Advertisement
| Foto Istimewa |
Bandarlampung (Pikiran Lampung)- Hampir semua warga di
Provinsi Lampung, mulai merasakan dampak cuaca panas musim kemarau yang cukup
meyengat pada pertengahan Bulan Juni 2026 ini.
Secara Global, cuaca panas juga melanda di kawasan Benua
Asia, Eropa dan Amerika.
Gelombang panas ekstrem kembali melanda Eropa dan Amerika
Serikat pada Senin, 22 Juni 2026 lalu.
Fenomena yang
disebut kubah panas ini membuat udara panas terperangkap di atmosfer sehingga
suhu terus meningkat, bahkan di sejumlah wilayah diperkirakan menembus lebih
dari 40 derajat Celcius.
Di Eropa, negara seperti Prancis, Spanyol, Jerman, dan
Italia terdampak cukup parah, dengan Prancis mencatat suhu di atas 40 derajat
Celcius untuk awal musim panas.
Sementara itu, di Amerika Serikat, wilayah barat dari
Pegunungan Rocky hingga Pantai Pasifik juga mengalami suhu di atas normal dan meningkatkan
risiko kebakaran hutan. Sejumlah kebakaran dilaporkan terjadi dan memaksa
ribuan warga mengungsi.
Gelombang panas ekstrem yang melanda sebagian besar
wilayah Eropa menelan korban jiwa dan memecahkan rekor suhu di sejumlah kota
pada Senin (22/6/2026).
Di Prancis,
sedikitnya 18 orang meninggal dunia, termasuk dua balita yang ditemukan tak
sadarkan diri di dalam mobil keluarga yang terparkir di luar rumah mereka.
Cuaca panas yang menyelimuti Eropa juga memaksa sejumlah
sekolah di Prancis menutup kegiatan belajar atau mengubah jadwal operasional.
Sementara itu, badan meteorologi Inggris memperingatkan
suhu di negara tersebut berpotensi memecahkan rekor tertinggi untuk bulan Juni
dalam beberapa hari ke depan.
Di Bordeaux, kawasan penghasil anggur terkenal di Prancis
bagian barat, suhu mencapai 41,9 derajat Celsius, melampaui rekor sebelumnya
yang tercatat pada Agustus tahun lalu. Sementara di Poitiers, Prancis tengah,
suhu menyentuh 41,2 derajat Celsius dan memecahkan rekor yang telah bertahan
sejak 1947.
Gelombang panas juga menerjang Spanyol. Di San Sebastian,
kota yang biasanya dikenal beriklim sejuk di wilayah utara negara itu, suhu
diperkirakan mencapai 40 derajat Celsius. Angka tersebut lebih dari dua kali
lipat rata-rata historis suhu pada 22 Juni berdasarkan data Reuters Climate
Monitor.
Data tersebut menunjukkan bahwa Eropa pada Senin menjadi
benua yang penyimpangan suhunya paling jauh dibandingkan rata-rata historis
dibandingkan kawasan lain di dunia.
Temuan ini sejalan dengan laporan Organisasi Meteorologi
Dunia (WMO) yang dirilis pada April lalu. Laporan tersebut menyebutkan bahwa
laju pemanasan di Eropa berlangsung lebih dari dua kali lebih cepat dibandingkan
rata-rata global.
Dua Balita Meninggal di Dalam Mobil
Salah satu tragedi paling memilukan terjadi di Carpentras,
Prancis tenggara.
Jaksa setempat mengatakan petugas penyelamat tidak
berhasil menyelamatkan dua anak berusia dua dan empat tahun yang ditemukan
dalam kondisi tidak sadarkan diri oleh ibu mereka di dalam mobil keluarga yang
terparkir di luar rumah.
Korban jiwa akibat panas ekstrem juga tercatat di wilayah
Bordeaux. Tiga lansia berusia antara 80 hingga 95 tahun meninggal dunia selama
akhir pekan akibat gangguan kesehatan yang dipicu suhu tinggi.
Informasi tersebut disampaikan pejabat pemerintah daerah
Bordeaux, Sophie Brocas, kepada televisi Prancis pada Minggu malam.
Selain korban akibat sengatan panas, otoritas juga
mencatat lonjakan kematian karena tenggelam.
Juru bicara Layanan Keamanan Sipil Prancis, Jerome
Boulanger, mengimbau masyarakat agar tidak sembarangan mencari tempat untuk
mendinginkan diri.
"Berenanglah hanya di tempat-tempat yang diawasi
petugas," kata Boulanger.
Peringatan itu disampaikan setelah 13 orang dilaporkan
tenggelam dalam rentang waktu Minggu hingga Senin.
