Advertisement
Gresik (Pikiran Lampung) – Suasana meriah dan penuh keceriaan menyelimuti Dusun Randuboyo, Desa Randuagung, Kecamatan Kebomas, saat tradisi “Surak Iyo” kembali digelar dalam rangka Lebaran Ketupat, Sabtu (28/03/2026). Tradisi turun-temurun ini menjadi magnet utama yang selalu dinanti masyarakat setiap tahunnya.
Sejak pagi hari, tepatnya pukul 06.00 WIB, anak-anak mulai memadati jalanan kampung. Dengan membawa berbagai wadah seperti rantang, timba, hingga gayung, mereka berkeliling dari rumah ke rumah warga. Kegiatan ini dilakukan sambil melantunkan tembang khas “Surak Iyo” secara serempak.
Suara nyanyian yang dilantunkan dengan penuh semangat menggema di sepanjang dusun. Keceriaan anak-anak menjadi warna tersendiri dalam perayaan Lebaran Ketupat di wilayah tersebut, menciptakan suasana hangat yang sarat kebersamaan.
“Surak iyo pager jaro kembang gubis, Ucha Uqi ojo nangis-nangis nek nangis dikemplang linggis, surak iyo pager jaro kembang dara, Ucha Uqi ojo lara-lara nek lara oleho tamba, surak yo pager jaro kembang pacar, nek mari podo buyar,” teriak para peserta dengan riang.
Tak hanya menghadirkan kegembiraan, tradisi ini juga membawa berkah. Anak-anak yang mengikuti “Surak Iyo” menerima berbagai hidangan khas Lebaran seperti ketupat, lontong, opor ayam, hingga lepet. Selain itu, warga juga membagikan uang sebagai bentuk berbagi kebahagiaan.
Salah satu peserta, Najma Ayucha (12), mengaku sengaja datang lebih pagi untuk mengikuti tradisi tersebut. “Bangun pagi habis salat Subuh ke rumah Mbah di Randuboyo,” ujarnya.
Bagi warga yang telah merantau, momen ini menjadi kesempatan untuk kembali ke kampung halaman. Selain melepas rindu, tradisi ini juga menjadi sarana mengenalkan generasi muda kepada lingkungan dan budaya leluhur.
“Senang bisa ikut tradisi ini, sekaligus mengenalkan anak-anak dengan warga di kampung leluhur,” tambahnya.
Secara historis, “Surak Iyo” diyakini telah ada sejak masa dakwah Sunan Giri. Tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk pelestarian budaya, tetapi juga memperkuat hubungan sosial antarwarga.
Kemeriahan Lebaran Ketupat juga terasa di sejumlah wilayah lain di Gresik. Di Desa Suci, masyarakat menggelar tradisi “Udik-udikan” dengan membagikan uang receh untuk diperebutkan. Sementara di Desa Kauman, warga merayakannya dengan saling berkunjung, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat.
Menariknya, perayaan ini diikuti oleh berbagai kalangan tanpa memandang latar belakang. Warga dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, hingga non-muslim dan keturunan Arab turut berbaur dalam suasana penuh kebersamaan.
Lebaran Ketupat di Gresik dengan ragam tradisinya menjadi bukti bahwa nilai gotong royong, toleransi, dan kearifan lokal tetap terjaga di tengah arus modernisasi. Lebih dari sekadar perayaan, tradisi ini menjadi simbol eratnya tali silaturahmi masyarakat.(*)