lisensi

Kamis, 20 Agustus 2026, Agustus 20, 2026 WIB
Last Updated 2026-08-20T10:23:19Z
Kesehatan

Amandel Jangan Dianggap Sekadar Sakit Tenggorokan, Kenali Bahaya Sumbatan Napas Saat Tidur

Advertisement



Bandar Lampung (Pikiran Lampung) – Amandel atau tonsilitis kerap dianggap sebagai masalah kesehatan ringan yang hanya menyebabkan sakit tenggorokan. Padahal, pada kondisi tertentu, amandel yang mengalami peradangan berulang atau membesar dapat mempersempit jalan napas dan memicu Obstructive Sleep Apnea (OSA) atau gangguan henti napas saat tidur.


Amandel merupakan jaringan yang berada di sisi kanan dan kiri belakang tenggorokan. Jaringan ini berperan membantu sistem kekebalan tubuh melawan kuman yang masuk melalui mulut dan hidung.


Namun, amandel dapat mengalami peradangan akibat infeksi virus maupun bakteri. Ketika meradang, amandel biasanya membesar, kemerahan, terasa nyeri, dan terkadang disertai bercak putih atau nanah.


Gejala yang umum muncul antara lain sakit tenggorokan, nyeri saat menelan, demam, batuk, sakit kepala, nyeri telinga, tubuh terasa lemas, bau mulut, serta pembengkakan kelenjar di leher.


Pada sebagian orang, keluhan tersebut dapat membaik dalam beberapa hari. Namun, amandel yang sering kambuh, berukuran sangat besar, atau sudah mengganggu pernapasan perlu mendapat perhatian lebih serius.


Amandel Besar Bisa Mengganggu Jalan Napas


Amandel tidak hanya dapat menyebabkan nyeri tenggorokan. Ketika ukurannya terlalu besar, jaringan tersebut dapat mempersempit jalan napas, terutama ketika seseorang sedang tidur.


Saat tidur, otot-otot di sekitar tenggorokan menjadi lebih rileks. Jika amandel sudah membesar, ruang bagi udara untuk keluar dan masuk menjadi semakin sempit. Kondisi tersebut dapat menyebabkan seseorang mendengkur.


Dalam kondisi yang lebih berat, jalan napas dapat tersumbat sementara sehingga napas berhenti selama beberapa detik. Kondisi inilah yang dikenal sebagai OSA.


Pada anak-anak, amandel yang membesar merupakan salah satu penyebab penting gangguan pernapasan saat tidur. Sayangnya, kondisi ini sering tidak disadari karena mendengkur pada anak kerap dianggap sebagai hal biasa.


Padahal, anak yang mendengkur keras hampir setiap malam, tampak kesulitan bernapas ketika tidur, atau sesekali berhenti bernapas perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut.


Mengenal Obstructive Sleep Apnea


OSA merupakan gangguan tidur yang terjadi ketika saluran napas tersumbat berulang kali selama tidur. Akibatnya, napas dapat berhenti sesaat dan kadar oksigen dalam tubuh menurun.


Otak kemudian memicu respons singkat agar tubuh kembali bernapas dan saluran napas terbuka. Penderita tidak selalu menyadari gangguan tersebut sehingga sering merasa telah tidur cukup lama, tetapi tetap bangun dalam kondisi lelah.


Pada anak, OSA dapat menyebabkan tidur gelisah, mendengkur, sulit berkonsentrasi, mudah marah, hiperaktif, hingga mengalami penurunan prestasi belajar.


Sementara pada orang dewasa, gangguan ini dapat menimbulkan rasa mengantuk berlebihan pada siang hari, sakit kepala saat bangun, sulit berkonsentrasi, serta meningkatkan risiko sejumlah masalah kesehatan, termasuk tekanan darah tinggi dan penyakit kardiovaskular.


Kenali Tanda Bahaya


Masyarakat perlu mengenali tanda-tanda ketika amandel mulai menimbulkan gangguan yang lebih serius.


