Advertisement
Mesuji (Pikiran Lampung)- Setelah mencuat Ustad Azhari di
Pati yang mencabuli puluhan santrinya, kini dugaan serupa muncul di Lampung,
tepatnya di Bumi Ragab Begawi Caram.
aksi anarkis melanda Desa Tanjung Mas Jaya, Kecamatan
Mesuji Timur, Kabupaten Mesuji, Lampung.
Ratusan warga merusak dan membakar fasilitas Pondok
Pesantren (Ponpes) Nurul Jadid serta rumah pribadi pimpinannya pada Jumat malam
(8/5/ 2026) lalu.
Aksi massa ini diduga kuat dipicu oleh kekecewaan warga
atas lambannya penanganan kasus dugaan pencabulan yang menyeret pimpinan pondok
pesantren berinisial MFS.
Ketegangan sebenarnya telah berlangsung sejak kasus ini
mencuat tahun lalu.
Warga sebelumnya telah mendesak agar ponpes ditutup dan MFS meninggalkan lokasi.
Namun, situasi memuncak ketika warga mendapati MFS
kembali dan bertahan di lingkungan pesantren sejak Maret 2026.
“Warga telah memperingatkan yang bersangkutan untuk
meninggalkan ponpes, tetapi tidak ada respons positif.
Hal itu memicu tindakan anarkistis,” ujar Sekretaris
Daerah Kabupaten Mesuji, Budiman Jaya, Minggu (10/5/ 2026).
Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Pol Yuni Iswandari,
menambahkan bahwa warga sempat memberikan tenggat waktu bagi MFS untuk pergi.
Namun, emosi massa tersulut saat mengetahui pimpinan ponpes tersebut masih
berada di lokasi.
Massa yang marah
kemudian merusak fasilitas bangunan sebelum akhirnya melalapnya dengan api.
Dalam rekaman video amatir yang viral di media sosial,
kobaran api tampak menghanguskan hampir seluruh bangunan utama. Beruntung,
tidak ada korban jiwa dalam insiden ini karena pondok pesantren dalam keadaan
kosong tanpa santri.
Hingga Minggu petang, situasi di lokasi dilaporkan mulai
kondusif. Aparat kepolisian telah memasang garis polisi dan melakukan olah
Tempat Kejadian Perkara (TKP) guna penyelidikan lebih lanjut.
Pihak kepolisian bergerak cepat dengan mengamankan satu
orang yang diduga terlibat dalam aksi perusakan dan pembakaran tersebut.
Saat ini, kepolisian fokus pada dua lini penyelidikan
yaitu kasus anarkisme dan pembakaran yang dilakukan oleh massa.
Lalu jasus dugaan pencabulan yang menjadi akar
permasalahan. “Kami masih melakukan penyelidikan mendalam baik terkait aksi
anarkisme maupun dugaan kasus asusila yang berkembang di masyarakat,” tegas
Yuni Iswandari.
Pemerintah Kabupaten Mesuji dan aparat mengimbau warga
untuk tetap tenang dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada pihak
berwajib agar kejadian serupa tidak terulang kembali. (**)