Advertisement
| Foto istimewa |
Jakarta (Pikiran Lampung)- Berbeda dari pendahulunya, kali ini Menteri Keuangan Indonesia, dengan halus namun tegas menolak bantuan alias utang dari pihak luar.
Ya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa
menyebut Indonesia tidak membutuhkan bantuan dari Dana Moneter Internasional
(IMF) dalam menghadapi dampak dari ketidakpastian global.
Purbaya menyebut IMF menyediakan dana bantuan untuk
negara-negara yang terdampak akibat ketidakpastian yang dipicu perang, sebagaimana
dikuti dari laman Ekonomi.Bisnis, Kamis (16/4/2024).
Namun, dia menyebut Indonesia tidak membutuhkan bantuan
itu berkat adanya bantalan fiskal berupa Saldo Anggaran Lebih (SAL) di kas
pemerintah senilai total Rp420 triliun.
"Tentu saja
Indonesia tidak membutuhkan karena anggaran kami cukup baik dan kami masih
punya bantalan yang cukup besar yaitu Rp420 triliun yang saya bilang
sebelumnya," jelasnya di Washington DC, Rabu (15/4/2026).
Purbaya menceritakan bahwa IMF tidak memiliki kebijakan
khusus untuk mengurangi ketidakpastian. Lembaga itu juga memprakirakan
ketidakpastian global masih akan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan
akibat perang yang belum terlihat ujung penyelesaiannya.
Kesempatan itu
turut diambil Purbaya dan rombongan untuk menjelaskan kebijakan fiskal
pemerintah Indonesia kepada IMF. Dia menyampaikan kepada Direktur Pelaksana IMF
bahwa Indonesia telah mengubah kebijakan perekonomian sejak akhir 2025.
Ekonom yang pernah
bekerja di Kantor Staf Presiden (KSP) itu mengeklaim pertumbuhan ekonomi
Indonesia sedang mengalami percepatan ketika terjadi guncangan akibat perang
antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.
Salah satu kebijakan pemerintah yang dimaksud Purbaya
adalah menggunakan APBN sebagai peredam guncangan (shock absorber) terhadap
kenaikan harga minyak. Hasilnya, pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi
tidak akan naik sampai akhir tahun.
"Ya mereka
agak bingung sebetulnya tadinya kenapa kita bisa bertahan di tengah keadaan
global yang seperti ini," ucapnya.
Adapun sepanjang
hari itu Purbaya bertemu berbagai pihak mulai dari investor, lembaga
multilateral maupun pemeringkat asing. Beberapa di antaranya adalah 18 investor
termasuk Goldman Sachs Asset Management dan Fidelity, Bank Dunia serta
S&P.
Pertemuan ini digelar di Washington DC di sela-sela
partisipasinya pada acara IMF and World Bank Group Spring Meeting 2026. (***)