lisensi

Kamis, 17 September 2026, September 17, 2026 WIB
Last Updated 2026-09-18T06:54:31Z
NasionalPencarian Jurnalis Hilang Kontak Dihentikan

Pencarian Lima Jurnalis Hilang Kontak Resmi Dihentikan, Pemantauan di Selat Sunda Tetap Dilakukan

Advertisement



Jakarta (Pikiran Lampung) – Operasi pencarian terhadap delapan orang yang hilang bersama kapal Arupadhatu I di perairan Selat Sunda resmi dihentikan setelah berlangsung selama 10 hari. Meski operasi SAR gabungan ditutup, pemantauan terhadap kemungkinan keberadaan kapal dan para korban tetap dilakukan.


Delapan orang tersebut terdiri atas lima jurnalis, dua anak buah kapal (ABK), dan seorang guide yang sebelumnya dilaporkan hilang saat hendak meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK).


Penghentian operasi disampaikan Gubernur Banten Andra Soni di Posko Utama SAR Gabungan, Dermaga Marina Carita, Kabupaten Pandeglang, Kamis (17/9/2026). Keputusan tersebut diambil setelah tim SAR gabungan melakukan pencarian sejak hari pertama hingga masa perpanjangan selama tiga hari berakhir.


"Tadi disampaikan bahwa sejak pelaksanaan hari pertama operasi gabungan pencarian dan pertolongan sampai dengan hari ke-10, setelah perpanjangan tiga hari, secara umum tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun penumpang atau awak yang berada di kapal tersebut," kata Andra.


Selama proses pencarian, tim SAR menemukan 13 objek di sejumlah wilayah perairan. Objek tersebut antara lain life jacket, terpal, helm hingga galon. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan dan konfirmasi oleh Polairud, seluruh temuan tersebut dinyatakan tidak berkaitan dengan kapal Arupadhatu I.


"Bahwa kemudian ada beberapa temuan material atau objek dicatat ada 13 objek yang ditemukan selama operasi, dan itu sudah dikonfirmasi oleh Polairud. Setelah dicek dan diteliti, dinyatakan bahwa saat ini temuan tersebut tidak terhubung dengan Arupadhatu I," ujar Andra.


Menurut Andra, penghentian dilakukan setelah operasi dinilai tidak lagi efektif untuk dilanjutkan. Namun, kondisi tersebut tidak berarti informasi mengenai keberadaan kapal dan delapan orang di dalamnya tidak lagi ditindaklanjuti.


Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Al Amrad mengatakan, pemantauan tetap dilakukan melalui berbagai unsur, termasuk sistem pemantauan pelayaran, Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal), Polairud serta kapal-kapal yang melintas di perairan Selat Sunda.


"Operasi SAR ini tidak berhenti sampai di sini, setelah pencarian ini kita hentikan, kita lakukan dengan pemapelan melalui SROP VTS, termasuk Lanal, termasuk dari Polairud yang melakukan patroli, yang melakukan pencarian, termasuk aktivitas kapal yang melintas di Selat Sunda yang akan menjadi ujung tombak apabila menemukan informasi lebih lanjut," kata Al Amrad.


Ia menegaskan, operasi SAR dapat kembali dibuka apabila terdapat informasi atau tanda-tanda baru yang mengarah pada keberadaan Arupadhatu I maupun para penumpangnya.


"Dan apabila itu ada tanda-tanda, operasi SAR akan dinyatakan dibuka kembali," imbuhnya.


Pencarian Menjangkau Ribuan Mil Laut


Pada hari terakhir operasi, tim SAR gabungan sebelumnya memperluas penyisiran dari perairan Teluk Semangka hingga kawasan Gunung Anak Krakatau. Unsur SAR Lampung turut melakukan pencarian di sejumlah sektor yang telah ditetapkan dalam rencana operasi.


KN SAR Basudewa dikerahkan untuk menyisir Sektor F dengan luas sekitar 484 mil laut persegi, meliputi perairan Teluk Semangka, Teluk Kiluan hingga pesisir Tampang.


Sementara Sektor G dengan luas sekitar 316 mil laut persegi disisir RIB 02 Lampung bersama unsur TNI AL, termasuk KRI Lepu dan KAL Pohawang. Wilayah tersebut mencakup Pulau Legundi, Pulau Sebesi, Pulau Sebuku hingga sekitar Gunung Anak Krakatau.


Tim SAR sebelumnya mengarahkan pencarian pada kemungkinan pergerakan objek akibat dinamika arus laut di Selat Sunda.


Secara keseluruhan, operasi pencarian melibatkan 523 personel dengan cakupan wilayah mencapai sekitar 8.509 mil laut persegi. Penyisiran dilakukan melalui jalur laut, darat maupun udara di berbagai sektor antara perairan Bengkulu hingga Banten.


Pemprov Banten Dampingi Keluarga


Setelah operasi SAR resmi dihentikan, Pemerintah Provinsi Banten memastikan pendampingan terhadap keluarga delapan korban tetap dilakukan. Gubernur Banten Andra Soni menyatakan pemerintah daerah akan menjaga komunikasi dengan keluarga dan memberikan pendampingan selama proses penanganan kasus tersebut.


Pemantauan di perairan Selat Sunda juga tetap menjadi bagian dari upaya memperoleh informasi apabila terdapat petunjuk baru mengenai kapal Arupadhatu I.


Dengan demikian, meskipun operasi pencarian dalam skema SAR resmi telah ditutup setelah 10 hari, peluang dibukanya kembali operasi tetap terbuka apabila ditemukan informasi baru yang dapat mengarahkan tim kepada keberadaan kapal maupun delapan orang yang hilang.(*)