lisensi

Sabtu, 05 September 2026, September 05, 2026 WIB
Last Updated 2026-09-06T03:29:15Z
Abu Vulkanik Berbahaya Bagi wargaHukum

Abu Vulkanik Bukan Debu Biasa dan Berbahaya, Warga Disarankan Tetap Di Rumah, Ini Penjelasan Lengkapnya

Advertisement

 


Bandarlampung (Pikiran Lampung)- Sejak Sore hari kemarin, Sabtu (5/9/2026) debu vulkanik yang berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau telah menyebar ke hampir semua wilayah Provinsi Lampung.

 

Bahkan telah menyebar ke provinsi tetangga, seperti Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta dan sebagian Sumatera Bagian Selatan.

 

Masyakat diimbau waspada dan tetap di dalam rumah jika tidak ada hal mendesak untuk bepergian.

 


Sebab, abu vulkanik ini bukan debu biasa dan masuk katagori berbahaya bagi kesehatan.

 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan abu vulkanik yang dapat berdampak pada kesehatan, terutama kelompok rentan seperti lansia, balita, dan masyarakat dengan penyakit tertentu.

 

Analis Bencana BPBD Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat mengatakan, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan selama abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) masih menyelimuti sejumlah wilayah.

 

“Abu vulkanik ini patut kita waspadai. Kurangi aktivitas di luar ruangan. Kita pakai masker saja bisa terpapar mata, mata kita bisa bengkak, bisa alergi kulit sampai gatal-gatal hebat,” kata Wahyu.

 

Menurutnya, paparan abu vulkanik tidak dapat disamakan dengan debu atau abu jalanan biasa. Abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda sehingga diperlukan perlindungan lebih saat masyarakat harus beraktivitas di luar rumah.

 


Wahyu mengaku telah menemukan dua kasus masyarakat yang mengalami mata bengkak akibat paparan abu vulkanik.

 

“Saya sudah menemukan dua kasus mata bengkak karena abu vulkanik. Matanya seperti digigit tawon. Bisa memicu alergi dengan gejala kulit memerah sampai gatal-gatal hebat,” ujarnya.

 

Ia mengatakan, apabila kondisi paparan abu vulkanik tidak mengalami penurunan, pihaknya telah menyampaikan kepada pimpinan agar mempertimbangkan penerapan work from home (WFH) bagi pekerja maupun pelajar.

 

“Jadi kalau eksalasinya tidak menurun, saya sudah menyampaikan ke pimpinan untuk mempertimbangkan WFH untuk pekerja dan pelajar,” jelasnya.

 

Wahyu menegaskan, penggunaan masker saja dinilai belum cukup untuk melindungi tubuh dari paparan abu vulkanik, khususnya ketika masyarakat harus beraktivitas di luar ruangan.

 

“Kalau abu jalanan biasa saja tubuh kita sudah biasa, tapi kalau abu vulkanik ini jenis abu yang berbeda. Terutama bagi kelompok rentan seperti orang dengan penyakit tertentu, lansia, balita,” katanya.

 

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak membawa bayi dan balita keluar rumah selama kondisi abu vulkanik masih berisiko.

 

“Jangan bawa bayi dan balita keluar rumah. Saya khawatir sekali ini orang masih malam mingguan, besok masih CFD,” tegasnya.

 

Menurut Wahyu, masyarakat yang terpaksa harus keluar rumah sebaiknya menggunakan perlindungan tambahan, seperti penutup kepala dan pakaian yang dapat melindungi kulit.

 

“Pakai masker saja enggak cukup, harusnya pakai APD, karena berbahaya untuk kulit. Kita keluar rumah harus pakai topi. Kalau kulit kepalanya alergi juga bisa berbahaya. Ini enggak aman banget,” tutup. (**)