lisensi

Minggu, 25 Oktober 2026, Oktober 25, 2026 WIB
Last Updated 2026-10-26T06:44:19Z
IteraPendidikan

Itera Gelar Konferensi Internasional EPIC 2026, Hadirkan Akademisi dan Praktisi Industri dari Berbagai Negara

Advertisement



Bandar Lampung (Pikiran Lampung) - Institut Teknologi Sumatera (Itera) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) memperkuat kolaborasi riset internasional melalui penyelenggaraan The 5th Engineering Physics International Conference (EPIC 2026). Konferensi yang digelar secara hibrida di Holiday Inn Hotel, Bandar Lampung, Sabtu (24/10/2026), ini menjadi forum pertukaran gagasan untuk menjawab tantangan teknologi berkelanjutan, transisi energi, material maju, dan ketahanan iklim.


Mengusung tema “Innovative Engineering Physics for Sustainable Technology and Resilient Future”, konferensi tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, serta praktisi industri dari berbagai negara untuk berbagi hasil penelitian dan mengembangkan peluang kolaborasi lintas disiplin.


Dekan Fakultas Teknologi Industri (FTI) Itera, Hafiz Budi Firmansyah, S.Kom., M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa EPIC 2026 diikuti 83 presenter, terdiri atas 44 presenter yang hadir secara langsung dan 39 presenter secara daring. Mereka berasal dari 18 institusi dalam dan luar negeri.


Sejumlah institusi yang berpartisipasi di antaranya An Giang University, Osaka University, The Robert Gordon University, Arizona State University, Universitas Airlangga, Universitas Gadjah Mada (UGM), ITB, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Itera.


Rektor Itera, Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si., dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin untuk merespons tantangan global yang terus berkembang. Menurutnya, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu diarahkan agar mampu menghasilkan solusi yang aplikatif dan memberikan manfaat bagi masyarakat.


Penyelenggaraan EPIC 2026 juga dinilai sejalan dengan agenda nasional riset dan pendidikan tinggi melalui konsep Saintek Berdampak. Pendekatan tersebut mendorong hasil penelitian dan inovasi teknologi agar dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat maupun industri.


Konferensi ini turut menghadirkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Brian Yuliarto, yang memberikan arahan secara daring. Hadir pula Ketua Badan Kerja Sama Teknik Fisika (BKSTF), Ir. Estiyanti Ekawati, M.T., Ph.D., bersama perwakilan BKSTF dari ITB, UGM, dan Universitas Multimedia Nusantara (UMN).


Pada sesi utama, EPIC 2026 menghadirkan tiga pembicara yang membahas penerapan teknologi dari perspektif akademik dan industri. Prof. Yoshitada Morikawa dari Department of Precision Engineering Osaka University memaparkan pemodelan antarmuka skala nano untuk mendukung pengembangan teknologi berkelanjutan.


Pemodelan berbasis simulasi komputasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan efisiensi reaksi katalitik, termasuk proses daur ulang emisi karbon dioksida (CO2) menjadi metanol. Pengembangan teknologi ini menjadi salah satu pendekatan dalam mencari solusi terhadap tantangan energi dan lingkungan.


Pembicara berikutnya, Director PT SKF Lubrication Indonesia, Anis Lutfi, memaparkan penerapan sistem pelumasan otomatis cerdas yang terintegrasi dengan pemantauan kondisi dan getaran mesin. Berdasarkan pemaparan dalam konferensi, penerapan sistem tersebut pada mesin berat industri berpotensi meningkatkan ketersediaan mesin hingga 85,7 persen, menghemat biaya operasional hingga Rp19,28 miliar, sekaligus menekan emisi karbon.


Sementara itu, Ir. R. Sugeng Joko Sarwono, M.T., Ph.D., dari Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi ITB turut memaparkan inovasi teknologi dalam sesi pembicara utama. Materi tersebut melengkapi pembahasan mengenai peran riset dan pengembangan teknologi dalam mendorong penerapan inovasi di berbagai sektor.


Selain sesi utama, konferensi juga menghadirkan sejumlah pembicara undangan (invited speakers) dari perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri. Mereka berasal dari Osaka University di Jepang, Princeton Plasma Physics Laboratory di Amerika Serikat, An Giang University di Vietnam, Universiti Teknologi Malaysia, Universitas Airlangga, serta PT Yokogawa Indonesia.


Melalui EPIC 2026, Itera dan ITB diharapkan dapat memperluas jejaring akademik internasional, memperkuat pertukaran pengetahuan, serta mendorong riset teknik fisika yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi upaya memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.(salsabila)