Advertisement
Jakarta (Pikiran Lampung)- Dua tahun pemeritahan
Prabowo-Gibran, kondisi ekonomi Indonesia dibayangi kondisi yang kurang
mengembirakan.
Utamanya, jika dilihat dari nilai tukar mata uang Rupah
terhadap Dollar Amerika Serikat yang ‘kedododoran’ dalam sepekan ini.
Terbaru, Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika
Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (21/10/2026), setelah sempat menguat
pada perdagangan sebelumnya, sebagaimana dikutif dari laman CNBC Indonesia.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp18.000/US$, melemah 0,11% atau 20 poin dibandingkan penutupan Selasa (20/10/2026) di posisi Rp17.980/US$.
Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di kisaran
Rp17.964-Rp18.010/US$ sebelum akhirnya menyentuh Rp18.000/US$ pada penutupan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,04% ke posisi 101,744.
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada keputusan
Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level
5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20-21 Oktober 2026.
Keputusan tersebut berbeda dari ekspektasi mayoritas
responden dalam polling CNBC Indonesia Research.
Dari 13 institusi
keuangan yang disurvei, sebanyak 10 responden sebelumnya memperkirakan BI akan
menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,00%, sementara tiga
lainnya memproyeksikan suku bunga tetap.
Meski menahan BI Rate, bank sentral memutuskan menaikkan
suku bunga Deposit Facility menjadi 5,00%, sedangkan suku bunga Lending
Facility tetap dipertahankan di level 6,50%.
Gubernur BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa kebijakan
tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di
tengah tekanan eksternal, sekaligus mempertahankan stabilitas ekonomi dan
inflasi domestik.
Tekanan terhadap rupiah masih menjadi perhatian bank
sentral.
BI mencatat nilai
tukar rupiah pada 20 Oktober 2026 berada di level Rp17.985/US$, melemah 0,61%
secara point-to-point dibandingkan akhir September 2026.
Menurut Destry, pelemahan tersebut dipengaruhi eskalasi
konflik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) yang
semakin ketat, serta sentimen di pasar saham.
Menghadapi kondisi tersebut, BI terus memperkuat kebijakan
untuk menarik aliran modal asing sekaligus memperdalam pasar uang dan pasar
valuta asing domestik. Langkah ini dilakukan melalui insentif untuk menekan
biaya lindung nilai (hedging), pengembangan transaksi mata uang lokal (local
currency transaction/LCT), serta optimalisasi instrumen swap dan Domestic
Non-Deliverable Forward (DNDF).
Sejak Juni hingga 20 Oktober 2026, kebijakan insentif
tersebut telah mendorong aliran modal masuk (capital inflow) sebesar US$9,9
miliar.
Dengan berbagai langkah tersebut, BI memperkirakan nilai
tukar rupiah dapat tetap stabil meskipun tekanan eksternal masih membayangi.
"Ke depan, BI memperkirakan rupiah stabil didukung
komitmen BI, yield menarik, inflasi dan prospek ekonomi baik," tegas
Destry dalam konferensi pers RDG BI, Rabu (21/10/2026). (**)
