Advertisement
Bandar Lampung (Pikiran Lampung) - Tradisi mudik yang dilakukan masyarakat Indonesia setiap menjelang Hari Raya Idulfitri bukan sekadar perjalanan pulang kampung, tetapi juga memiliki makna mendalam dalam mempererat hubungan kekeluargaan dan silaturahmi. Kebiasaan ini telah berlangsung secara turun-temurun, khususnya pada bulan Ramadan hingga Syawal.
Mudik umumnya dilakukan oleh masyarakat yang merantau atau bekerja di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan sejumlah kota lainnya. Pada momen Idulfitri, para perantau tersebut kembali ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga, orang tua, serta kerabat.
Selain merayakan hari kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh, mudik juga menjadi sarana untuk saling memaafkan melalui tradisi halal bi halal yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.
Dalam ajaran Islam, menjaga hubungan silaturahmi merupakan salah satu perintah yang sangat dianjurkan. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 1 yang menegaskan pentingnya menjaga hubungan kekeluargaan.
Artinya, “Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”
Ulama tafsir Imam Az-Zamakhsyari menjelaskan bahwa perintah bertakwa kepada Allah dalam ayat tersebut juga berkaitan dengan kewajiban menjaga silaturahmi agar tidak sampai memutus hubungan kekeluargaan.
Islam bahkan memberikan peringatan keras bagi orang yang memutus hubungan silaturahmi. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Muhammad ayat 22–23 yang Artinya, “Maka apakah sekiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah, lalu dibuat-Nya telinga mereka tuli dan penglihatan mereka menjadi buta.”
Karena itu, mudik tidak hanya dipandang sebagai rutinitas tahunan, tetapi juga sarana untuk memperkuat ikatan batin antara anggota keluarga dan menjaga keharmonisan hubungan sosial di tengah masyarakat.
Kampung halaman bagi banyak orang menjadi tempat yang penuh kenangan dan kehangatan. Di sanalah seseorang dapat beristirahat sejenak dari hiruk pikuk kehidupan kota, sekaligus memperbarui hubungan dengan keluarga dan lingkungan yang mungkin sempat renggang akibat kesibukan.
Di sisi lain, tradisi mudik juga menjadi pengingat bahwa kesibukan pekerjaan dan kehidupan di perantauan tidak seharusnya membuat seseorang melupakan asal-usulnya. Mencintai tempat kelahiran dan menjaga hubungan dengan keluarga merupakan bagian dari fitrah manusia yang akan selalu melekat sepanjang kehidupan.(*)