lisensi

Kamis, 26 Maret 2026, Maret 26, 2026 WIB
Last Updated 2026-03-26T10:31:37Z
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal

Musrenbang RKPD 2027 Lampung Utara, Gubernur Mirza Tekankan Tiga Pilar Pembangunan

Advertisement

 


Lampung Utara (Pikiran Lampung) – Upaya percepatan pembangunan di Kabupaten Lampung Utara terus didorong Pemerintah Provinsi Lampung melalui penguatan sektor strategis yang dinilai mampu memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.


Hal tersebut ditegaskan Rahmat Mirzani Djausal dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) penyusunan RKPD 2027 yang digelar di Gedung Pusiban Agung Kotabumi, Kamis (26/3/2026). Ia menyoroti tiga pilar utama pembangunan, yakni penguatan sumber daya manusia (SDM), hilirisasi komoditas unggulan, serta pembangunan infrastruktur.


Menurut Mirza, Lampung Utara memiliki potensi besar di sektor pertanian seperti ubi kayu, jagung, padi, kedelai, kopi, karet, dan pisang. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya memberikan nilai tambah optimal bagi masyarakat.


“Kita membutuhkan SDM yang terampil dan produktif agar mampu mengelola potensi tersebut dan meningkatkan nilai tambah bagi petani dan perekonomian daerah,” ujarnya.


Ia menekankan, peningkatan kualitas SDM harus dimulai dari pemerataan akses pendidikan dan layanan kesehatan. Pemerintah daerah diminta memastikan tidak ada lagi anak putus sekolah serta mendorong kesesuaian kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.


Berdasarkan data, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Lampung berada di angka 73,98 atau kategori tinggi, sementara Lampung Utara mencapai 72,28 dengan pertumbuhan 1,2 persen. Meski menunjukkan tren positif, angka tersebut dinilai masih perlu didorong untuk mengejar ketertinggalan.


Selain SDM, Mirza juga menyoroti pentingnya transformasi ekonomi melalui hilirisasi komoditas. Praktik penjualan bahan mentah tanpa pengolahan dinilai menjadi salah satu penyebab rendahnya nilai ekonomi yang diterima petani.


“Hilirisasi menjadi kunci agar komoditas unggulan tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar,” katanya.


Di sisi lain, persoalan infrastruktur masih menjadi tantangan utama. Tingkat kemantapan jalan kabupaten di Lampung Utara baru mencapai 46,67 persen, jauh di bawah jalan provinsi yang telah mencapai 93,58 persen pada ruas sepanjang 156,328 kilometer.


Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap distribusi hasil pertanian dan tingginya biaya logistik. Untuk itu, Pemerintah Provinsi Lampung mengalokasikan anggaran pada 2026 sebesar Rp40,52 miliar untuk perbaikan jalan provinsi, Rp1,98 miliar untuk jalan desa, serta Rp2,1 miliar untuk pembangunan jembatan.


“Konektivitas yang baik akan memperlancar distribusi, menekan biaya logistik, dan membuka akses pasar yang lebih luas,” ujar Mirza.


Dalam mendukung penguatan ekonomi desa, Pemprov juga menggulirkan Program Desaku Maju yang berfokus pada peningkatan produktivitas dan nilai tambah sektor pertanian. Program ini mencakup bantuan pupuk organik cair, mesin pengering (dryer), serta pelatihan vokasi.


Mirza menyebut Desa Wonomarto sebagai contoh keberhasilan program tersebut, dengan peningkatan produksi pertanian hingga 30 persen pada komoditas padi, jagung, dan singkong. Program ini juga diintegrasikan dengan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG), di mana desa didorong menjadi pemasok bahan baku pangan secara langsung.


“Kami ingin perputaran ekonomi dari program nasional benar-benar dirasakan oleh petani dan pelaku UMKM di desa,” katanya.


Dari sisi kesejahteraan, angka kemiskinan di Provinsi Lampung tercatat turun dari 10 persen pada Maret 2025 menjadi 9,66 persen pada September 2025. Sementara di Lampung Utara, angka kemiskinan berada di 15,78 persen pada 2025, turun 1,14 persen dari tahun sebelumnya.


Meski demikian, Mirza menilai penurunan tersebut belum cukup signifikan dan perlu percepatan melalui perencanaan pembangunan yang lebih terarah dan berdampak langsung. Ia juga mengingatkan pentingnya integritas dalam setiap tahapan perencanaan dan penganggaran.


“Perencanaan harus realistis, berbasis kemampuan fiskal, dan fokus pada program yang berdampak luas bagi masyarakat,” tegasnya.


Dengan berbagai indikator yang mulai menunjukkan perbaikan, Pemerintah Provinsi Lampung menargetkan tahun 2027 sebagai fase akselerasi pembangunan, dengan fokus pada penguatan fondasi ekonomi daerah yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.


“Perencanaan yang kita susun hari ini harus menjadi pijakan kokoh untuk menghadirkan pembangunan yang nyata, adil, dan berkelanjutan,” pungkasnya.(Bams)