lisensi

Rabu, 06 Mei 2026, Mei 06, 2026 WIB
Last Updated 2026-05-07T04:36:04Z
IteraPendidikan

Program Infrastruktur Tahan Tsunami Itera Dapat Dukungan Internasional melalui UNESCO-IOC

Advertisement



Lampung Selatan (Pikiran Lampung) - Komitmen Institut Teknologi Sumatera (Itera) dalam memperkuat ketahanan infrastruktur pesisir dari ancaman tsunami mendapat dukungan internasional. Melalui program SUSTAIN (Strengthening Tsunami-Resilient Infrastructure) yang digagas Pusat Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami, Itera dipercaya terlibat dalam inisiatif global yang terhubung dengan UNESCO melalui kerangka kerja Intergovernmental Oceanographic Commission (UNESCO-IOC).


Kepala Pusat Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami Itera, Prof. Ir. Harkunti Pertiwi Rahayu, Ph.D., menyampaikan bahwa dukungan internasional tersebut menjadi pengakuan atas kapasitas dan kontribusi Itera dalam pengembangan ilmu mitigasi bencana berbasis infrastruktur kritis. “Program ini menunjukkan bahwa Itera tidak hanya berkontribusi di tingkat nasional, tetapi juga dipercaya dalam agenda global untuk penguatan ketahanan infrastruktur pesisir terhadap tsunami,” ujar Prof. Harkunti.


Program SUSTAIN diajukan kepada UNESCAP Trust Fund for Tsunami, Disaster and Climate Preparedness dan menjadi bagian dari implementasi UN Decade of Ocean Science for Sustainable Development 2021–2030. Inisiatif ini juga terintegrasi dengan sistem peringatan dini tsunami global, seperti Indian Ocean Tsunami Warning and Mitigation System (IOTWMS) dan Pacific Tsunami Warning System (PTWS).


Menurut Prof. Harkunti, latar belakang program ini tidak terlepas dari meningkatnya kerentanan infrastruktur kritis di wilayah pesisir, serta masih terbatasnya panduan teknis dalam desain dan pengelolaan infrastruktur tahan tsunami.


“Kerusakan infrastruktur akibat tsunami dapat memicu dampak berantai yang luas, mulai dari gangguan transportasi, energi, hingga layanan dasar. Karena itu, dibutuhkan pendekatan berbasis sains yang terintegrasi,” jelasnya.


Kerusakan infrastruktur akibat tsunami dapat memicu dampak berantai yang luas, mulai dari gangguan transportasi, energi, hingga layanan dasar. Karena itu, dibutuhkan pendekatan berbasis sains yang terintegrasi

Dalam program ini, Itera berperan sebagai implementing partner utama dengan kontribusi pada pengembangan kerangka penilaian risiko, pelaksanaan studi lapangan pada infrastruktur pesisir termasuk bandara serta penyusunan pedoman teknis dan pelaksanaan kegiatan capacity building.


Program SUSTAIN menargetkan penyusunan pedoman mutakhir dalam penilaian risiko dan desain infrastruktur tahan tsunami, sekaligus memperkuat kapasitas kelembagaan negara anggota. Manfaat program ini diharapkan dapat menjangkau 28 negara anggota IOTWMS dan 46 negara anggota PTWS.


Keterlibatan Itera dalam program ini juga memperkuat kolaborasi lintas negara dan sektor dengan melibatkan institusi akademik dari Indonesia, Jepang, dan Sri Lanka, organisasi internasional, pemerintah, operator infrastruktur, hingga komunitas pesisir. Partisipasi negara berkembang dan Small Island Developing States (SIDS) seperti Timor Leste dan Vanuatu turut memperkuat dimensi inklusivitas serta pertukaran pengetahuan.


Lebih lanjut, Prof. Harkunti menegaskan bahwa dukungan internasional ini menjadi momentum bagi Itera untuk memperkuat perannya sebagai pusat keunggulan dalam mitigasi bencana. “Harapannya, hasil program ini dapat terinstitusionalisasi dalam kebijakan dan praktik, serta direplikasi di berbagai negara. Dengan demikian, Itera dapat terus berkontribusi dalam membangun ketahanan infrastruktur pesisir yang berkelanjutan,” ujarnya.(shine anju)