lisensi

Jumat, 10 April 2026, April 10, 2026 WIB
Last Updated 2026-04-10T09:37:54Z
Nasional

Pertamina Siaga Gejolak Timur Tengah, Prioritaskan Keamanan Armada

Advertisement



Jakarta (Pikiran Lampung) – PT Pertamina (Persero) terus memantau perkembangan situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama terkait dinamika di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi global. Perusahaan menyatakan siap memanfaatkan peluang dibukanya kembali jalur pelayaran tersebut, meski kondisi keamanan masih berfluktuasi.


VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan pihaknya menyambut positif adanya gencatan senjata yang sempat membuka akses pelayaran di Selat Hormuz. Namun demikian, situasi kembali memanas akibat konflik di Lebanon.


“Pertamina melalui PIS (Pertamina International Shipping) akan memanfaatkan momentum dibukanya rute Selat Hormuz melalui koordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri dan otoritas setempat, agar diplomasi dan negosiasi mendapat hasil yang positif,” ujar Baron dalam keterangan tertulis, Kamis (9/4/2026).


Ia menegaskan, Pertamina tetap mengedepankan aspek keselamatan dalam setiap aktivitas operasional, termasuk bagi armada kapal tanker yang berada di wilayah terdampak.

“Kedua kapal tanker masih berada di kawasan Teluk Arab dalam kondisi aman,” kata Baron.


Menurutnya, perusahaan terus melakukan pemantauan intensif dan berkoordinasi dengan berbagai pihak guna meminimalkan potensi risiko.

“Prioritas utama Pertamina adalah keselamatan dan keamanan awak beserta muatannya,” tegasnya.


Sementara itu, situasi geopolitik di kawasan masih dibayangi ketegangan. Iran bahkan mengancam akan menutup kembali Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon. Juru bicara Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ibrahim Rezaei, menyerukan penghentian aktivitas pelayaran di jalur tersebut.

“Sebagai tanggapan terhadap agresi brutal Israel di Lebanon, pergerakan kapal di Selat Hormuz harus segera dihentikan,” ujarnya.


Di sisi lain, konflik di Lebanon juga memicu reaksi keras dari berbagai pihak internasional. Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia PBB, Volker Türk, menyebut dampak serangan tersebut sangat mengkhawatirkan.

“Skala pembunuhan dan kehancuran akibat serangan itu mengerikan,” kata Türk, seraya mendesak komunitas internasional segera menghentikan konflik.


PHE Genjot Produksi Migas di Tengah Tantangan Global

Di tengah dinamika global tersebut, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mencatat kontribusi signifikan terhadap produksi minyak dan gas nasional sepanjang 2025. Direktur Perencanaan Strategis, Portofolio, dan Komersial PHE, Edi Karyanto, menyebut capaian tersebut menunjukkan tingginya produktivitas aset yang dikelola.

“PHE mengelola sekitar 27 persen wilayah kerja migas, namun mampu memberikan kontribusi 65 persen produksi minyak dan 35 persen lifting gas nasional,” ujar Edi.


Ia menjelaskan, produksi migas PHE mencapai sekitar satu juta barrel oil equivalent per day (BOEPD), dengan produksi minyak sebesar 557 ribu BOEPD.

“Sekitar 400 ribu BOEPD berasal dari dalam negeri dan sisanya dari luar negeri seperti Malaysia, Irak, dan Aljazair,” jelasnya.


Untuk tahun 2026, PHE menargetkan peningkatan produksi minyak menjadi 595 ribu barel per hari, meskipun menghadapi tantangan penurunan alami dari lapangan tua.

“Kami menyadari decline rate cukup tinggi karena sebagian besar lapangan yang dikelola merupakan lapangan tua,” ungkap Edi.


Guna mencapai target tersebut, PHE akan mempertahankan aktivitas eksplorasi dan eksploitasi secara agresif, termasuk pengeboran hingga ratusan sumur.

“Beberapa aktivitas seperti seismik 2D dan 3D serta pengeboran di kisaran 800 sumur tetap kami jaga,” katanya.


Edi menambahkan, upaya peningkatan produksi ini juga merupakan bagian dari komitmen menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global.

“Tantangan saat ini memang gejolak di Timur Tengah. Karena itu, kita harus memastikan ketersediaan energi tanpa ketergantungan pada pihak lain,” ujarnya.


Selain itu, PHE juga menjalankan strategi dual growth dengan mengembangkan energi rendah karbon seperti carbon capture and storage (CCS) dan carbon capture, utilization, and storage (CCUS).

“Kami akan terus meningkatkan produksi sekaligus menjalankan strategi bisnis berkelanjutan,” pungkas Edi.(*)