Advertisement
JAKARTA (PIKIRAN LAMPUNG) - Perjalanan bersejarah kapal induk asal Italia menuju Indonesia kian mendekati garis akhir. Kapal yang kelak akan berganti nama menjadi KRI Gadjah Mada ini telah sukses menaklukkan kawasan paling rawan di dunia: Laut Merah dan Teluk Aden, berlayar aman di bawah pengawalan ketat kapal perang pengawal milik Angkatan Laut Italia.
Berangkat dari Italia sejak 24 Agustus 2026, kapal berbobot belasan ribu ton dan panjang 180,2 meter ini menyempatkan singgah di Safaga, Mesir, serta perairan Arab Saudi sebelum mengarungi Laut Arab dengan kecepatan 16 knot. Kini, persinggahan di Kolombo, Sri Lanka menjadi titik transit terakhir guna mengisi ulang bahan bakar dan perbekalan, sebelum menembus bagian selatan Samudra Hindia.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali memastikan seluruh perjalanan berjalan tepat waktu dan tanpa kendala.
“Garibaldi sudah berhasil melewati area kritis Laut Merah dengan selamat. Sebelum masuk ke wilayah perairan Indonesia, kapal akan singgah dulu di Kolombo untuk keperluan logistik,” ujarnya usai menghadiri Seminar Hiu Kencana di Jakarta, Rabu (9/9).
Rute kedatangan yang dipilih pun istimewa: bukan lewat Selat Malaka, melainkan melintasi Selat Sunda — gerbang masuk yang membawanya langsung menyentuh perairan barat Nusantara.
Dijadwalkan tiba di wilayah kedaulatan Indonesia pada 17 September 2026, kapal tak akan berlayar sendirian. Begitu memasuki batas perairan nasional, dua kapal perang pengawal TNI AL bersama pesawat Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) akan menjemput dan mengawal kedatangannya — sebuah skema penyambutan khusus yang telah disiapkan matang.
Puncak momen bersejarah ini akan digelar pada 25 September 2026, ketika Presiden Prabowo Subianto sendiri memimpin langsung upacara pengukuhan nama resminya: KRI Gadjah Mada. Nama ini bukan sekadar ganti papan nama, melainkan tanda lahirnya kekuatan kapal induk pertama di jajaran TNI Angkatan Laut, satu babak baru bagi kedaulatan maritim Indonesia. (*)