lisensi

Selasa, 22 September 2026, September 22, 2026 WIB
Last Updated 2026-09-23T06:24:06Z
Antrian Solar Timbulkan Korban Jiwa

Antre Solar, Nyawa Jadi Taruhannya: Empat Sopir Meninggal Demi BBM Bersubsidi

Advertisement



Sumatera Selatan (Pikiran Lampung) - Antrean panjang pembelian solar bersubsidi kembali berujung duka. Seorang sopir truk, Danar Nurhuda (26), meninggal dunia saat mengantre solar di SPBU Kilometer 24, Jalan Lintas Timur Sumatera, Desa Pulau Semambu, Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Kamis (17/9/2026) sekitar pukul 15.00 WIB.


Danar diduga meninggal akibat penyakit yang dideritanya saat tengah menunggu giliran mengisi bahan bakar untuk truk yang dikemudikannya.


Berdasarkan keterangan kepolisian, sebelum kejadian Danar sempat turun dari truk dan menanyakan mekanisme pembayaran BBM kepada operator SPBU. Setelah itu, Danar berjalan kembali menuju truknya. Namun, ia kemudian berhenti di sebuah warung di sekitar lokasi dan berbincang dengan sejumlah rekan sesama sopir.


Tidak lama berselang, Danar tiba-tiba mengalami mimisan. Tubuhnya terlihat lemas dan oleng hingga membuat rekan-rekannya segera memberikan pertolongan. Danar kemudian dibopong ke sebuah pondokan yang berada tidak jauh dari SPBU. Namun, saat berada di lokasi tersebut, korban sudah tidak bernapas. Dari mulutnya juga dilaporkan keluar busa dan darah.


Kapolsek Indralaya, Inspektur Satu Rangga Saputra, mengatakan berdasarkan keterangan pihak keluarga, korban diduga memiliki riwayat penyakit tuberkulosis (TBC) yang telah dideritanya sekitar satu tahun.


“Korban sudah menjalani pengobatan selama kurang lebih empat bulan,” kata Rangga berdasarkan keterangan keluarga.


Pihak keluarga juga telah membuat surat pernyataan untuk tidak dilakukan autopsi dan menerima kejadian tersebut.


Empat Sopir Meninggal dalam Lima Bulan


Meninggalnya Danar menambah catatan sejumlah sopir yang meninggal dalam rangkaian peristiwa terkait antrean solar bersubsidi di Sumatera Selatan dalam beberapa bulan terakhir.


Sebelumnya, pada Senin (29/6/2026), seorang sopir truk bernama Amri (50) ditemukan meninggal dunia di bangku kemudi saat mengantre solar bersubsidi di SPBU Limau, Kecamatan Sembawa, Kabupaten Banyuasin.


Sementara pada Selasa (2/6/2026), sopir truk berinisial YF (33) meninggal setelah menjadi korban pengeroyokan di SPBU kawasan Jalan Noerdin Pandji, Sukarami, Palembang.


Peristiwa tersebut bermula dari cekcok saat korban menegur orang yang diduga menyerobot antrean solar. Perselisihan kemudian berujung pada kekerasan yang menyebabkan korban mengalami luka parah hingga meninggal dunia di rumah sakit.


Kasus serupa juga terjadi pada Kamis (2/4/2026) dini hari. Sopir truk berinisial MEP (26) meninggal dunia setelah terlibat perkelahian dengan pengawas SPBU berinisial SI (25) dan seorang petugas keamanan berinisial EPP (22) di kawasan Jalan Kolonel H Burlian, Kilometer 7, Sukarami, Palembang.


Peristiwa tersebut dipicu persoalan penghentian pengisian solar karena operasional SPBU berakhir. Perselisihan kemudian berujung perkelahian hingga korban mengalami luka tusuk dan meninggal dunia.


Antrean Berjam-jam


Panjangnya antrean solar bersubsidi juga membuat para sopir harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar.


Sulaiman (55), sopir truk material yang ditemui saat mengantre solar di SPBU kawasan Jalan Lingkar Selatan, Pemulutan, Ogan Ilir, Senin (21/9/2026), mengatakan kondisi tersebut sudah dirasakan para sopir dalam beberapa tahun terakhir.


Menurutnya, untuk mendapatkan solar bersubsidi, ia bisa menghabiskan waktu hingga tujuh jam dalam sekali antrean. “Biasanya saya antre mulai pukul 08.00 WIB dan baru dapat solar sekitar pukul 15.00 WIB,” ujarnya.


Sulaiman mengaku dalam kondisi normal dirinya dapat mengangkut material hingga lima atau enam rit dalam sehari. Namun, panjangnya antrean solar membuat waktu kerja berkurang.


“Minimal tiga hari sekali kami harus antre untuk mengisi penuh tangki truk,” katanya.


Rentetan kejadian tersebut menunjukkan persoalan antrean solar tidak hanya berdampak pada waktu operasional sopir, tetapi juga dapat memicu persoalan lain di lapangan. Untuk itu, kondisi antrean panjang dan pelayanan BBM bersubsidi menjadi perhatian bagi para pengemudi yang setiap hari bergantung pada ketersediaan bahan bakar untuk menjalankan aktivitas angkutan.(*)