Advertisement
Bandar Lampung (Pikiran Lampung) - Perubahan cuaca mulai dirasakan di sejumlah wilayah Provinsi Lampung seiring memasuki masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan. Kondisi tersebut ditandai dengan meningkatnya intensitas hujan, perubahan suhu udara, serta kelembapan lingkungan yang semakin tinggi.
Perubahan kondisi cuaca ini tidak hanya berdampak terhadap aktivitas masyarakat sehari-hari, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan. Lingkungan yang lembap, munculnya genangan air, hingga perubahan kondisi sanitasi dapat meningkatkan risiko penyebaran sejumlah penyakit.
Masyarakat pun diimbau meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan lingkungan, menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), serta mengenali berbagai penyakit yang kerap menjadi perhatian selama musim peralihan.
Berikut sembilan penyakit yang perlu diwaspadai saat memasuki musim hujan:
1. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan Influenza
ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan dan dapat disebabkan oleh virus maupun bakteri. Sementara influenza merupakan penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza.
Perubahan kondisi cuaca, aktivitas di dalam ruangan, serta meningkatnya kontak antarmanusia dapat memengaruhi risiko penularan penyakit tersebut.
Gejala yang perlu diperhatikan antara lain batuk, pilek, demam, menggigil, nyeri otot dan sendi, sakit kepala, serta sakit tenggorokan. Penularan umumnya terjadi melalui percikan atau partikel pernapasan dari orang yang terinfeksi.
2. Batuk dan Pilek (Common Cold)
Batuk dan pilek atau common cold merupakan infeksi saluran pernapasan atas yang umumnya disebabkan oleh berbagai jenis virus, salah satunya rhinovirus.
Perubahan suhu udara dan paparan debu dapat memperburuk ketidaknyamanan pada saluran pernapasan. Penyakit ini biasanya ditandai dengan hidung tersumbat atau berair, bersin-bersin, sakit tenggorokan ringan, batuk, serta tubuh terasa lelah.
Berbeda dengan influenza, gejala common cold umumnya lebih ringan dan jarang disertai demam tinggi.
3. Asma dan Alergi
Kondisi udara yang lembap dapat mendukung pertumbuhan jamur dan tungau debu di lingkungan tertentu. Paparan alergen tersebut berpotensi memicu kekambuhan asma maupun reaksi alergi pada orang yang sensitif.
Gejalanya dapat berupa sesak napas, napas berbunyi atau mengi, dada terasa berat, batuk terutama pada malam dan pagi hari, serta bersin berulang ketika terpapar alergen atau udara dingin.
Penderita asma disarankan menghindari faktor pemicu dan tetap mengikuti pengobatan sesuai anjuran tenaga medis.
4. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit akibat infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi.
Saat musim hujan, genangan air di sekitar rumah berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk apabila tidak dibersihkan.
Gejala DBD meliputi demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot dan tulang, mual, muntah, serta munculnya bintik atau ruam kemerahan pada kulit. Pada kondisi berat, penyakit ini dapat menyebabkan perdarahan dan gangguan sirkulasi darah.
Masyarakat perlu menerapkan gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup tempat penyimpanan air, mendaur ulang barang bekas, serta melakukan berbagai upaya pencegahan gigitan nyamuk.
5. Chikungunya
Selain DBD, penyakit lain yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes adalah chikungunya. Penyakit ini disebabkan oleh virus chikungunya dan dapat menyerang persendian.
Gejala yang sering muncul berupa demam tinggi mendadak, nyeri sendi hebat terutama pada pergelangan tangan, kaki, dan lutut, ruam kulit, sakit kepala, serta tubuh terasa lemah.
Nyeri sendi pada penderita chikungunya terkadang berlangsung cukup lama sehingga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
6. Diare dan Gastroenteritis
Diare dan gastroenteritis dapat terjadi akibat infeksi virus, bakteri, maupun parasit yang masuk melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.
Saat musim hujan, risiko penyakit ini dapat meningkat apabila banjir menyebabkan pencemaran sumber air bersih atau kondisi sanitasi lingkungan memburuk.
Gejala yang umum dialami meliputi buang air besar cair lebih dari tiga kali sehari, kram perut, mual, muntah, dan tubuh terasa lemas. Jika tidak ditangani dengan baik, diare dapat menyebabkan dehidrasi.
Untuk mencegahnya, masyarakat perlu memastikan kebersihan makanan, mengonsumsi air minum yang aman, serta membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun.
7. Tipes (Demam Tifoid)
Tipes atau demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi. Penularannya terjadi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri tersebut.
Kondisi sanitasi yang buruk dan keterbatasan akses terhadap air bersih dapat meningkatkan risiko penularan.
Gejala yang dapat muncul antara lain demam berkepanjangan, sakit kepala, nyeri perut, gangguan buang air besar berupa diare atau sembelit, serta tubuh terasa sangat lemah.
Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan diagnosis dan menentukan pengobatan yang tepat.
8. Penyakit Kulit
Lingkungan yang lembap, pakaian basah, serta kebiasaan tidak segera mengeringkan tubuh setelah terkena hujan dapat meningkatkan risiko sejumlah gangguan kulit.
Salah satunya adalah infeksi jamur yang berkembang pada area kulit yang lembap dan kurang mendapatkan sirkulasi udara.
Keluhan yang sering muncul berupa rasa gatal, kemerahan, ruam, kulit bersisik, hingga pengelupasan. Menjaga kebersihan tubuh, mengganti pakaian basah, dan memastikan kulit tetap kering menjadi langkah penting untuk mencegah gangguan tersebut.
9. Leptospirosis
Leptospirosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Bakteri ini dapat menyebar melalui air atau tanah yang tercemar urine hewan terinfeksi, terutama tikus.
Risiko penularan meningkat saat terjadi banjir atau genangan air yang tercemar, khususnya ketika seseorang memiliki luka pada kulit atau mengalami kontak dengan air tersebut melalui selaput lendir.
Gejala leptospirosis antara lain demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot terutama pada betis dan punggung, serta mata kemerahan. Pada kasus berat, penyakit ini dapat menyebabkan gangguan ginjal, kerusakan hati, hingga perubahan warna kulit dan mata menjadi kekuningan.
Masyarakat diimbau menggunakan alas kaki atau pelindung ketika harus beraktivitas di lingkungan yang tergenang air dan segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala setelah terpapar banjir.
Pentingnya Menjaga Kesehatan Selama Musim Hujan
Memasuki musim hujan, masyarakat perlu meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan diri dan lingkungan. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan membersihkan saluran air, menghilangkan genangan, menjaga kebersihan tempat tinggal, serta memastikan makanan dan air minum yang dikonsumsi aman.
Selain itu, masyarakat juga perlu membiasakan pola hidup bersih dan sehat, mencuci tangan menggunakan sabun, menggunakan pakaian yang sesuai dengan kondisi cuaca, serta melindungi diri dari gigitan nyamuk.
Tidak kalah penting, masyarakat diharapkan tidak mengabaikan gejala penyakit yang muncul. Apabila mengalami demam tinggi, sesak napas, diare berkepanjangan, nyeri hebat, atau tanda-tanda gangguan kesehatan lainnya, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Peralihan musim merupakan kondisi yang perlu disikapi dengan kesiapsiagaan, bukan kepanikan. Dengan menjaga kebersihan lingkungan, menerapkan pola hidup sehat, dan melakukan penanganan medis sejak dini, risiko berbagai penyakit selama musim hujan dapat ditekan.(*)
