Advertisement
Bandar Lampung —Pemprov Lampung mengklaim bahwa Satelit Lampung 1 hasil kerjasama dengan Perusahaan Star Vision Chnia tidak menggunakan APBD Lampung.
Hal ini menjadi pertnyaan besar, benarkah ada 'makan siang' yang gratis, alias ada kerjasama yang cuma cuma. " benarkan ini tidak menggunakan APBD, kami sebaga rakyat Lampung perlu diberikan penjelasan lebih detail dan transparan,"ujar Sigit Darmaji, salah seorang warga Lampung, Senin (3/8/2026).
Menurutnya, kalau ini kerjasama jelas ada fakta hitam di atas putih yang saling menguntungkan. " Tidak mungkin sebuah perusahaan mau menjalin kerjasama tanpa adanya keuntungan besar yang diperoleh perusahaan tersebut,"ujar Sigit,
Hal yang sama juga diutarakan oleh Ali Fikri, warga dan tokoh pemuda tinggal di Bandarlampung.
" Kalau katanya kita mendapatkan infut data dari satelit tersebut, maka otomatis kita harus membayar dong ke perusahaan itu, nah uangnya dari mana kalau tidak menggunakan APBD, coba ini perlu dijelaskan secara menyeluruh oleh Gubernur Lampung dan jajarannya,"tegas Ali Fikri.
Menurutnya, masyarakat Lampung jangan terus dibuat bertanya tanya, tanpa menggunakan APBd lantas apa yang pak gubernur janjikan sebagai imbal balik dari kerjasama ini ke Perusahaan tersebut.
Untuk diketahui, Provinsi Lampung memasuki babak baru dalam pemanfaatan teknologi antariksa. Pada 5 Agustus 2026, satelit Lampung-1 dijadwalkan diluncurkan dari lepas pantai Shandong, Tiongkok, sebagai bagian dari misi peluncuran OSE Hyperspectral Twin Satellites yang dikembangkan perusahaan antariksa STAR.VISION Aerospace.
Peluncuran ini menjadi tonggak penting bagi pemanfaatan teknologi satelit dalam mendukung pembangunan daerah berbasis data. Lampung-1 dibangun melalui kolaborasi STAR.VISION bersama Pemerintah Provinsi Lampung yang dikoordinasikan dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Kolaborasi tersebut diawali dengan penandatanganan kerja sama antara Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dan STAR.VISION di Shandong, Tiongkok, pada 28 Mei 2025. Melalui kerja sama tersebut, Lampung menjadi salah satu daerah pertama di Indonesia yang memanfaatkan teknologi satelit hyperspectral untuk mendukung pembangunan daerah.
Yang menjadi pembeda, kolaborasi ini tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Satelit Lampung-1 bukan merupakan aset milik Pemerintah Provinsi Lampung, melainkan dimiliki dan dioperasikan oleh STAR.VISION Aerospace. Pemerintah Provinsi Lampung memanfaatkan data dan teknologi yang dihasilkan satelit tersebut untuk mendukung perencanaan pembangunan, pelayanan publik, dan pengambilan kebijakan berbasis data.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan bahwa kehadiran Lampung-1 merupakan langkah strategis untuk memperkuat tata kelola pemerintahan yang modern melalui pemanfaatan teknologi.
“Di era sekarang, keputusan yang baik harus lahir dari data yang akurat. Lampung-1 akan membantu kita melihat kondisi daerah secara lebih cepat, lebih luas, dan lebih presisi sehingga kebijakan yang diambil benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” ujar Mirza.
Selama ini, pemerintah masih banyak bergantung pada survei lapangan untuk memetakan kondisi wilayah. Proses tersebut membutuhkan waktu yang panjang, biaya yang tidak sedikit, serta hanya mampu menjangkau lokasi tertentu. Perubahan kondisi lahan pertanian, kawasan hutan, daerah rawan bencana, kualitas sungai, hingga perkembangan infrastruktur sering kali baru diketahui setelah dilakukan pengecekan langsung.
Akibatnya, banyak kebijakan harus menunggu data terkumpul terlebih dahulu, sementara kondisi di lapangan bisa berubah dengan cepat.
Melalui Lampung-1, berbagai informasi tersebut dapat dipantau secara berkala dari luar angkasa. Data satelit memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran kondisi wilayah secara lebih cepat, luas, dan akurat sehingga perubahan yang terjadi dapat dideteksi lebih dini dan menjadi dasar dalam menyusun kebijakan yang tepat sasaran.
Teknologi hyperspectral yang dibawa Lampung-1 mampu membaca kondisi permukaan bumi secara lebih detail dibandingkan citra satelit biasa. Dipadukan dengan teknologi Artificial Intelligence (AI) di dalam satelit, proses analisis menjadi jauh lebih cepat sehingga berbagai informasi dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengambilan keputusan.
Pemanfaatannya mencakup pemantauan potensi banjir, longsor, dan kebakaran hutan; analisis kesehatan tanaman dan sistem irigasi; pemantauan kualitas sungai, pesisir, dan laut; hingga melihat perkembangan jalan, kawasan industri, pertambangan, serta infrastruktur lainnya.
Data tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk menghitung kepadatan kendaraan, memantau perubahan tutupan lahan, perkembangan tanaman, serta mendeteksi pembangunan baru tanpa harus melakukan studi lapangan yang memakan waktu dan biaya besar.
Bagi petani, data satelit membantu mengetahui kondisi tanaman lebih awal sehingga potensi gagal panen dapat diantisipasi. Bagi pemerintah, data menjadi dasar penyusunan kebijakan yang lebih akurat. Dunia usaha memperoleh informasi yang lebih baik untuk mendukung investasi dan pengembangan industri, sementara kalangan akademisi dan peneliti memperoleh sumber data baru untuk riset dan inovasi.
Selain menghadirkan akses terhadap data satelit, kerja sama ini juga mencakup penguatan kapasitas sumber daya manusia. Pemerintah Provinsi Lampung akan mengirimkan sejumlah SDM untuk mengikuti pelatihan di Tiongkok bersama STAR.VISION guna mempelajari teknologi satelit, pengolahan data hyperspectral, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), serta penerapan data penginderaan jauh dalam mendukung pembangunan daerah. Langkah ini diharapkan mampu membangun kompetensi SDM lokal sehingga pemanfaatan teknologi satelit dapat dilakukan secara optimal dan berkelanjutan.
Peluncuran Lampung-1 menandai dimulainya era baru pembangunan di Lampung yang semakin mengandalkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan data. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa transformasi digital daerah dapat diwujudkan melalui kemitraan strategis dengan berbagai pihak, sehingga manfaat teknologi antariksa dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat tanpa membebani keuangan daerah. (CEO)