga (non-Pertamina).

 


"Keselamatan kru dan kargo menjadi prioritas kami. Pertamina Group mengoperasikan 345 kapal sehingga kondisi ini dipastikan tidak mengganggu pasokan energi dalam negeri," ujar Vega Pita, Pjs. Sekretaris Korporat Pertamina International Shipping, melalui akun resmi Instagram @pertaminainternationalshipping.

 

Kementerian Luar Negeri Indonesia memastikan bahwa pemerintah Iran telah merespons positif permintaan pemerintah Indonesia supaya dua kapal tanker Pertamina yang masih tertahan di Selat Hormuz dapat melintas dengan aman.

 

Menurut Juru Bicara Kemlu, Vahd Nabyl A. Mulachela, pihaknya bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia di Teheran sejak awal telah melakukan koordinasi intensif dengan semua pihak terkait di Iran untuk keselamatan kapal tanker tersebut.

 

"Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran," kata Nabyl kepada kantor berita Antara terkait perkembangan negosiasi kapal tanker Pertamina di Jakarta, Jumat (27/03).

 

Namun, menurut Nabyl, Kemlu belum dapat memberi waktu pasti kapan kedua kapal tanker tersebut bisa keluar dari Selat Hormuz.(***)