Pertama, mendengkur keras hampir setiap malam. Mendengkur sesekali, misalnya ketika sedang pilek, dapat terjadi. Namun, mendengkur terus-menerus dengan suara keras dan disertai tidur tidak nyenyak perlu diperhatikan.


Kedua, napas berhenti saat tidur. Penderita dapat terlihat tidak bernapas selama beberapa detik, kemudian kembali bernapas dengan suara tersedak, mendengus, atau terengah-engah.


Ketiga, tidur gelisah. Penderita dapat sering berubah posisi, berkeringat, atau terbangun berulang kali meskipun durasi tidurnya cukup.


Keempat, sering bernapas melalui mulut. Anak dengan amandel besar dapat tidur dengan mulut terbuka dan lebih sering bernapas melalui mulut pada siang hari. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan mulut serta pertumbuhan rahang dan susunan gigi.


Kelima, sulit fokus dan mudah lelah. Pada orang dewasa, gangguan tidur dapat menyebabkan rasa mengantuk berlebihan. Sementara pada anak, gejalanya justru dapat berupa hiperaktif, mudah marah, sulit memperhatikan pelajaran, atau prestasi sekolah menurun.


Keenam, sakit tenggorokan berulang. Amandel yang sering meradang dan membesar hingga mengganggu makan, menelan, tidur, atau bernapas sebaiknya diperiksakan ke dokter.


Jangan Abaikan Dampaknya


Amandel yang membesar dan menyebabkan gangguan napas saat tidur dapat berdampak terhadap kualitas hidup. Henti napas yang terjadi berulang kali sepanjang malam dapat menyebabkan kadar oksigen tubuh turun dan mengganggu kualitas tidur.


Pada anak, OSA dapat berdampak pada pertumbuhan, perilaku, kemampuan belajar, serta kondisi emosional. Anak dapat menjadi mudah lelah, sulit berkonsentrasi, mudah marah, atau justru menunjukkan perilaku hiperaktif.


Pada orang dewasa, gangguan tidur dapat menyebabkan kelelahan, konsentrasi menurun, produktivitas terganggu, serta meningkatkan risiko kecelakaan akibat mengantuk. Jika tidak ditangani, OSA juga berkaitan dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi dan gangguan kardiovaskular.


Karena itu, mendengkur akibat amandel besar tidak seharusnya dianggap sebagai kebiasaan tidur biasa, terutama jika disertai napas berhenti, tersedak saat tidur, atau tubuh tetap terasa lelah ketika bangun.


Kapan Harus ke Dokter?


Pemeriksaan medis perlu dilakukan jika sakit tenggorokan tidak membaik dalam beberapa hari, sering kambuh, disertai demam tinggi, sulit menelan, kesulitan makan dan minum, atau terdapat bercak putih pada amandel.


Pemeriksaan juga dianjurkan ketika amandel membesar dan disertai:

Mendengkur keras hampir setiap malam.

Napas tampak berhenti saat tidur.

Sering tersedak atau terengah-engah ketika tidur.

Tidur gelisah dan tidak nyenyak.

Sering bernapas melalui mulut.

Anak sulit fokus, mudah marah, atau mengalami penurunan prestasi belajar.

Orang dewasa sering mengantuk pada siang hari.

Sakit tenggorokan berulang.

Sulit menelan atau mengalami perubahan suara.

Berat badan anak sulit bertambah atau pertumbuhannya tampak terganggu.


Pertolongan medis segera diperlukan apabila penderita tampak kesulitan bernapas, tidak dapat menelan air liur, sulit membuka mulut, leher terlihat membengkak, atau mengalami nyeri tenggorokan yang sangat berat.


Tidak Semua Amandel Besar Harus Dioperasi


Amandel yang besar tidak otomatis harus diangkat melalui operasi. Keputusan untuk menjalani tindakan medis harus berdasarkan hasil pemeriksaan dokter.


