lisensi

Senin, 28 September 2026, September 28, 2026 WIB
Last Updated 2026-09-28T08:37:13Z
UIN RIL

Rektor UIN RIL Sambut Jakarta Understanding, Dorong Peran Imam dan Masjid dalam Perdamaian Dunia

Advertisement

 


Jakarta (Pikiran Lampung) — Rektor UIN Raden Intan Lampung Prof. H. Wan Jamaluddin Z., M.Ag., Ph.D. menyambut positif lahirnya Jakarta Understanding on Mosque Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace sebagai salah satu hasil penting International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang berlangsung di Jakarta.


Kesepahaman tersebut menjadi komitmen bersama para imam besar dari berbagai belahan dunia dalam memperkuat harmoni, diplomasi keagamaan, dan perdamaian global.


Menurut Rektor, lahirnya Jakarta Understanding menunjukkan bahwa masjid dan para imam memiliki peran yang semakin strategis. Tidak hanya membimbing kehidupan keagamaan umat, imam juga dapat mengambil peran dalam membangun harmoni sosial, memperkuat moderasi beragama, serta menghadirkan nilai-nilai Islam yang membawa kedamaian dan kemaslahatan bagi masyarakat dunia.


“Jakarta Understanding membawa pesan bahwa agama harus menjadi kekuatan yang mempersatukan dan menghadirkan kedamaian. Imam dan masjid memiliki posisi strategis dalam membangun masyarakat yang moderat, toleran, berkeadilan, serta mampu hidup berdampingan di tengah berbagai perbedaan. Semangat ini juga sejalan dengan peran perguruan tinggi keagamaan Islam dalam mengembangkan keilmuan yang berdampak bagi kemanusiaan dan peradaban,” ujar Rektor, Minggu (27/9/2026) malam.


Rektor menilai gagasan diplomasi keagamaan yang menjadi salah satu perhatian utama IGIC 2026 semakin relevan di tengah berbagai tantangan global. Dialog lintas agama dan lintas budaya, menurutnya, perlu terus diperkuat sebagai jalan untuk membangun saling pengertian, mencegah konflik, serta menangkal ekstremisme, kekerasan, hoaks, dan ujaran kebencian.


“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk ikut menerjemahkan semangat tersebut melalui pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan penguatan jejaring internasional. UIN Raden Intan Lampung harus terus mengambil bagian dalam menghadirkan Islam yang moderat, inklusif, berwawasan lingkungan, serta berorientasi pada perdamaian dan kemanusiaan,” tambahnya.


Rektor juga menyampaikan apresiasi atas peran Menteri Agama RI sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. KH. Nasaruddin Umar, dalam mendorong terselenggaranya IGIC 2026 dan memperkuat diplomasi keagamaan Indonesia di tingkat global.


Menurut Prof. Wan, gagasan Menag yang menempatkan imam sebagai duta perdamaian dan masjid sebagai titik temu (meeting point) berbagai kelompok merupakan langkah strategis dalam menghadirkan agama sebagai kekuatan yang menyatukan.


Dari Jakarta untuk Perdamaian Dunia


International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 menghasilkan komitmen bersama bertajuk Jakarta Understanding on Mosque Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace. Kesepahaman tersebut membawa pesan bahwa perdamaian merupakan tanggung jawab bersama umat manusia sekaligus menegaskan pentingnya masjid dan para imam dalam membangun harmoni, memperkuat persaudaraan, dan mendorong perdamaian dunia.


Melalui Jakarta Understanding, para imam besar dari berbagai belahan dunia menegaskan bahwa masjid tidak semata-mata menjadi tempat pelaksanaan ibadah, tetapi juga memiliki posisi strategis sebagai ruang yang mampu menjembatani perbedaan.


Diplomasi keagamaan juga dipandang dapat memperkuat diplomasi antarbangsa untuk membangun masa depan dunia yang dilandasi nilai kemanusiaan dan persaudaraan, melampaui batas negara, budaya, dan keyakinan.


Kesepahaman tersebut memuat tujuh seruan penting kepada para imam masjid di seluruh dunia, yaitu:


1. Menjalankan peran strategis, bukan hanya sebagai pemimpin ibadah, tetapi juga sebagai mediator konflik, pemersatu keberagaman, dan penuntun moral masyarakat. Imam masjid juga didorong untuk menjadikan lembaga keagamaan sebagai ruang komunitas yang terbuka, inklusif, serta berorientasi pada kemanusiaan dan peradaban.


2. Menjadi agen penggerak perdamaian dunia yang berkomitmen melindungi martabat kemanusiaan tanpa memandang latar belakang etnis, agama, bangsa, maupun gender. Imam masjid juga didorong untuk memelopori pendidikan karakter, menanamkan nilai moderasi, toleransi, cinta, kasih sayang, menghormati perbedaan, serta memperkuat literasi digital.


3. Memperjuangkan keadilan sosial dan perlindungan hak-hak kemanusiaan dengan menciptakan lingkungan yang aman, adil, dan ramah terhadap anak, perempuan, penyandang disabilitas, minoritas, serta kelompok rentan lainnya, sekaligus mendukung ketahanan keluarga.


4. Menggerakkan diplomasi keagamaan dan dialog lintas iman untuk mencegah konflik, membangun rasa saling percaya, dan memperkuat rekonsiliasi global. Imam masjid juga didorong untuk berada di garis terdepan dalam menolak segala bentuk ekstremisme, kekerasan, penyalahgunaan agama, hoaks, dan ujaran kebencian.


5. Membangun kesadaran ekoteologis dengan menjaga keseimbangan alam, menghentikan kerusakan lingkungan, serta mendorong masjid dan umat beragama menjadi pelopor keberlanjutan bumi bagi generasi mendatang.


6. Mendorong kolaborasi berskala global dengan lembaga internasional, pemerintah, dan masyarakat sipil demi mewujudkan dunia yang adil, bermartabat, dan damai bagi seluruh umat manusia.


7. Menegaskan dukungan terhadap hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri, melindungi warga sipil, menegakkan hukum internasional, serta mewujudkan kemerdekaan, keadilan, perdamaian, dan martabat yang berkelanjutan bagi Palestina.(Kesya)