lisensi

Sabtu, 08 Agustus 2026, Agustus 08, 2026 WIB
Last Updated 2026-08-08T11:46:05Z
OlahragaTimnas Gagal Lolos Semifinal AFF

Dari Mimpi Piala Dunia ke “Piala Tetangga”: Timnas Indonesia Gagal Lagi di AFF

Advertisement


Jakarta (Pikiran Lampung) – Ada kalanya sepak bola Indonesia terasa seperti serial yang penulisnya gemar membuat penonton berharap tinggi, lalu menutup episode dengan akhir yang sama: kecewa.


Timnas Indonesia baru saja menambah satu lagi episode tersebut. Bermain imbang 1-1 melawan Singapura pada fase grup Piala AFF 2026, Jumat (7/8/2026), skuad Garuda harus mengakhiri perjalanan lebih cepat dan gagal melangkah ke semifinal. Singapura justru memastikan tiket ke empat besar.


Ironisnya, beberapa waktu lalu kita masih sibuk membicarakan betapa dekatnya Indonesia dengan panggung terbesar sepak bola dunia. Tim yang pernah membuat publik bermimpi tampil di Piala Dunia 2026, bahkan mampu menembus putaran keempat kualifikasi Asia, kini harus mengemasi koper dari turnamen ASEAN sebelum semifinal.


Memang, mimpi Piala Dunia itu akhirnya kandas setelah Indonesia kalah 0-1 dari Irak pada Oktober 2025. Kekalahan tersebut membuat Indonesia finis di posisi terbawah Grup B putaran keempat tanpa poin.


Tetapi setidaknya perjalanan menuju putaran keempat sempat membuat standar harapan publik naik. Garuda terlihat seperti hendak meninggalkan status sebagai penguasa “hampir”. Hampir lolos, hampir juara, hampir membuat sejarah.


Sayangnya, untuk urusan “hampir”, Indonesia memang konsisten.


Di Piala AFF 2026, kesempatan untuk sekadar mencapai semifinal pun terlepas. Hanya butuh hasil yang tepat, tetapi lagi-lagi sepak bola Indonesia menemukan cara paling dramatis untuk membuat pendukungnya mengelus dada.


Melawan Singapura, Indonesia sempat unggul melalui Ragnar Oratmangoen pada awal babak kedua. Singapura kemudian menyamakan kedudukan lewat Ilhan Fandi. Skor 1-1 bertahan hingga pertandingan selesai dan menjadi tiket bagi Singapura untuk melaju, sementara Indonesia harus menerima kenyataan pahit.


Begitulah sepak bola.


Katanya ingin naik kelas ke Asia. Katanya sedang membangun fondasi menuju level dunia. Katanya kualitas pemain semakin bagus. Naturalisasi terus berjalan, pemain-pemain berkarier di luar negeri bermunculan, dan ekspektasi publik ikut terbang tinggi.


Tetapi ketika turnamen AFF datang, rupanya gravitasi masih terlalu kuat.


Tidak ada yang salah dengan gagal. Sepak bola memang mengenal kalah dan tersingkir. Yang menggelitik adalah jarak antara ekspektasi dan kenyataan yang kembali terbentang lebar.


Dari membayangkan lagu kebangsaan berkumandang di Piala Dunia, kini kita harus puas menyaksikan negara tetangga merayakan tiket semifinal AFF.


Ini bukan penghinaan terhadap AFF. Justru sebaliknya, turnamen ASEAN tetap penting dan kompetitif. Yang menjadi pertanyaan adalah: mengapa tim yang sedang membangun mimpi menjadi kekuatan baru Asia justru kesulitan menyelesaikan pekerjaan di level kawasan?


Bukankah seharusnya perkembangan menuju level dunia membuat kompetisi regional terasa lebih mudah ditaklukkan?


Atau jangan-jangan selama ini kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa Timnas Indonesia sudah naik kelas hanya karena berhasil memberikan beberapa malam yang membuat publik percaya?


Sepak bola tidak mengenal narasi. Sepak bola mengenal hasil.


Dan hasil terbaru mengatakan sederhana: Indonesia tidak ke semifinal AFF 2026.


Sementara Singapura melaju.


Mungkin ini waktunya berhenti terlalu sering merayakan kata “hampir”.


Hampir lolos Piala Dunia.


Hampir juara AFF.


Hampir semifinal.


Kalau terus begini, jangan-jangan prestasi paling konsisten Timnas Indonesia memang bukan menjadi juara, melainkan menjadi spesialis “tinggal sedikit lagi.”


Bedanya, kali ini bahkan “sedikit lagi” itu pun terasa terlalu jauh.


Dan untuk sebuah tim yang katanya sedang menuju level dunia, gagal melewati fase grup Piala AFF tentu bukan sekadar hasil imbang 1-1.


Ini alarm.


Keras sekali.


Sayangnya, kita sudah terlalu sering mendengar bunyinya.(*)