Dokter akan mempertimbangkan sejumlah faktor, seperti frekuensi peradangan, ukuran amandel, gangguan saat makan dan menelan, serta ada atau tidaknya gangguan pernapasan saat tidur.


Pada peradangan ringan, penanganan dapat berupa istirahat yang cukup, memperbanyak minum, mengonsumsi makanan lunak, serta menggunakan obat pereda nyeri atau demam sesuai anjuran dokter.


Jika infeksi disebabkan bakteri, dokter dapat memberikan antibiotik. Namun, antibiotik tidak boleh digunakan sembarangan karena tidak semua sakit tenggorokan disebabkan oleh bakteri.


Operasi pengangkatan amandel dapat dipertimbangkan jika amandel sering mengalami peradangan, berukuran sangat besar, menyebabkan sumbatan jalan napas, atau telah menimbulkan OSA.


Dengan demikian, keputusan operasi bukan semata-mata karena amandel terlihat besar, tetapi berdasarkan gangguan nyata yang ditimbulkannya terhadap kesehatan dan kualitas hidup penderita.


Jangan Sembarangan Mengonsumsi Antibiotik


Masyarakat juga diimbau tidak langsung membeli atau mengonsumsi antibiotik setiap kali mengalami sakit tenggorokan. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi, sehingga infeksi pada kemudian hari lebih sulit ditangani.


Selain itu, mendengkur keras pada anak tidak sebaiknya dianggap sebagai sesuatu yang lucu atau wajar. Anak yang mendengkur hampir setiap malam, terutama jika disertai napas berhenti, tidur gelisah, atau sering bernapas melalui mulut, perlu diperiksa.


Gangguan pernapasan saat tidur dapat berlangsung secara perlahan dan berulang. Dampaknya pun dapat muncul bertahap, seperti anak menjadi sulit fokus, mudah lelah, mudah marah, atau mengalami penurunan prestasi belajar.


Jaga Kesehatan Tenggorokan


Sejumlah langkah sederhana dapat dilakukan untuk membantu menjaga kesehatan tenggorokan dan mengurangi risiko radang amandel berulang.


Masyarakat dianjurkan rutin mencuci tangan dengan sabun, terutama sebelum makan dan setelah batuk atau bersin. Hindari berbagi alat makan dan minum dengan orang yang sedang sakit serta gunakan masker ketika mengalami batuk atau pilek untuk mengurangi risiko penularan.


Daya tahan tubuh juga perlu dijaga dengan mengonsumsi makanan bergizi, mencukupi kebutuhan cairan, tidur teratur, dan menghindari paparan asap rokok.


Jika anak sering mengalami batuk pilek, pilek berkepanjangan, atau hidung tersumbat, pemeriksaan juga perlu dipertimbangkan karena gangguan hidung dapat memperberat kebiasaan bernapas melalui mulut.


Jangan Sepelekan Amandel


Amandel memang sering dianggap sebagai gangguan kesehatan ringan. Namun, amandel yang sering meradang atau membesar dapat menimbulkan masalah serius ketika sudah mengganggu jalan napas, terutama saat tidur.


Mendengkur keras, napas berhenti saat tidur, sering tersedak, tidur gelisah, bernapas melalui mulut, mudah lelah, sulit fokus, hingga penurunan prestasi belajar merupakan tanda-tanda yang perlu diperhatikan.


Keluhan tersebut dapat menjadi petunjuk adanya OSA atau gangguan henti napas saat tidur. Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa durasi tidur yang panjang belum tentu menunjukkan tidur yang berkualitas.


Jika muncul tanda-tanda gangguan pernapasan saat tidur, pemeriksaan sebaiknya dilakukan sedini mungkin, terutama oleh dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher (THT-KL).


Amandel bukan sekadar masalah sakit tenggorokan. Pada kondisi tertentu, amandel yang membesar dapat menjadi penyebab sumbatan napas saat tidur. Kenali gejalanya, lakukan pemeriksaan lebih awal, dan cegah dampaknya sebelum mengganggu kesehatan serta kualitas hidup.(*)