Data menunjukkan kematian akibat tenggelam di Prancis
melonjak 172% selama gelombang panas tahun lalu karena banyak warga berusaha
mendinginkan tubuh dengan berenang di sungai, danau, maupun kawasan perairan
lainnya.
Fenomena Omega Block
Para ilmuwan menjelaskan bahwa gelombang panas yang
melanda sebagian besar Eropa dipicu oleh fenomena atmosfer yang dikenal sebagai
Omega block.
Fenomena tersebut dinamakan demikian karena pola aliran
udaranya menyerupai huruf Yunani Omega, dengan kubah udara panas yang terjebak
di tengah dan udara yang lebih dingin berada di kedua sisinya.
Peneliti cuaca ekstrem dan iklim dari Imperial College London,
Clair Barnes, menjelaskan bahwa sistem cuaca tersebut menarik udara panas dari
Afrika Utara menuju Eropa.
"Fenomena ini menarik udara hangat dari Afrika Utara,
dari Gurun Sahara, dan itulah sebabnya kita mengalami panas yang sangat ekstrem
ini. Pergerakannya sangat lambat dan itu berarti hampir tidak ada angin atau
hembusan udara yang bisa memberikan sedikit kelegaan," ujarnya.
Menurut Barnes, pergerakan sistem cuaca yang lambat
membuat udara panas bertahan lebih lama dan menyulitkan wilayah terdampak untuk
mendapatkan pendinginan alami.
Ia juga menegaskan bahwa perubahan iklim memperparah
kejadian cuaca ekstrem.
"Gelombang panas dan badai semakin diperparah oleh
perubahan iklim, yang mendorong suhu menjadi lebih tinggi dan menyebabkan curah
hujan lebih banyak," katanya.
Inggris Terancam Pecahkan Rekor Suhu Juni
Inggris juga kini menghadapi ancaman panas yang tidak
biasa. Met Office, badan meteorologi nasional Inggris, memperkirakan gelombang
panas selama empat hari dapat mendorong suhu melebihi 39 derajat Celsius di
sejumlah wilayah.
Jika perkiraan tersebut terwujud, Inggris akan memecahkan
rekor suhu tertinggi bulan Juni yang saat ini berada di angka 35,6 derajat
Celsius dan tercatat pada 1957 serta 1976.
Prediksi tersebut muncul hanya beberapa pekan setelah
Inggris memecahkan rekor suhu tertinggi untuk bulan Mei. Warga mulai
mengeluhkan kondisi cuaca yang makin menyengat.
"Suhu 36 derajat akan terasa sangat menyiksa,"
kata ilmuwan data Lewis Jennings saat berjalan di pusat Kota London.
Kondisi serupa terjadi di Spanyol. Juru bicara badan
meteorologi AEMET, Rubén del Campo, mengatakan suhu di berbagai wilayah berada
jauh di atas kondisi normal untuk periode ini.
"Kami melihat suhu berada antara 5 hingga 10 derajat
di atas normal untuk periode tahun seperti sekarang, dan di beberapa wilayah
utara bahkan lebih dari 10 derajat di atas rata-rata," ujarnya.
Italia Siaga Merah
Di Italia, pemerintah mengeluarkan peringatan gelombang
panas tingkat merah untuk 12 kota pada Senin. Cuaca ekstrem mulai menimbulkan
gangguan pada sistem kelistrikan.
Perusahaan utilitas Iren menyatakan telah menggandakan
giliran kerja petugas dan menambah generator untuk mengatasi pemadaman listrik
sporadis di Turin, ketika jaringan listrik mengalami tekanan akibat
meningkatnya konsumsi energi.
Lonjakan penggunaan pendingin udara dan peralatan listrik
lainnya selama cuaca panas menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya beban
jaringan.
Satwa Liar Ikut Terdampak
Gelombang panas tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi
juga satwa liar.
Burung-burung seperti walet, burung layang-layang, pipit,
dan jalak yang biasanya bersarang di bawah atap rumah menjadi salah satu
kelompok hewan yang paling terdampak.
Pendiri pusat rehabilitasi satwa liar Centre for the
Rehabilitation of Animals Living in the Wild di Temploux, Belgia, Romaine de
Jaegere, mengatakan suhu di bagian atap bangunan dapat mencapai tingkat yang
mematikan.
"Suhu di atap-atap bangunan terkadang bisa mencapai
50 bahkan 60 derajat Celsius. Karena itu mereka lebih memilih melompat daripada
membiarkan diri mereka mati dan benar-benar terpanggang di dalam
sarangnya," kata De Jaegere.
Ia menambahkan bahwa tempat perlindungan satwa yang
dikelolanya menerima sekitar 150 hewan dalam tiga hari terakhir akibat dampak
suhu ekstrem tersebut. (**)