Advertisement
Lampung Barat (Pikiran Lampung)-– Puncak kekecewaan akhirnya memicu aksi warga Pekon Tanjung Raya, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat. Setelah berbulan-bulan dilanda krisis air bersih tanpa kejelasan, masyarakat mendatangi kantor Perumda Limau Kunci untuk menuntut solusi konkret atas distribusi air yang dinilai tidak berjalan normal (26/03/2026).
Keluhan warga bukan tanpa alasan. Pasokan air disebut sering terhenti dalam waktu lama, bahkan ada warga yang mengaku tidak menikmati aliran air hingga berbulan-bulan, dan sebagian lainnya hampir satu tahun lamanya.
Peratin Tanjung Raya, Johan Safri, menegaskan bahwa langkah warga mendatangi Perumda merupakan upaya persuasif untuk mencari jalan keluar. Namun ia mengingatkan, kesabaran masyarakat memiliki batas.
“Kami datang dengan itikad baik untuk mencari solusi, bukan membuat keributan. Tapi jika tidak ada kejelasan, masyarakat tentu akan mengambil langkah sendiri,” ujarnya,
Ia menjelaskan, persoalan distribusi air bersih ini sudah berlangsung cukup lama dan mencapai titik kritis saat bulan Ramadan. Di momen tersebut, sebagian besar wilayah justru mengalami kekosongan pasokan air.
“Selama bulan puasa, mayoritas warga tidak mendapatkan aliran air. Ini yang memperparah kekecewaan masyarakat,” katanya.
Selain minimnya pasokan, warga juga mengeluhkan tidak adanya transparansi terkait jadwal distribusi air. Ketidakpastian tersebut membuat masyarakat terus menunggu tanpa kepastian kapan kebutuhan dasar mereka terpenuhi.
Menurut Johan, warga tidak mempermasalahkan jika distribusi dilakukan secara bergilir, selama ada kejelasan informasi dari pihak terkait.
“Kalau memang harus bergilir, tidak masalah. Yang penting ada kepastian, jangan masyarakat dibiarkan menunggu tanpa kejelasan,” tegasnya.
Ia pun mengingatkan, jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa solusi nyata, potensi gejolak sosial di masyarakat bisa meningkat.
Sementara itu, perwakilan Perumda Limau Kunci, Indra Gunawan, mengakui adanya gangguan dalam distribusi air, khususnya menjelang Idulfitri. Ia menyebutkan, tingginya curah hujan menjadi salah satu faktor utama penyebab terganggunya aliran air.
“Curah hujan yang tinggi menyebabkan jaringan tersumbat lumpur, sehingga debit air menjadi terbatas dan distribusi tidak maksimal,” jelasnya.
Indra menambahkan, pihaknya telah mengerahkan petugas untuk melakukan perbaikan dan penanganan di lapangan guna mengatasi permasalahan tersebut.
Meski demikian, masyarakat berharap langkah yang diambil tidak berhenti pada pernyataan semata.
Warga mendesak agar perbaikan segera direalisasikan, sehingga krisis air berkepanjangan ini dapat segera teratasi dan tidak kembali memicu aksi lanjutan. (Wahdi)

