lisensi

Rabu, 30 September 2026, September 30, 2026 WIB
Last Updated 2026-10-01T00:59:12Z
Tragedi Kanjuruhan

Menolak Lupa: 1 Oktober di Malang, Antara Kesaktian Pancasila dan Luka Kanjuruhan

Advertisement

 


Malang (Pikiran Lampung) - Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, 1 Oktober adalah Hari Kesaktian Pancasila. Namun bagi warga Malang, tanggal itu menyimpan cerita lain yang jauh lebih sunyi dan menyakitkan.


Ada nama-nama yang tetap hidup dalam ingatan. Ada keluarga yang setiap tahun kembali mengingat malam ketika orang-orang terkasih tak pernah pulang. Dan ada Stadion Kanjuruhan yang menjadi saksi sebuah peristiwa kelam dalam sejarah sepak bola Indonesia.


Empat tahun telah berlalu sejak malam 1 Oktober 2022. Namun waktu tidak serta-merta menghapus luka.


Tragedi Kanjuruhan menewaskan 135 orang setelah pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya berakhir ricuh. Ratusan lainnya mengalami luka. Peristiwa itu meninggalkan duka panjang, bukan hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi masyarakat Malang dan dunia sepak bola Indonesia.


Hari ini, 1 Oktober 2026, ingatan itu kembali hadir.


Sehari sebelum peringatan empat tahun tragedi, warga dari berbagai daerah mulai mendatangi kawasan Stadion Kanjuruhan. Mereka datang ke Gate 13, monumen dan sejumlah titik yang menjadi bagian dari sejarah tragedi tersebut. Sebagian berhenti di depan daftar nama korban. Sebagian lainnya meraba relief pada monumen, seolah ingin menyentuh kembali kenangan tentang mereka yang telah pergi.


Tidak ada lagi sorak puluhan ribu suporter seperti malam pertandingan itu.


Yang tersisa adalah nama.


Nama anak yang pernah berangkat menonton sepak bola bersama teman-temannya. Nama kakak yang tak kembali ke rumah. Nama adik yang semestinya masih tumbuh bersama keluarganya. Nama suami, istri, saudara dan sahabat yang kemudian hanya bisa dikenang melalui foto dan cerita.


Bagi keluarga korban, Kanjuruhan bukan sekadar stadion.


Ia adalah tempat yang menyimpan kenangan terakhir tentang orang-orang yang mereka cintai.


Karena itu, 1 Oktober bagi masyarakat Malang memiliki makna yang berbeda. Di satu sisi, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila sebagai momentum untuk mengenang perjalanan sejarah bangsa sekaligus meneguhkan nilai-nilai Pancasila.


Di sisi lain, masyarakat Malang mengenang tragedi kemanusiaan yang terjadi pada tanggal yang sama.


Dua peristiwa itu bertemu pada satu nilai yang paling mendasar: kemanusiaan.


Pancasila tidak hanya berbicara tentang simbol dan sejarah. Nilai-nilainya juga berbicara tentang bagaimana manusia diperlakukan, bagaimana keselamatan dijaga, bagaimana kehidupan dihormati, serta bagaimana sebuah bangsa belajar dari peristiwa yang pernah terjadi.


Tragedi Kanjuruhan menjadi pengingat bahwa keselamatan manusia harus ditempatkan di atas segala kepentingan.


Sepak bola semestinya menjadi ruang kegembiraan. Stadion seharusnya menjadi tempat orang berkumpul, bersorak dan pulang membawa cerita tentang pertandingan. Tetapi malam itu, banyak keluarga justru menerima kabar yang tidak pernah mereka bayangkan.


Dan sejak saat itu, 1 Oktober berubah menjadi tanggal yang memiliki dua wajah bagi Malang.


Ada peringatan tentang sejarah bangsa.


Ada pula kenangan tentang mereka yang kehilangan kehidupan.


Setiap tahun, keluarga korban dan masyarakat datang untuk berdoa, menabur bunga dan mengenang para korban. Dalam peringatan sebelumnya, doa bersama juga menjadi ruang untuk memastikan tragedi tersebut tidak dilupakan begitu saja.


Sebab melupakan bukanlah jalan keluar.


Mengenang bukan berarti terus hidup dalam kesedihan. Mengenang adalah cara untuk memastikan bahwa sebuah peristiwa tidak berhenti sebagai angka dalam catatan sejarah.


135 bukan sekadar angka.


Di balik angka itu ada 135 kehidupan, 135 keluarga dan begitu banyak cerita yang terputus pada malam 1 Oktober 2022.


Empat tahun kemudian, Malang kembali memasuki 1 Oktober.


Bendera Merah Putih berkibar. Upacara Hari Kesaktian Pancasila digelar. Namun di sudut lain, bunga dan doa kembali diletakkan untuk mereka yang namanya terukir di Monumen Tragedi Kanjuruhan.


Dua momentum itu seakan mengingatkan pesan yang sama: bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dipelajari.


Dan di tengah peringatan Hari Kesaktian Pancasila, luka Kanjuruhan menjadi pengingat bahwa nilai kemanusiaan harus selalu dijaga.


Sebab bagi keluarga 135 korban, 1 Oktober tidak pernah benar-benar berlalu.


Tanggal itu akan selalu menjadi hari ketika mereka kehilangan orang yang dicintai.


Dan bagi Malang, Kanjuruhan akan selalu menjadi pengingat bahwa di balik sebuah pertandingan, sebuah kerumunan, dan sebuah peristiwa, ada manusia yang harus pulang dengan selamat.(*)