Advertisement
Embung yang dibangun dengan anggaran sekitar Rp6,9 miliar tersebut awalnya dirancang sebagai pengendali banjir, konservasi air, sekaligus ruang publik baru dengan kapasitas tampung mencapai 30 juta liter air. Proyek ini dikerjakan oleh CV Raden Galuh di bawah Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Lampung.
Namun, kondisi di lapangan menunjukkan hal berbeda. Sejumlah fasilitas terlihat terbengkalai, bahkan muncul dugaan proyek tersebut dibangun tidak sesuai standar hingga berpotensi merugikan keuangan negara.
Aliansi Tunas Lampung melalui pembinanya, Yusantri, turut meninjau langsung lokasi bersama sejumlah wartawan. Ia menilai keberadaan embung yang digadang sebagai solusi banjir justru belum memberikan dampak signifikan.
“Faktanya, setelah diresmikan tahun lalu, banjir masih sering terjadi di Bandar Lampung, bahkan sampai menimbulkan korban jiwa,” ujarnya.
Ketua Harian Aliansi Tunas Lampung, M. Nur Arsan Subin, menilai proyek tersebut gagal dari sisi kualitas konstruksi. Ia mengungkapkan, dalam waktu kurang dari empat bulan sejak diresmikan, sudah ditemukan berbagai kerusakan.
Pantauan di lokasi menunjukkan pagar pembatas yang terkesan seadanya, retakan pada sejumlah bagian bangunan, hingga kebocoran di area dekat jembatan penghubung. Selain itu, tanaman di sekitar jogging track tampak layu bahkan mati, sehingga fungsi ruang terbuka hijau tidak berjalan optimal.
“Dengan anggaran hampir Rp 7 miliar, bangunan ini jauh dari kata baik dan berkualitas,” tegas Arsan.
Ia juga menyampaikan informasi yang beredar di masyarakat bahwa proyek tersebut disebut-sebut sebagai proyek gagal dan kemungkinan akan dibangun ulang.
“Katanya sih proyek gagal, dan kabarnya mau dibangun ulang tahun ini, tapi kami belum mendapat kepastian,” tambahnya.
Keluhan serupa juga disampaikan warga sekitar. Seorang warga di wilayah Langkapura menilai pembangunan embung tersebut terkesan menghamburkan anggaran negara.
“Baru hitungan bulan sudah rusak, ada kebocoran dan keretakan. Kondisinya juga terlihat kering, jadi pemandangannya buruk,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait, khususnya Dinas PSDA Provinsi Lampung. Saat proyek tersebut berjalan, instansi itu masih dipimpin oleh Budi Darmawan.
Kondisi terbengkalainya Embung Kemiling ini menjadi catatan kritis di tengah upaya Pemerintah Provinsi Lampung yang tengah gencar mendorong pembangunan infrastruktur di berbagai sektor.(tim)