Advertisement
Lamtim (Pikiran Lampung)- Situs cagar budaya Taman Purbakala Pugung Raharjo, yang terletak di Dea Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur meyimpan sejarah panjang.
Yang hingga saat ini masih banyak menyimpan misteri dan jadi bahan penelitian baik dari dalam maupun luar negeri.
Taman Purbakala Pugung Raharjo atau juga dikenal Punden Berundak, diyakini oleh masyarakat adat Lampung sebagai lokasi Keratuan Pugung, salah satu kerajaan besar tertua di Provinsi Lampung, yang pada masa itu diyakini masyarakatnya merupakan penganut Agama Budha.
Lokasi ini diyakini dan berdasarkan peneltian merupakan tempat pemujaan para penganut Hindu dan Budha pada masa Keratuan Balau atau bahkan mungkin pada masa sebelumnya.
Menurut Sholeh, ASN Tamana Purbakala Pugung Raharjo yang juga asli warga setempat, masyarakat Lampung meyakini jika situ purbakala ini dulu dibuat oleh Ratu Pugung sebagai tempat pertahanan dan pemujaaan.
" Jadi mayoritas Orang Lampung asli yang pernah kesini, pasti mereka bilangnya mulang jak lamban, karena di sini diyakini merupakan pusat keratuan Pugung yang juga asal muasal sebgaian besar orang Lampung,"jelasnya.
Namun, kata Sholeh, hal ini memang perlu kajian lebih lanjut oleh para ahli.
Sementara itu, Widiyanto Prastiyo atau biasa disapa Mas Widi, ASN sekalisgus pemanndu taman Purbakala Pugung Raharjo, menjelaskan jika awal mula ditemukannya Situs pubkala yang bernilai sejarah sangat tinggi ini oleh transmigran asal pulau Jawa.
" Jadi pertama kali ditemukan oleh para transmigaran asal Jawa mas, sekitar tahun 1957,"jelanya, Kamis (6/8/2026) kepada Pikiran Lampung saat menerima rombongan SMSI Lampung.
Dimana, yang ditemukan pertama kalinya adalah satu Arca atau patung Budha di reruntuhan Situs Purbakala Pugung Raharjo Lamtim. " Acha Budhanya masih ada mas, kita simpan di museum di depan lokasi situ ini,"jelasnya.
Lalu, setelah ditemukannya Arca tersebut, lantas oleh masyarakat langsung dilaporkan ke pemeritah darurat Republik Indonesia di Jakarta. '"Lalu pada tahun 1970 dimulailah penelitian dan mulai dibuka srta diresmikan untuk umum sekitar tahun 1980 hingga 1984,"jelas Widi.
Menurutnya, kawasan ini meilik luas sekitar 25 hektare, hingga kini terus diteliti dan dipugar resmi dan dibuka sebagai taman wisata sejarah.
Hingga saat ini pemugaran serta pmeluharaan terus dilakukan oleh pemerintah pusat bersama pemprov Lampung,"jelasnya.
Maih menurt Widi, benda-benda di situs ini berasal dari zaman prasejarah, klasik (Hindu-Buddha), hingga zaman Islam. Berikut beberapa peninggalannya:
Arca Bodhisatwa/Patung Putri Badariyah, ditemukan di tanggal
14 Agustus 1957 oleh Kadiran, ditemukan di bagian timur situs Pugung
Raharjo, arca ini bersifat Budhis dan diberi nama masyarakat setempat dan
diberi nama Patung Putri Badariyah.
Lalu ada Arca tipe Polinesia, yang ditemukan di tahun 1963 oleh Abdul Rahman. Dan Prasasti Bungkuk: merupakan prasasti peninggalan zaman klasik (Hindu-Buddha).
Punden berundak: merupakan hasil karya manusia pendukung
dari tradisi megalitik yang dikatakan sebagai megalitikum tua.
Batu berlubang, Lumpang batu, dan Batu tergores: temuan batu
ini diprediksi sebagai alat upacara di sekitar sungai atau mata air di Pugung
Raharjo.
Kapak batu, beliung: merupakan alat yang digunakan untuk
berburu.
Kompleks batu mayat: berupa situs berbentuk susunan batu
tegak dan batu datar yang dengan persegi panjang seperti kandang.
Kolam megalitik: sebuah mitos yang berkembang sampai saat
ini bahwa kolam megalitik ini digunakan para putri dan ratu Pugung Raharjo
untuk mencuci, mandi, meramu, dan ritual pemujaan.
Manik-manik: merupakan aksesoris wanita yang digunakan sebagai perlengkapan upacara serta Peralatan rumah tangga. Pantauan Pikiran Lampung, situs purbakala Cagar Budaya Pugung Harjo ini cukup ramai dikunjungi pelancong atau wisatawan. Terutama para penyuka sejarah.
Penulis/Editor : Wawan Nunyai